Prolog

Saya termasuk orang yang sangat beruntung selama mengabdi di IKIP Bandung dan UPI. Diawali belajar bahasa Jepang selama 4 tahun, lalu awal mengabdi menjadi asisten dosen di Jurusan Bahasa Jepang FKSS IKIP Bandung tahun 1982, bulan Oktober pada tahun yang sama ada kesempatan studi lanjut ke Jepang, dan serangkaian episode berikutnya pulang pergi ke Jepang telah menghiasi hidup saya yang tidak mungkin saya lupakan.

Banyak episode yang menjadikan saya tetap bertahan bekerja di UPI. Diantaranya, pertama, mungkin sudah menjadi guratan bahwa saya harus berkecimpung di dunia pendidikan, kedua, yaitu pimpinan UPI yang sangat baik dari level yang paling bawah (semisal Ketua Jurusan)  sampai ke level yang paling tinggi (jajaran rektorat). Bukan itu saja, orang orang yang saya kenal adalah orang UPI yang sangat bersahabat dan rasa kekeluargaan sangatlah kental. Ukhuwah islamiah habbulminannas benar benar terefleksi di dalam kehidupan kampus. Saya cukup nyaman bekerja di UPI. Suasana seperti ini sangat wajar sebab tiga pilar yang menjadi rujukan UPI selalu berkumandang dan terpampang, yaitu kampus edukatif, ilmiah,  dan religius.

Kalau saya menengok  jauh ke belakang selama saya mengabdi di UPI, kira kira 35 tahun sudah berlalu. Lalu saya identifikasi kiprah saya selama itu, setidaknya teridentifikasi sejumlah kegiatan antara lain Saya dan Kadin Osaka, Saya dan OIW, Saya dan Para Pimpinan UPI, Saya dan OBIP/JBIP, Saya dan ASPBJI Pusat & Daerah, Saya dan Yayasan BPG (OHM Center & NLEC Center),  Saya dan Fujicon Japan, Saya dan PT Adetex/Ademoda Bandung, Saya dan Polda Jabar, Saya dan Para Ekspert Bahasa Jepang The Japan Foundation, Saya dan Sasakawa Foundation, Saya dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Pascasarjana UPI, Saya dan Internasional Villlage, Saya dan Osaka Universiy, dan Saya dan Karawang. Kira kira episode seperti itulah, yang telah mewarnai perjalan hidup saya, dan saya rasa pengalaman tersebut cukup layak untuk saya bagikan ceriteranya kepada para pembaca.

Selama 35 tahun ini, saya cukup banyak dilibatkan oleh pimpinan dalam berbagai kegiatan di IKIP Bandung dan UPI baik di tingkat jurusan, fakultas, maupun UPI, bahkan menginjak 15 tahun terakhir ini kegiatan saya “merambah” ke jurusan lain beda fakultas, tentunya kegiatan tersebut yang berbau Jepang.

 

Kepercayaan pimpinan dan teman sejawat dengan dilibatkannya dalam sejumlah kegiatan itu bagi saya sebuah pembelajaran yang tidak bisa dinilai dengan uang sebab kegiatan kegiatan tersebut (tentunya berkat kepercayaan pimpinan) setidaknya telah membuat saya menjadi sosok yang sekarang ini. Dari tempaan selama 35 tahun mengabdi di UPI, setidaknya telah tumbuh kokoh rasa percaya diri dalam hal apapun asalkan berhadapan dengan urusan kejepangan dan tentunya berkomunikasi digunakan bahasa Jepang. “Rawe rawe lantas malang malang putung”,  “kenapa takut”, yang semula saya merasa hanyalah orang “seperti katak dalam tempurung”, alhamdulillah dengan binaan para pimpinan dan teman teman sejawat saya merasa menjadi “manusia” yang bermanfaat. Mudah mudahan demikian adanya. Yang jelas dan pasti dengan binaan itu saya bisa menjadi manusia yang selangkah maju ke depan untuk “nimbrung” menyumbangkan profesi yang saya miliki yaitu bahasa Jepang demi kecemerlangan UPI di masa kini dan masa yang akan datang. Semoga.

