Dear All Mahasiswaku!
Kali ini saya ingin berceritera sosok seorang warga UPI yang sangat melekat dalam hidup saya. Sebuah nama yang tidak mungkin saya lupakan. Seorang profesor yang saya kagumi dan saya hormati. Namun, sebelum masuk pada pokok tulisan, saya ingin sedikit berceritera tentang kisah sebuah pohon sirih. Kisah sirih ini saya angkat terlebih dahulu sebab kisah ini pernah menjadi bahan obrolan saya dan beliau ketika mengisi kekosongan perjalanan antara Osaka dan Koyasan Wakayama Japan.

*****

Kalau tidak salah, waktu itu saya masih berumur 10 tahun pernah menyaksikan seorang nenek menangis jejeritan seperti yang kesakitan. Awalnya saya tidak mengerti kenapa si nenek itu menangis. Tak lama kemudian, saya mendengar bahwa penyebab dia menangis itu gara gara sirih yang dia tanam menjadi layu. Selidik punya selidik, ternyata batang sirih tersebut terpotong oleh seseorang ketika merumput untuk binatang ternaknya. Entah siapa yang menyabit rumput hingga kini pun saya tidak mengetahuinya. Tangisan si nenek masih terngiang di telinga saya sebab suara tangisan yang jejeritan1) diiringi dengan kokosodan2), lalu inghak inghakan3) . Yang jelas tangisan si nenek itu seperti tangisan orang yang tersiksa dan menyesali yang sangat mendalam. Pengalaman ketika kecil itu hingga kini pun masih terpancar jelas dalam bayang bayang saya seolah terpampang lebar membentang di hadapan saya. Waktu itu, saya tidak tidak begitu menyelami perasaan yang sebenarnya arti tangisan si nenek karena masih kecil namun perasan itu bisa memahami betul setelah saya berkeluarga. Kenapa demikian? Inilah kisahnya.

*****

Salah satu kegemaran saya sejak kecil adalah menanam pohon. Apapun jenis pohonnya, selama ada lahan saya tanam. Bahkan sering meminta izin kepada tetangga yang punya lahan kosong untuk ditanami tanaman. Tanaman jenis buah buahan atau tanaman keras. Kebetulan di kampung saya banyak benih tumbuhan yang bisa diambil dengan gratis di hutan seperti pohon mahoni, pohon antoteka, bahkan banyak benih pohon buah buahan.
Perjalanan dari rumah ke SD melewati sawah dan kebun, sedangkan dari rumah ke SMP melewati hutan. Jika saya menemukan benih tumbuhan, saya pungut dan saya bawa pulang ke rumah, lalu ditanam di lahan kosong, entah di halaman depan atau belakang rumah saya. Kebiasaan seperti itu terus berlanjut hingga sekarang. Karena lahan punya orangtua saya tidak begitu luas dan tidak begitu banyak, sering saya tanam di lahan orang. Tentunya meminta izin terlebih dahulu kepada yang empunyanya. Kalau sudah besar atau berbuah misalnya, itu mah terserah yang punya lahan. Mau dipanen oleh yang punya lahan atau siapa pun terserah.

