Pengalaman Mahasiswa DPBJ UPI Mengikuti Kampus Mengajar Angkatan 2 (Annisativa Novianti)

Bandung, DPBJ-UPI.

Cerita Mahasiswa.

Seperti yang kita semua ketahui bahwa program kampus mengajar sudah memasuki program ke-2, ada 2 mahasiswa dari Departemen Pendidikan Bahasa Jepang yang baru saja menyelesaikan kegiatan tersebut.

Agar dapat memberi gambaran bagaimana program tersebut sehingga para mahasiswa DPBJ dapat memutuskan untuk ikut atau tidak, kami akan tampilkan cerita dari keduanya.

Kali ini Annisativa yang akan menceritakan bagaimana pengalamannya mengikuti program kampus mengajar di SD yang telah ditunjuk. Yuk disimak.

Pengalaman berharga dari Kampus Mengajar Angkatan 2

Nama: Annisativa Novianti (1903361)

Email: Annisativa@upi.edu

Saya baru saja menyelesaikan salah satu program inovatif milik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia bernama Kampus Mengajar. Kampus Mengajar sendiri adalah salah satu program dari pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek sejak tahun 2020 yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i untuk belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan. Di program Kampus Mengajar, mahasiswa akan ditempatkan di 3.400 Sekolah Dasar dan 375 Sekolah Menengah Pertama di seluruh Indonesia dengan misi membantu peningkatan literasi dan numerasi dalam bentuk proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah tersebut. Sekolah yang menjadi sasaran utama dalam program Kampus Mengajar ini adalah sekolah yang memiliki Akreditasi B dan C. Program Kampus Mengajar ini dilakukan secara daring maupun luring sesuai dengan kondisi dan kebijakan sekolah masing-masing.

Pada program ini, mahasiswa yang terlibat memiliki tanggung jawab dalam membantu pihak sekolah pada proses mengajar, membantu adaptasi teknologi, dan membantu administrasi. Hasil dari program ini yaitu sebagai penanaman rasa empati dan kepekaan sosial pada diri mahasiswa terhadap permasalahan kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya, kemudian mengasah keterampilan berpikir dalam bekerja bersama lintas bidang ilmu, mengembangkan wawasan, karakter, soft skills, serta  meningkatkan peran dan kontribusi nyata perguruan tinggi dan mahasiswa dalam pembangunan pendidikan nasional.

Dengan dukungan LPDP dan Kementerian Keuangan, program Kampus Mengajar menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran terutama di masa pandemi Covid-19, khususnya sekolah yang berada di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) atau daerah yang memiliki karakteristik kurang lengkapnya sarana dan prasarana infrastruktur. Sedangkan keuntungan program Kampus Mengajar bagi para mahasiswa yang mengikutnya, antara lain diakui konversi hasil belajar sampai dengan 20 SKS per semester serta adanya pemotongan UKT hingga 2,4 juta dan mendapatkan uang saku 1.2 juta per bulan. Dalam program ini mahasiswa juga dapat membantu dalam mensosialisasikan produk pembelajaran Kemendikbudristek meliputi kurikulum darurat, modul pembelajaran, AKSI, portal rumah belajar, dan lain-lain. Tak ketinggalan, mahasiswa juga dapat melakukan sosialisasi dan improvisasi materi promosi profil pelajar Pancasila sekaligus menjadi duta edukasi perubahan perilaku di masa pandemi.

Persiapan dan Pelaksanaan Program Kampus Mengajar Angkatan 2

Pada awalnya saya mengetahui program tersebut melalui pemberitahuan dosen di salah satu grup Whatsapp kelas. Kemudian saya langsung melihat lebih jauh pada laman resmi MBKM, yaitu di https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/ dan melihat program-program apa saja yang disediakan. Selain Kampus Mengajar, dalam program ini juga terdapat Pertukaran Pelajar, Magang, Studi Independen, dan sebagainya. Alasan pribadi saya memilih Kampus Mengajar adalah bahwa keinginan saya untuk melihat bagaimana realitas pendidikan Indonesia di daerah tertinggal cenderung lebih besar. Selain itu, pengalaman dan ilmu yang didapatkan dari program ini akan sangat bermanfaat ke depannya, mengingat saat ini saya berada di jurusan pendidikan. Syarat-syarat untuk mendaftar program Kampus Mengajar ini terbilang cukup mudah, yaitu dengan melampirkan transkrip nilai, surat keterangan sehat dari Puskesmas/RS, surat rekomendasi dari perguruan tinggi asal, surat persetujuan orang tua/wali untuk ditempatkan di mana saja, serta surat pakta integritas yang masing-masing diunggah pada laman situs web resmi Kampus Merdeka.