Terus terang, diawali dengan menjadi asisten dosen, yang waktu  itu kehidupan saya “gali lubang tutup lubang”, sedikit demi sedikit saya bisa menata hidup ke arah yang lebih baik berkat dorongan dari pimpinan UPI sehingga mengabdi selama 35 tahun merupakan perjalan panjang yang tidak begitu terasa melelahkan, cahaya kehidupan senantiasa berkedip dan menyinari jalan kehidupan saya.  Memang, sandungan selalu ada, dan saya temui namun saya selalu berusaha untuk cepat ambil langkah seribu mencermati hikmah hikmah di balik kejadian tersebut. Kalau tidak demikian maka sandungan itu akan menjadi “penyakit” yang akan menggerogoti jiwa dan raga.

Tulisan sederhana ini merupakan rekam jejak saya atau refleksi kegiatan saya selama mengabdi di UPI, terutama kaitannya saya dengan beberapa orang pimpinan UPI sejak saya belajar bahasa Jepang sampai dengan sekarang.

Untuk mengawali tulisan ini akan dimulai dari hubungan saya dengan  Prof. Numan Somantri, M.Si. Lalu, pada kesempatan lain, secara berturut turut akan saya tuliskan juga dengan Prof. Kodir (alm), Prof. Fakry, Prof. Sunaryo, Para Wakil Rektor, dan beberapa orang Dekan/Ketua Jurusan di lingkungan UPI. Orang orang yang saya kenal, terutama pimpinan puncak UPI merupakan pimpinan yang sangat “bersahabat”, berwibawa, tegas, dan sikap positif lainnya melekat pada pribadi masing masing, setidaknya itulah yang saya lihat dan saya rasakan.

Saya dan Prof. Numan Somantri, M.Si.

Episode 1

Pertama kali saya tahu bahwa Rektor IKIP Bandung adalah Pak Numan yaitu ketika masa orientasi mahasiswa baru. Lalu bisa mengenal beliau lebih dekat ketika bertemu langsung akibat “keterpaksaan”, yaitu ketika memberanikan diri menghadap  langsung Prof. Numan tahun 1982. Ketika itu, saya berbenturan dengan dua pilihan yang dua duanya saya yakin sangat menjanjikan untuk kehidupan saya selanjutnya. Kedua pilihan itu adalah kesempatan studi lanjut menimba ilmu di negeri Sakura dan kesempatan untuk ikut bursa menjadi dosen di IKIP Bandung.  Dua pilihan yang saya incar, namun dalam rapat dosen saya harus memilih salah satu di antaranya. Akhirnya saya memilih untuk studi lanjut ke Jepang, yaitu Hiroshima University. Studi lanjut disini dalam rangka memperdalam bahasa Jepang agar lebih mantap lagi. Kesempatan studi ke Hiroshima waktu itu, bukan ujug ujug tapi sebuah rintisan yang memakan waktu yg cukup lama dan berkat jasa baik Bapak S.W. Haryana yang saat itu sedang studi S2 di Hiroshima University. Saya sendiri relatif rajin menulis surat kepada dua orang mahasiswa Jepang didikan profesor saya di Jepang.

Merajut sebuah perjalan ke luar negeri waktu itu adalah yang pertama bagi saya sehingga banyak hal yang saya tidak pahami. Berkat budi baik semua dosen bahasa Jepang dan penjelasan penjelasan tentang  kiat studi ke Jepang, terutama langkah awal adalah mengisi formulir yang saya terima dari Hiroshima University, akhirnya tahap awal pengisian bisa tuntas sesuai rencana dan saya kirimkan ke Hiroshima. Sementara  menunggu jawaban dari Jepang, saya mempersiapkan diri yaitu membuat paspor. Pembuatan paspor ini sangat tidak lancar sebab imigrasi hanya bisa memberikan paspor kepada mereka yang sudah berstatus pegawai negeri atau dosen negeri perguruan tinggi. Ternyata kebijakan itu merupakan kebijakan pemerintah Indonesia karena setelah saya pelajari  pemerintah Jepang (dalam hal ini Monbusho, sekarang disebut monbukagakushou) tidak mengeluarkan peraturan seperti itu. Artinya, bagi pemerintah Jepang kesempatan melamar studi lanjut dengan biaya monbusho tidak harus orang yang berstatus PNS, tapi perorangan juga sangat dimungkinkan. Tampaknya tahun  80an, beasiswa yang satu ini (monbusho) oleh pemerintah Indonesia “digiring” hanya diperuntukkan bagi para PNS saja.

