Salah satu penerima UPI Student Achievement Award 2018 dari DPBJ UPI adalah Riski Destari.
Siapa Destari-san dan kenapa Destari-san bisa menerima award ini? Yuk kita simak artikelnya berikut. 

Ini Dia Kunci Berprestasi!

Riski Destari

Saya Riski Destari, mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Jepang angkatan 2016 yang akan menceritakan pengalaman hidup yang tidak akan saya lupakan hingga kapanpun. Semoga cerita ini dapat menjadi motivasi bagi para pembaca sekalian.
Saya mulai tertarik dengan Bahasa Jepang dimulai ketika saya menginjak bangku SMA dan kebetulan saya merupakan siswa jurusan Bahasa. Pada kelas 10, saya lebih tertarik dengan Bahasa Inggris daripada Bahasa Jepang. Saya sering mengikuti lomba-lomba berbahasa Inggris mulai dari speech contest, sampai story telling saya ikuti namun tidak pernah mendapat juara. Bahkan, saya mengalami pengalaman yang buruk saat mengikuti lomba story telling hingga menyebabkan saya trauma untuk tampil di depan umum. Dari situ, saya bertekad untuk tidak mengikuti lomba Bahasa Inggris lagi, dan karena hal itu pula lah, saya menjadi tidak menyukai Bahasa Inggris hingga saat ini.
Namun dari situ, saya berpikir bahwa masih ada jalan untuk saya berprestasi. Pada saat kelas 11, guru Bahasa Jepang saya menyuruh siswanya untuk mengikuti kegiatan shuuji (kaligrafi Jepang) yang diadakan setiap hari sabtu atau minggu dan kegiatan tersebut masuk kepada nilai mata pelajaran sastra Jepang. Disitu mau tidak mau saya harus mengikutinya setiap minggu. Lama-lama, saya merasa sangat tertarik dengan kegiatan shuuji ini. Karena selain menulis, kita juga dapat mengetahui huruf yang kita tulis beserta artinya.

Orang banyak menganggap bahwa kegiatan ini sangatlah membosankan, hanya duduk, menulis, dan buang-buang waktu saja. Lambat laun siswa yang mengikuti shuuji ini pun menjadi sedikit, namun saya terus menekuninya hingga saya dapat mengikuti lomba shuuji MGMP Kota Bandung. Saat itu Alhamdulillah saya mendapat juara ke-3 pada lomba Bahasa Jepang saya yang pertama. Dan dari saat itu lah, saya menjadi suka dengan Bahasa Jepang dan bertekad ingin mengikuti lomba-lomba shuuji selanjutnya dan Alhamdulillah saya menjadi sering mendapat juara dalam lomba shuuji. Namun tidak selalu menang, adakalanya saya gagal meraih juara.

Hingga sekarang, saya dapat berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI ini melalui jalur SNMPTN-Bidikmisi. Semester pertama kuliah saya masih dapat mengikuti pelajaran dengan baik karena sebelumnya pernah dipelajari saat SMA. Namun ketika menginjak semester kedua, saya merasa kewalahan dan tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Saya merasa ilmu Bahasa Jepang yang saya dapatkan tidak ada apa-apanya. IP saya sangatlah turun dan saya sangat menyesalinya. Mengapa saya bisa bersantai-santai saja dengan ilmu yang saya punya sedangkan orang lain yang belum pernah belajar Bahasa Jepang begitu semangat belajarnya.
Ada kalanya saya malas belajar dan mengerjakan tugas, ada kalanya juga saya semangat belajar dan semangat mengerjakan tugas. Ketika saya merasa tidak semangat belajar, saya mencoba mengingat orang tua saya yang sudah berjuang hingga saya bisa berkuliah. Ditambah, saya adalah anak terakhir dan satu-satunya anak perempuan yang diharapkan dapat membahagiakan orang tuanya. Jika saya diam saja, berarti saya tidak menjalani tugas sebagai anak yang baik dan tidak bisa membanggakan. Itulah yang selalu saya pikirkan.