Alhamdulillah setiap pohon yang saya tanam selalu tumbuh subur. Memang. Pada mulanya sering layu, tapi beberapa hari kemudian pohon itu tumbuh normal. Tipsnya sangat sederhana. Ketika menanam pohon apapun jenis pohon itu, begitu ditanam jangan lupa harus langsung disiram. Lalu, disiram setiap hari minimal sehari sekali selama satu atau dua bulan apalagi kalau musim kemarau harus setiap hari sampai tumbuhan itu lilir4). Apalagi ketika menanam musim kemarau, wajib hukumnya menyiram tananam yang kita tanam apabila berharap ingin tumbuh dengan baik. Ini pengalaman. Kata orang Sunda, tangan saya itu tiis (dingin). Ini sebutan kepada mereka yang selalu berhasil tumbuh dengan baik jika menanam pohon. Meskipun demikian, ada satu tumbuhan yang tidak bisa sekaligus normal, yaitu kalau saya menanam sirih. Setiap menanam sirih, beberapa hari kemudian selalu mati. Tapi saya tidak putus asa, saya tanam dan tanam terus, akhirnya sirih yang saya tanam bisa tumbuh normal sebagaimana yang diharapkan dan saya pelihara sebagaimana layaknya memelihara tumbuhan yang lain.
Dua tahun kemudian, sirih ini layak untuk dipanen. Banyak yang memanfaatkan sirih yang saya tanam. Istri saya, tetangga saya, bahkan ada juga orang yang lewat dan meminta daun sirih. Katanya untuk obat. Namun, yang paling sering saya panen ketika saya mudik. Di kampus saya banyak orang yang suka nyeupah5). Oleh karena itu, setiap pulang kampung atau mudik, saya selalu membawa satu kantong keresek sebagai oleh oleh untuk para wanita yang suka nyeupah. Kalau mudik pasti membawa sirih. Karena kebiasaan seperti itu sehingga sering ditanya oleh para nenek di kampung saya adalah sirih. “Mana seureuhna. Seureuh ti Bandung mah raos pisan (Mana sirihnya, Sirih dari Bandung mah enak sekali)”, demikian kesan para nenek di kampus saya.
Pertanyaan tentang sirih ini tidak akan saya temui lagi sebab kampung saya sudah tenggelam dan mungkin sekarang sudah menjadi penghuni ikan ikan di dasar sana. Perlu saya jelaskan bahwa saya dilahirkan di Kampung Jemah, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang – Jawa Barat – Indonesia. Saya tulis lengkap saja kalau kalau ada yang tidak mengetahui letak Sumedang, apalagi kampung saya – Jemah. Sebuah kampung di kaki gunung Surian dan dikelilingi hutan. Sekarang nasibnya sudah menjadi sagara/lautan gara gara dibuat dam Jatigede di Sumedang. Informasi yang berkaitan dengan dam Jatigede Sumedang cukup banyak. Silahkan saja bagi rekan rekan yang ingin mengetahui lebih banyak tentang informasi dam Jatigede ini dengan berbagai permasalahan sosialnya bisa ditanyakan kepada Mbah Google.
Kurang lebih tujuh tahun, saya pindah rumah ke daerah Pondok Hijau Indah. Kira kira sebelah barat kampus saya – UPI. Di lokasi sekarang, lumayan halaman agak luas sehingga saya bebas bisa menanam apa saja. Dari tanaman perdu hingga tanaman keras. Yang utama tanaman toga (bahan obat herbal) seperti saledri, kangkung, kelor, pepaya, murbei, sirih, tomat, teratai, temulawak, tembelekan (saliara), tanduk rusa, sereh, sembung, semangi gunung (tumbung kanjut), pandan, mengkudu, lengkuas (laja), kunyit, kumis kucing, kencur, jahe, katuk, hangasa, kahitutan, dan akar wangi. Mungkin karena cukup lengkap tanaman toga di depan rumah saya sehingga dicalonkan sebagai rumah sehat tahun 2017 di Kabupaten Bandung Barat. Alhamdulillah. Selain tanaman toga, saya tanam juga pohon keras seperti pisang, sawo, perpaya, aromanis, cengkir, jeruk, pinus, jambu batu, jambu air, dll. Ternyata tanaman yang saya tanam itu tidak mubazir. Misalnya untuk daun kelor. Hampir setiap minggu ada orang yang memerlukannya. Katanya untuk pengobatan struk. Caranya dioseng oseng atau disayur.

Dari tananam yang saya sebutkan di atas, tentunya salah satu tanaman yang menjadi trending topik di tulisan ini adalah sirih. Suatu hari, sirih yang saya manjakan ini terkotori orang sebelah gara gara dia sedang membangun rumahnya (ngecor) sehingga air semen uprat apret (tercecer) kemana mana termasuk mengotori sirih yang saya tanam. Wajar kalau saya marah dan sangat sangat tersinggung atas perlakukan tetangga saya ini. Tak pikir panjang saya ontrog (datangi) ke rumahnya. Sayang sekali yang punya rumah tidak ada di tempat. Yang ada waktu itu, hanyalah pegawainya. Aku sampaikan keluhan saya, lalu saya ajak pegawai itu untuk melihat langsung kondisi sirih yang sangat kotor oleh semen. Saya bukan melarang dia membangun rumahnya namun yang saya harapkan harus berhati hati. Sangat wajar jika kita beritahu dahulu orang tetangga dan semestinya ditutupi dahulu oleh terpal atau sejenisnya supaya tanaman tidak terkotori. Saya kira itulah etika bertetangga. Pepatah Sunda mengatakan berbaik baiklah dengan tetangga karena orang itulah yang akan menolong kita manakala kita kesulitan. Tidak berlebih apabila saya istilah bahwa tetangga itu adalah malaikat penolong ketika dalam kondisi darurat. Jadi, wajar jika kita saling mengenal, saling memahami, bahkan bila perlu keakraban kita sama dengan keakraban kepada kedua orangtua kita atau saudara kita. Cara cara tetangga saya membangun seperti itu saya nilai tidak manusia dan tidak beretika.