Meskipun demikian, saya tidak patah arang untuk “membujuk” imigrasi Bandung supaya mengeluarkan paspor untuk saya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, sampai detik detik terakhir paspor tidak kelar. Kronologi liku liku kesulitan pembuatan paspor ini saya laporkan kepada pihak Hiroshima dan tentunya dosen saya di jurusan. Langkah terakhir saya memberanikan diri menghadap Ketua Imigrasi Bandung (waktu itu, Kepala Imigrasi bernama Pak BZ; maaf saya samarkan saja) dan saya ceriterakan kronologi saya bisa memperoleh formulir beasiswa monbusho. Akhirnya ada solusi dari beliau yaitu supaya ada surat permohonan langsung dari Rektor IKIP Bandung kepada kepala imigrasi yang isinya menjelaskan perlunya saya berangkat ke Jepang dan sekaligus memohon diterbitkan paspor untuk saya. Bahkan Pak BZ memberikan gambaran redaksional suratnya juga. Saya masih ingat betul saran beliau yang menyatakan bahwa di dalam surat itu sebaiknya ada kalimat “….setelah pulang studi dari Hiroshima University, Ahmad Dahidi harus bersedia mengabdi di IKIP Bandung”. Tentunya, bagi saya kalimat ini sangat berarti dan bermakna, apalagi ketika dihadapkan pada rapat dosen dan diminta memilih antara mengisi formulir atau ikut seleksi menjadi dosen, yang akhirnya saya memilih formulir, maka kalimat itu bagi saya sebuah energi atau kekuatan untuk studi agar serius di Jepang dan insya Allah hasilnya akan saya “sumbangan” untuk IKIP Bandung.

Dengan arahan dari Pak BZ itu, saya langsung ke IKIP Bandung dan menghadap langsung Pak Rektor, lalu saya jelaskan hasil obrolan saya dengan pihak imigrasi Bandung. Alhamdulillah Prof. Numan sangat bijak dan sangat memahami apa yang saya maksud, apalagi waktu itu dengan sigap dan dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, surat yang dimaksud bisa tuntas. Antara percaya dan tidak percaya, tapi kenyataan, saya lari lagi sambil membawa surat dari Pak Rektor ke imigrasi dan saya serahkan kepada Pak BZ. Lalu beliau meminta anak buahnya supaya paspor saya diproses sebagaimana mestinya. Sementara  paspor diproses, saya menerima surat ultimatum dari dosen saya (Pak Ml) yang saat itu sedang studi di Hiroshima Univ. Beberapa bagian surat itu saya salin sbb.

 “Pak Ahmad! Bagaimana khabarnya… dari negara lain pada berdatangan sejak 1 Oktober. ……kalau tak datang tanggal 1-30 Oktober 1982 masalah shougakukin (besasiswa monbusho) akan sangat sulit sedapat mungkin sudah harus datang pada bulan ini.

  1. Bagaimana pun alasan tak dapat datang harus dikemukakan dan tanggal berapa bisa datang. Cepat balas.
  2. Dan limit waktu untuk tahun ini sampai dengan 30 Oktober.

Harapan saya semoga segalanya dapat diselesaikan dan segera bisa bertemu, saya menunggu.”

Titik mangsa surat tersebut tanggal 12 Oktober 1982. Dan di bawahnya ada kutipan beberapa kalimat dalam surat dari Prof. Okuda sensei yang berhubungan dengan saya seperti berikut.

K san e!  “……Dekirudake hayaku nihon ni kuru you ni shite kudasai. ……”. Ahmad san no tegami ni …. kakimashita. …. shite kudasai. Mata kuwashiku kakimasu (OK).