Saat saya pertama kali registrasi mahasiswa baru, saya diberi pengarahan sedikit tentang Himabaja, dan saya senang ketika mendengar bahwa ada bidang shuujikai di Himabaja. Singkat cerita, saya sering mengikuti program kerja shuujikai dan hingga saat ini, saya menjabat sebagai Buchou Shuujikai Himabaja FPBS UPI Periode 2018-2019. Saya sangat bersyukur karena ada bidang yang mewadahi minat dan bakat saya di Himabaja. Kegiatan lain yang saya ikuti selain Himabaja yaitu Basket FPBS UPI. Selain itu, saya juga pernah mengikuti UKM Satu Layar. Dan baru 3 bulan ini, saya mengajar Bahasa Jepang di ekstrakulikuler Jepang di SMAN 19 Bandung.

Selama saya menjadi anggota shuujikai, saya diikutsertakan untuk mengikuti lomba shuuji di Bunkasai yang diadakan di UNPAD. Pada saat itu, karya saya masuk ke dalam 10 besar karya terbaik dari 90 orang lebih peserta. Saya sangat yakin dan optimis karya saya menang, namun Allah berkehendak lain, saya tidak mendapat juara. Saya sedikit merasa kecewa, namun saya tetap berambisi dan berkata pada diri saya sendiri “tahun depan harus juara 1!”. Dan akhirnya di tahun berikutnya, saya berhasil mendapatkan juara 1. Saya sangat tidak percaya karena saya merasa sangat pesimis pada karya yang saya buat.
Dari situ saya berpikir bahwa seberapapun kamu merasa kamu sempurna dan kamu sangat optimis, jika Allah berkehendak maka terjadilah. Dan dari situ pula, ketika saya lomba di perlombaan berikutnya, saya tidak pernah merasa optimis, namun lebih menyerahkan apapun hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Lama berselang setelah lomba Bunkasai, saya mendapat kabar dari Herni-sensei bahwa saya harus menghadiri acara “UPI Student Achievement Award Tahun 2018” dan saya termasuk salah satu mahasiswa berprestasi yang mendapat penghargaan dari rektor UPI. Saya tidak mengerti dan tidak menyangka mengapa saya terpilih, tetapi saya sangat bersyukur dengan rezeki yang sangat tidak diduga-duga sebelumnya.

Hikmah yang dapat saya ambil dan menjadi kunci saya untuk berprestasi hingga saat ini, yaitu yang pertama selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, jangan sampai cita-citanya setinggi langit tetapi tidak ada usaha untuk terbang dan menggapainya di langit. Kedua, merasa optimis itu boleh, namun alangkah lebih baik untuk tidak terlalu optimis agar jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan tidak terlalu mengecewakan diri sendiri. Lalu yang ketiga, tetaplah konsisten kepada tujuan yang kita pilih, kalau saya konsisten dengan shuuji, saya tidak boleh berhenti belajar. Yang keempat, carilah passion dalam diri kita agar dalam mencapai tujuan tidaklah merasa terbebani, jangan takut untuk mencoba dan jadilah diri sendiri.
Yang terakhir, roda selalu berputar, janganlah menyerah saat kamu sedang dibawah, saat kamu sedang jatuh, saat kamu sedang merasa tidak berguna lagi, karena kamu pasti akan merasakan juga bagaimana rasanya menjadi juara. Jadi, tetaplah bersemangat!

Biodata Penulis :
Nama Lengkap : Riski Destari (rdestari27@gmail.com / rdesutari27@student.upi.edu)
Angkatan : 2016
Mata Kuliah Favorit : Hyouki
Cita-cita Pekerjaan : Guru / Dosen

 

Demikian artikel dari Destari-san. Ternyata kaligrafi Jepang, Shuji yang membuatnya menerima award ini. 

Departemen pendidikan Bahasa Jepang UPI memang setiap tahunnya selalu mendominasi kejuaraan Shuji di kontes tingkat Jawa Barat. 

Hal ini berkat dukungan orang Jepang seperti Hamana Yuka dan kawan-kawannya untuk berlatih bersama-sama setiap minggunya. Tentunya semangat dan latihan yang tekun dari Destari-san membuatnya memenangkan kontes shuji tersebut.

Semoga mahasiswa UPI lainnya dapat mendapat hikmahnya dan mungkin dapat menjadi motivasi juga untuk diri sendiri agar belajar lebih giat dalam hal apapun.

Destari-san, terima kasih atas artikelnya.Sukses selalu.

 

Pendidikan Bahasa Jepang
Translate »