Meskipun perasaan saya dongkol atas kejadian sirih yang saya manjakan itu terkotori, namun harus dimaklumi sebab dalam kehidupan ini pasti ada faktor ekternal yang bisa membuat kita marah, dongkol, kesal, dan sejenisnya. Tinggal keberanian. Apakah perasaan marah itu mau dikeluarkan atau mau dipendam dalam hati. Menurut hemat saya, sebaiknya dikeluarkan dan dibicarakan dengan baik baik. Kalau perasaan marah terpendam, mungkin saja menjadikan marah terpendam itu bagaikan api dalam sekam. Sifat seperti ini tidak baik dan tidak bermanfaat sebab “kemarahan” yang terpedam bisa bisa menggerogoti jiwa dan raga diri sendiri. Atau bebaskanlah. Itulah kata kunci sebuah upaya yang sangat baik. Kalau tidak demikian, maka yang rugi diri sendiri.

Dengan pengalaman nyata seperti itu, dan teringat si nenek yang menangis itu, saya sangat merasakan sekali perasaan si nenek yang menangis di kampus saya dulu. Kalau saja, saya seorang perempuan dan seorang nenek, mungkin saja saya juga akan menangis seperti si nenek itu.

*****

Bagi saya yang membuat prihatin itu semata mata bukan masalah sirihnya, tapi prihatin atas sikap orang itu yang tidak menghargai arti sebuah nilai. Menurut hemat saya, sekecil apa pun atau sesederhana apa pun sebuah “nilai” harus dihargai. Entah sesuatu itu milik diri sendiri atau milik orang lain. Memang, sesuatu itu bisa sangat bernilai bagi seseorang belum tentu bernilai bagi orang lain. Apa artinya selembar kertas putih bila dibandingkan dengan selebar kertas yang bertuliskan angka angka yang kita kenal dengan sebutan cek atau uang? Tentunya nilainya tidak sama meskipun bahan dasarnya sama yaitu kertas. Uang, cek, materai, bon, kwitansi, brosur, pamplet dll, itu semua terbuat dari kertas, namun nilainya tidak sama. Demikian pula ketika kita menjalani kehidupan ini. Aneka ragam nilai yang bersifat universial seperti toleransi, emphaty, budaya malu, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan sejenisnya, tentunya harus diupayakan tercermin dalam diri kita. Kita tahu bahwa itu semua adalah nilai kehidupan yang akan mampu mengangkat martabat dan derajat seseorang ke tahap yang lebih mulia dan hidup kita akan bernilai dimata orang orang sekeliling. Untuk apa kita hidup kalau dalam keseharian kita itu tidak bernilai.

Contoh lainnya bahwa sebuah nilai itu tidak bisa diuangkan, bahkan lebih berharga dari nyawa sekali pun, misalnya kita ambil bendera merah putih. Kalau dari tampilan fisiknya sangat sederhana. Bendera negeri kita hanya terbuat dari selembar kain. Di bagian atas berwarna merah, dan di bagian bawahnya berwarna putih. Komposisi dua warna itu, ternyata telah mampu mengobarkan semangat juang yang dasyat dari masa ke masa. Mengapa demikian? Sebab disitu tersirat segudang nilai yang tidak bisa diuangkan. Harga diri, martabat, nyawa, dan sederetan nilai nilai perjuangan dan pengorbanan sudah menyatu di dalamnya. Sangat wajar jika selembar kain yang berwarna merah putih yang dihormati bangsa Indonesia ini ada orang yang mencabik cabiknya atau menghinakannya pasti banyak orang Indonesia yang marah. Bila perlu orang yang mencabikcabiknya itu dihilangkan dari permukaan bumi ini.