Informasi tersebut ditulis dalam kertas aerogramme, saya terima pada hari Sabtu tanggal 23 Oktober 1982. Oh, ya! Satu hari sebelumnya, baru ada keputusan dari pihak imigrasi bahwa paspor saya baru bisa diproses dan tuntas hari Senin minggu berikutnya. Dan hari sebelumnya adalah hari Jumat, 22 Oktober, Prof. Numan mengeluarkan surat rekomendasi untuk imigrasi Bandung tersebut. Boleh dikatakan Jumat tanggal 22 Oktober merupakan hari berkah buat saya dan bisa dikatakan hari “penentu” yang telah membuka pintu rajutan hidup saya untuk menerobos sekat sekat kehidupan di Jepang. Ditambah surat dari Pak Mulyana sehingga pada minggu terakhir Oktober yaitu antara tanggal 23 s.d. akhir bulan Oktober merupakan minggu penentuan berhasil atau tidaknya saya bisa ke Jepang.

Berkat usaha yang keras dan keyakinan kepada Allah, alhamdulillah semua persyaratan untuk berangkat ke Jepang terutama paspor, visa, dan tiket bisa tuntas pada tanggal 28 Oktober. Besoknya saya berangkat ke Halim Perdana Kusumah (waktu itu, belum ada bandara Sukarno Hatta), dan tiba di Jepang tanggal 30 Oktober 1982.

Perlu saya jelaskan bahwa Prof. OK adalah dosen pembimbing saya di Universitas Hiroshima.

Terus terang, waktu itu saya ingin menuntaskan persiapan ke Jepang sampai “titik darah yang penghabisan”, kira kira seperti itulah spirit saya. Apalagi saya memperoleh suntikan psikologi dari orangtua, guru saya waktu di SD di kampung sana, dan saya membaca kisah Thomas Alfa Edison ketika Dia berhasil menemukan baterai setelah melalui serangkaian percobaan. Dia menyatakan bahwa kejeniusan merupakan satu persen dari inspirasi, sedangkan sembilan puluh sembilan persen lainnya merupakan kerja keras. Dengan “wirid” seperti itu telah membuat optimalisasi usaha saya untuk meraih cita cita agar saya harus bisa menginjakan kaki di negeri Sakura sesuai rencana.  Berkat rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur untuk “mengubah nasib”, lalu adanya kebijakan Rektor IKIP Bandung (Prof. Numan), pencerahan solusi yang sangat bijak dari Pak BZ (imigrasi), serta “wirid” psikologis dalam hati saya seperti  saya sebutkan di atas, alhamdulillah membuah hasil yang sangat tak ternilai harganya bagi saya yaitu saya menerima paspor dari imigrasi. Seperti saya kemukakan di muka, dengan paspor inilah saya memproses visa, tiket dan persyaratan lainnya untuk kepentingan keberangkatan.

Tanggal 29 Oktober 1982 adalah hari keberangkatan saya ke Jepang naik JAL dan tiba di Jepang tanggal 30 Oktober 1982. Alhamdulillah ending liku liku perdana studi ke Hiroshima bisa tuntas pada detik detik terakhir. Kenapa detik terakhir? Sebab seperti dijelaskan di surat Pak Ml bahwa agar beasiswa tetap bisa diterima harus sudah di Jepang pada bulan 30 Oktober, dan alhamdulillah saya bisa berada di Jepang tanggal terakhir bulan Oktober 1982 tersebut.

Kelancaran saya bepergian ke luar negeri yang perdana ini salah satunya adalah berkat kebijakan Prof. Numan yang  sangat memahami keadaan saya waktu itu. Kesempatan studi ke Hiroshima bisa lancar sehingga sepulangnya dari Jepang sedikit banyaknya spirit untuk hidup layak menjelma mengukir hari demi hari dalam hidup saya. Memang, “berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian” atau dalam bahasa Jepang berbunyi “raku wa kusuri no shu”, atau “kuro areba raku ari”, sangat perlu kita lakukan dalam hidup ini.

Episode 2

Itulah awal saya mengenal Prof. Numan Somantri, dan selanjutnya saya bisa “bergaul” lagi dan relatif sering bertemu dengan beliau yaitu ketika saya dipercaya pimpinan UPI untuk menjadi bagian pengelola UPT Kebudayaan. Salah satu tugas UPT Kebudayaan adalah pembinaan UKM di lingkungan UPI, salah satunya adalah Kabumi.