Semua informasi sebelum memulai program Kampus Mengajar ini saya dapatkan melalui laman resmi MBKM. Kemudian mahasiswa juga perlu rutin memeriksa akun Instagram resmi @Kampusmengajar untuk pembaruan informasi. Pada saat saya akan memulai kegiatan Kampus Mengajar, saya bergabung terlebih dulu pada grup Telegram peserta. Pelaksanaan program Kampus Mengajar dimulai dari kegiatan persiapan, seperti pembekalan, penerjunan, observasi dan perencanaan program. Pertama-tama, mahasiswa mendapatkan pembekalan secara virtual melalui aplikasi Zoom atau live-stream Youtube dari berbagai narasumber terpercaya dan berpengalaman dalam bidang pendidikan. Materi pembekalan yang berlangsung selama satu minggu tersebut meliputi strategi kreatif luring dan daring, inovasi pembelajaran, serta tahap perkembangan anak SD dan SMP. Lalu pada tanggal 1 Agustus 2021, seluruh mahasiswa diterjunkan langsung dengan bimbingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) masing-masing. Kegiatan awal dari program ini adalah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah Dasar tempat pelaksanaan kegiatan. Dalam hal ini, DPL berperan sebagai pembimbing dan pihak yang akan memberi penilaian terhadap kinerja mahasiswa selama program berlangsung.

Kegiatan selanjutnya yaitu para mahasiswa melakukan observasi sekolah yang meliputi lingkungan sekolah berupa fisik, lingkungan sosial, iklim dan akademik; lalu administrasi sekolah serta organisasi sekolah; observasi proses pembelajaran yang meliputi analisis perangkat pembelajaran seperti kurikulum, RPP, Silabus dan sebagainya; kemudian metode pembelajaran yang dilakukan serta media dan sumber pembelajaran administrasi sekolah dan guru. Setelah melakukan observasi, kegiatan selanjutnya yaitu penyusunan rancangan kegiatan dengan melakukan konsultasi rancangan kegiatan kepada guru pembimbing dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Mahasiswa peserta program Kampus Mengajar juga diwajibkan untuk membuat laporan awal, laporan mingguan, dan laporan akhir sebagai bentuk bukti pelaksanaan program. Selain tiga laporan tersebut, setiap hari mahasiswa juga perlu mengisi logbook pada laman MBKM yang merupakan rekapitulasi dari kegiatan yang dilakukan pada hari itu. Kegiatan tersebut harus berupa aktivitas positif dan inovatif bagi murid-murid serta berdampak pada progres di bidang pendidikan.

 Saya sendiri ditugaskan di SDN Sukawening yang berlokasi di Desa Sukawening, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Kelompok saya terdiri dari enam mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di semester lima hingga semester tujuh. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan, sekolah tersebut memiliki lokasi yang jauh dari perkotaan, jalanan menuju sekolah tersebut sudah cukup bagus dan beraspal. Berdasarkan hasil konfirmasi kepada pihak sekolah, diketahui bahwa sekolah yang seharusnya menjadi lokasi penugasan mahasiswa telah bermerger, sehingga mahasiswa melakukan penugasan di sekolah hasil merger tersebut, selain itu juga sekolah tersebut saat ini telah menyandang Akreditasi B dan berstatus sebagai sekolah negeri. Kurikulum yang diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari adalah kurikulum 2013 dengan jumlah siswa sebanyak 321 siswa yang terbagi dalam dua rombongan belajar (rombel). Di sekolah tersebut, terdapat 11 ruang kelas, dua kantor, dua lapangan upacara, dan empat toilet siswa dan 2 toilet guru yang masih berfungsi dengan baik. Setelah melakukan observasi, kelompok saya sepakat untuk menciptakan program benah perpustakaan, di samping fokus utama kami untuk mengajar murid-murid. Kegiatan benah perpustakaan ini kami cetuskan mengingat bangunan perpustakaan SDN Sukawening sudah lama tidak digunakan sehingga membutuhkan pembenahan, baik secara teknis maupun administratif. Kami juga berharap agar program ini dapat menjadi langkah awal dalam mengembangkan budaya literasi sejak dini di kalangan anak sekolah dasar khususnya di SDN Sukawening.

Kesan dan Pesan selama Program Kampus Mengajar Angkatan 2

Pada pelaksaan program yang dilakukan, banyak sekali pengalaman dan ilmu baru yang saya dapatkan. Pandangan saya terhadap pendidikan di Indonesia juga bertambah luas seiring bagaimana saya dapat merasakan sendiri seperti apa kenyataan di lapangan. Selama masa pandemi Covid-19, sekolah-sekolah diliburkan dan anak-anak kekurangan pembimbing yang dapat menuntun dan menyemangati mereka untuk terus belajar mencari ilmu. Faktor keluarga yang kurang memberi dukungan karena sibuk oleh pekerjaan dan sebagainya dapat menjadi penghalang sekaligus melunturkan semangat anak-anak untuk belajar. Sebagian besar dari mereka sudah lupa akan pelajaran, sebagian lagi tidak mempunyai buku atau sumber materi karena terhalang biaya atau keterbatasan kepemilikan alat elektronik untuk mengakses internet. Di daerah tempat saya mengabdi, cukup banyak anak-anak yang telah membantu pekerjaan orang tua mereka seperti berdagang makanan atau membantu pekerjaan rumah tangga sehingga waktu untuk belajar menjadi berkurang.