*****

Seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, sekelumit kisah yang saya ceriterakan di atas, terutama kisah sebatang sirih itu adalah salah satu topik yang pernah saya obrolan kepada seorang prof. yang terkenal dengan jargon pokoknya….. Karya beliau yang monumental, dengan judul diawali Pokoknya…telah meramaian khasanah perbukuan di negeri ini, bahkan di dunia, yaitu Pokoknya Menulis, Pokoknya Kualitatif, Pokoknya Sunda, Pokoknya Rekayasa Literasi, Pokoknya Studi Kasus, dan Pokoknya Action Research. Profesor yang saya maksud bukan siapa siapa lagi kalau bukan Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Ph.D. alm.

Bagi saya, setiap bulan Desember tiba, tepatnya tanggal 9 Desember selalu terbayang dan terlintas sosok seorang maha guru ini, Mengapa demikian ? Sebab beliau adalah salah seorang dosen UPI yang banyak menginspirasi saya dalam merintis dan menjalani tugas di UPI, terutama ketika ada dorongan untuk menuangkan sesuatu lewat tulisan, melakukan penelitian, dll. Ya, itulah Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Ph.D. alm. Beliau adalah aset sumber daya manusia “langka” yang sangat berharga bagi UPI khususnya dan bagi dunia pendidikan (bahasa) pada umumnya. Seperti dimaklumi, Prof. Chaedar meninggal dunia di Rumah Sakit Al Islam, Selasa malam, 9 Desember 2014. Almarhum yang wafat pada usia 61  tahun ini dimakamkan di Cicalengka setelah disalatkan di Masjid Al-Furqan UPI Rabu pagi, 10 Desember.
Khabar meninggal Prof. Chaedar bertepatan ketika saya memperoleh tugas mendampingi tim kesenian UPI performance di Osaka dari tanggal 7 .s.d 14 Desember 2014. “Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai”, kira kira itulah perasaan saya waktu itu. Mengapa demikian? Sebab saya ingin sekali mengantarkan beliau sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Namun hanya doa dan doa yang bisa saya panjatkan waktu itu.

Saya termasuk salah seorang warga UPI yang beruntung dalam hal kedekatan antara saya dengan Prof. Chaedar. Berkat kedekatan itulah banyak sejumlah kenangan telah mewarnai hidup saya. Dua diantaranya yaitu (1) Ketika beliau menjadi atasan saya sebagai Dekan FPBS UPI. Waktu itu, saya dilibatkan merancang dan membuka Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Jepang Pascasarjana UPI; dan (2) ketika saya bersama beliau menghadiri Cultural Summit di Osaka. Waktu itu saya sekamar dengan beliau dan sempat mengunjungi Koyasan di Wakayama Jepang.

Itulah sekelumit kisah hubungan saya dengan Prof. Chaedar. Saya merasa bangga dan sangat hormat kepada beliau meskipun secara akademik saya tidak pernah diajar langsung oleh beliau melalui kuliah misalnya, namun sejak saya mengenal beliau baik sebagai atasan langsung ketika beliau menjabat Dekan FPBS UPI maupun sebagai Wakil Rektor UPI banyak pelajaran yang saya peroleh darinya. Selain itu, banyak karya beliau yang sudah saya baca sehingga ayat ayat cinta kasih beliau terhadap keilmuannya tercermin di dalam mahakarya Pokoknya….. tersebut. Lain kali, saya ingin sekali memperkenalkan buku buku yang berjudul Pokoknya…itu kepada kalian. Atau silahkan kalian baca sendiri buku buku tersebut.

Akhirnya, saya sampaikan selamat jalan dan selamat beristirahat yang damai di alam sana untuk Prof. Chaedar.

“Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu waghsilhu bilmaa`i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min ‘adzaabin naar” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” .

Pondok Hijau Indah (PHI), 2 Desember 2017.

Jejeritan: menangis dengan suara keras. Biasa diiringi dengan kata kata/sambil berbicara).
Kokosodan: seseorang yang menangis jejeritan sambil kakinya digerak gerak. Biasanya dalam posisi duduk, lalu badan digoyang goyang ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang).
inghak inghakan (suara tangisan yang terisak isak).
Lilir: sebutan untuk tumbuhan yang baru ditanam kalau bisa tumbuh sehat dan normal (tidak layu). Atau sebutan kepada seseorang yang baru bangun dari tidurnya.
Nyeupah: nyirih

 

 

 

 

 

Pendidikan Bahasa Jepang