Ketika rombongan Kabumi mengadakan muhibah kesenian ke Jepang atas undangan Min On Tokyo, Saya ditugaskan Rektor UPI (yaitu Prof. FG) untuk mendampingi rombongan, dan rombongan itu dipimpin langsung oleh Prof. Numan sebagai pembinanya. Yang tidak akan terlupakan ketika muhibah kesenian waktu itu yaitu ketika akan performance di suatu tempat, beliau mendadak dadanya sakit dan saya dengar beliau mempunyai riwayat penyakit jantung. Langkah yang saya lakukan waktu itu, saya meminta para mahasiswa dan panitia setempat tetap melaksanakan performance sesuai rencana dan diatur sedemikian rupa, lalu Prof. Numan saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan istirahat. Kejadian ini tidak diketahui oleh rombongan kecuali seorang wartawan Pikiran Rakyat (Pak WA) yang ikut bersama rombongan. Lamanya performance kira kira 2 jam. Selama itu pula saya bersama Prof. Numan berada di rumah sakit. Performance selesai, alhamdulillah kami sudah berada di belakang panggung lagi, jadi sepertinya tidak terjadi apa apa. Padahal terus terang waktu itu saya “senam jantung yang cukup dasyat”. Di satu pihak performance harus sukses, dan  di lain pihak Prof. Numan yang terganggu kesehatan harus diatasi dan “diselamatkan” ke rumah sakit. Pikiran lainnya berkecamuk dalam kepala saya yaitu kalau kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Kejadian ini dirahasiakan. Mengapa dirahasiakan? Sebab kalau waktu itu para mahasiswa atau rombongan mengetahui sakit jantung beliau kambuh, sudah bisa dibayangkan khawatir mengganggu semangat dan “mengacaukan” performance para mahasiswa di atas panggung. Kejadian ini dirahasiakan sampai hari terakhir berada di Jepang.

Pada malam terakhir yaitu ketika akan meninggalkan Jepang, kami berkumpul di lobby hotel dan mengevaluasi kegiatan selama di Jepang, dan dibagian akhir sambutan Prof. Numan,  beliau menyampaikan kejadian yang sebenarnya bahwa beliau sempat dirawat di rumah sakit.  Semua hadirin kaget, bahkan ada yang “bengong” untuk beberapa saat.  Ada juga beberapa mahasiswa yang menyalahkan saya, “kenapa saya tidak diberitahu”, demikian ujarnya. Bukan tidak akan diberitahu, tapi momen yang tidak tepat, dan akan lebih baik kalau Prof. Numan sendiri yang langsung menginformasikan kepada rombongan.

Dua episode di atas, saya menyimpulkan bahwa Prof. Numan adalah pimpinan yang sangat bijak, juga bewibawa. Prof. Idrus mengakui bahwa Prof. Numan adalah sosok pimpinan UPI yang tidak sungkan menjatuhi sanksi kepada siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran. Tapi, beliau adalah pimpinan yang  baik hati, memberikan penghargaan kepada siapa pun yang berprestasi. Ketika malam hari, sering “bergerilya” (mungkin istilah sekarang ‘blusukan’) mendatangi setiap kos mahasiswa untuk mengontrol kegiatan para mahasiswa yang mereka lakukan, apakah belajar atau melakukan kegiatan yang lain yang bersifat kontraproduktif, Demikian kesan Prof., Idrus Affandi yang saya baca di dalam buku 60 Tahun Idrus Affandi ‘Pendidik Pemimpin Mendidik Pemimpin Memimpin Pendidik. (Cetakan Kedua). Kesan Prof. Idrus tersebut, saya sendiri merasakan langsung kharimastik beliau yaitu ketika saya merintis nasib agar sukses bisa studi ke Jepang tahun 1982 dan ketika bersama rombongan kesenian Kabumi melanglangbuana ke Jepang performance di beberapa tempat di Tokyo –Jepang.

Terakhir, yang berkaitan dengan kegiatan beliau “blusukan” ke tempat kos mahasiswa, secara tidak sengaja saya pernah melihat beliau malam malam di sekitar terminal Ledeng ketika saya sedang “nangkring” menikmati kopi panas dan roti banros sehabis mengerjakan  tugas tugas mata kuliah. Saya yakin beliau sedang “blusukan” seperti yang dikemukakan Prof. Idrus.

Bandung, 8 Nopember 2017

 

Pendidikan Bahasa Jepang
Assign a menu in the Right Menu options.
Translate »