Diharapkan dengan adanya kehadiran mahasiswa dalam kondisi seperti ini, dapat memberi sececah harapan dan membantu anak-anak untuk beradaptasi di masa pandemi Covid-19 seperti menerapkan protokol kesehatan. Selama kegiatan pembelajaran luring, satu bangku hanya diisi oleh satu orang murid, kemudian sebelum masuk ke kelas harus mencuci tangan dan mengenakan masker. Jam pembelajaran di sekolah pun hanya berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 10.00 pagi. Para mahasiswa biasanya menemui wali kelas terlebih dahulu untuk meminta saran dan berkonsultasi terkait kegiatan belajar-mengajar seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada peserta didik sesuai tingkatan kelasnya masing-masing. Komunikasi bersama wali kelas, pihak sekolah, maupun dosen wali harus diutamakan agar tidak terjadi miskoordinasi antar stakeholder.

Dalam kelompok saya yang terdiri dari enam orang, kami membagi setiap mahasiswa untuk bertanggung jawab memegang satu kelas dengan dua rombel. Saya sendiri berada di kelas 5 dengan jumlah murid 35 orang. Murid-murid menyambut senang kehadiran para mahasiswa di sekolah. Biasanya guru dan mahasiswa memegang buku Tema sebagai pedoman pembelajaran. Namun terkadang kami juga memberikan pelajaran di luar buku Tema, seperti membuat kerajinan tangan, menggambar poster, mempelajari bahasa inggris, mengenal penggunaan teknologi sebagai bahan pembelajaran seperti Microsoft Power Point dan sebagainya.

Di samping begitu banyaknya pengalaman menyenangkan bersama murid-murid dan rekan sesama mahasiswa, ada pula beberapa masalah yang sempat mengganggu pekerjaan saya dalam melaksanakan program Kampus Mengajar. Sebagian besar masalah itu berkaitan dengan pembagian waktu antara kuliah dan mengajar. Namun hal itu tergantung dari bagaimana sikap mahasiswa tersebut dalam membagi waktunya secara efisien agar semua dapat terlaksana dengan baik. Dalam program ini pula saya diajarkan untuk pandai dalam mengatur waktu dengan efektif dan bermanfaat, alih-alih membuang waktu untuk hal yang tidak berguna. Walau terbilang cukup sibuk dan terkadang kalang kabut dengan tugas kuliah atau laporan mingguan Kampus Mengajar, saya sangat menikmati setiap kegiatan yang saya lakukan karena saya yakin pengalaman berharga seperti ini akan bermanfaat di masa depan.

Setelah mengikuti program Kampus Mengajar, saya dapat melihat secara nyata bagaimana realisasi pendidikan terutama di daerah 3T. Sekolah tempat saya mengabdi tidak memiliki fasilitas lengkap seperti ruang kelas atau perlengkapan penunjang berbasis teknologi. Selain dari segi fasilitas, sekolah ini pun kekurangan tenaga pendidik sehingga kerap terjadi kekosongan waktu belajar. Dengan kedatangan mahasiswa dari program Kampus Mengajar, pihak sekolah SDN Sukawening menjadi sangat terbantu karena murid-murid bisa mendapatkan hak-nya untuk memperoleh ilmu dan pembelajaran.

Kembali lagi, fokus utama dari penyelenggaraan program Kampus Mengajar dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi adalah membangkitkan motivasi dan semangat anak-anak SD maupun SMP untuk kembali belajar di sekolah dalam pandemi Covid-19 yang mengakibatkan banyak kendala secara teknis maupun administratif. Program Kampus Mengajar angkatan 2 telah terselenggara selama lima bulan dan berakhir pada tanggal 18 Desember 2021. Selama itu, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga yang tidak dapat tergantikan. Saya belajar untuk menjadi pribadi yang sabar dalam menghadapi berbagai perilaku murid hingga saya belajar tentang bagaimana cara guru dalam menyiapkan materi pembelajaran serta memeriksa tugas-tugas kemudian memberi nilai kepada murid-murid sesuai kemampuannya. Hal itu mengingatkan saya bahwa mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar demi terwujudnya pembangunan Indonesia ke arah yang lebih baik. Salah satu dari pembangunan itu adalah di bidang pendidikan dan masa depan bangsa ini berada di tangan para generasi muda. Kampus Mengajar ini dapat menjadi lahan pengabdian yang luar biasa bagi mahasiswa serta sebagai ajang mengembangkan soft skill, yaitu kepemimpinan, problem solving,  kreativitas, maupun kemampuan interpersonal mahasiswa itu sendiri.

Bagaimana pengalaman Annisativa ini? Menarik ya! Nah bagi Anda yang berminat ikut, disilakan untuk bersiap dari sekarang. Karena ternyata manajemen waktu memang sangat penting ya agar semuanya sukses kita ikuti.

Annisativa-san, arigatou gozaimashita.