Cerita Alumni.

Minasan, konnichiwa!

Kali ini admin menerima tulisan dari alumni Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI yang bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang-Indonesia. Bagaimana sih pekerjaan interpreter itu? Apa yang kita perlu siapkan untuk dapat terjun ke dalam dunia kerja sebagai interpreter? Waktu kuliahnya di DPBJ UPI, Fuji-san belajarnya seperti apa ya? 

Yuk simak tulisan Fuji-san berikut.

“Bekerja di Perusahaan Jepang”

Fuji Hartoyo (Alumni DPBJ UPI Angkatan 2005)

Menjadi penerjemah atau interpreter bahasa Jepang dan bekerja di perusahaan Jepang bukan tujuan utamaku. Tapi, dengan pekerjaan inilah aku bisa lebih mandiri secara finansial dan juga lebih tertantang karena setiap hari merupakan medan perang yang harus aku ikuti, apalagi jika ada rapat dengan orang Indonesia dan orang Jepang. Aku harus pilih siapa? Terkadang aku disebut pengkhianat jika memilih sang bos: orang Jepang.

Perkenalkan, namaku adalah Fuji angkatan 2005 Bahasa Jepang UPI.

Awal mula memilih jurusan bahasa Jepang

Kuliah di jurusan pendidikan bahasa Jepang di Universitas Pendidikan Indonesia merupakan privilege bagiku. Bagaimana tidak. Aku yang dari keluarga biasa harus mengupayakan dengan lebih baik dibandingkan temanku yang lebih mudah masuk universitas ternama atau hanya sekedar masuk universitas tertentu. 

Aku harus belajar lebih giat tanpa embel embel les di tempat “les lolos SNMPTN”. Jangankan les ditempat biasa, untuk daftar ujian masuk perguruan tinggi negeri saja aku harus menabung satu tahun agar bisa beli formulir, daftar ujian, dan ada ongkos bolak balik ke Bandung. Tentunya biaya makan selama bolak balik tersebut. Sudah dipastikan aku hanya di rumah untuk membantu usaha selama satu tahun setelah lulus SMA dan mengumpulkan uangnya untuk keperluan pendaftaran.

Dari awal sebenarnya aku sudah diingatkan keluarga bahwa aku tidak akan kuliah. Tidak ada biaya! Aku mengerti hal itu. Bahkan, nenekku pernah berkata sedari kecil bahwa aku harus menjadi tukang becak. Tidak salah menjadi tukang becak, tapi aku ingin lebih dari itu dan aku yakin bisa menggapainya. Dan, aku hanya ingin membuktikan bahwa semangatku ini pasti ada ujung positifnya. Aku simpan impian kuliah dan selalu memanjatkan pada Allah agar diberikan jalan untuk bisa kuliah, dimanapun.

Alhamdulillah, ternyata doa yang aku panjatkan dan yakini berbuah hasilnya. Aku lolos tes SNMPTN dengan jurusan bahasa Jepang UPI Bandung. Saat itu, di desaku jarang sekali ada orang yang bisa masuk dan lolos masuk ke PTN favorit seperi UPI. Lolosnya aku di perguruan tinggi negeri ini membuat keluargaku berfikir keras. Apakah akan melewatkan kesempatan emas buatku atau memberi kesempatan?

Dengan berat hati akhirnya keluarga sepakat urunan secara finansial dan memberikan kesempatan untuk kuliah kepadaku dengan kekurangan kekurangan yang harus aku hadapi.

Semenjak itu aku bertekad untuk bisa bekerja di perusahaan Jepang agar dapat uang lebih dengan kemampuan bahasa Jepang yang nanti akan dimiliki.

Lulusan Jurusan bahasa Jepang akan menjadi apa?

Dengan gelar bahasa Jepang yang telah aku dapatkan, akan menjadi apa nanti? Aku mulai goyah. Jika hanya ingin bekerja di perusahaan Jepang , hal itu masih terlalu lebar, belum spesifik.

Tiba tiba aku ingat cita cita sedari kecil. Aku ingin menjadi seorang guru. Menurutku, guru sangat berjasa pada setiap orang, meskipun kebanyakan secara finansial kurang membantu ekonomi keluarga.

Tapi dengan passion yang tinggi terhadap pekerjaan guru, maka kekurangan apapun bisa diatasi. Lagipula, aku dari jurusan pendidikan bahasa Jepang, maka akan sangat cocok.

Pemikiran itu tidak salah, tapi jika dari awal aku tahu bahwa kuliah di pendidikan bahasa Jepang seperti membuka gerbang pekerjaan lain, maka pasti akan sangat beruntung.

Kini aku mengetahui bahwa lulusan bahasa Jepang bisa memasuki pekerjaan lain dengan mudah dan bersaing tinggi. Beberapa profesi teman seangkatan maupun kouhai senpai sangat beragam.

Berbagai pekerjaan untuk lulusan bahasa Jepang

Kita bisa menjadi apapun yang kita mau untuk bekerja. Selama berusaha, maka hal tidak mungkin akan menjadi mungkin. Beberapa teman seangkatan bahasa Jepang ada yang menjadi dosen bahasa Jepang, PNS, guru bahasa Jepang, Ibu Rumah Tangga, Pramugari, Wiraswasta, Penerjemah, Karyawan pabrik, Pengacara, dll.

Aku juga pernah melihat kouhai dan senpai yang mempunyai pekerjaan unik seperti penulis skenario di televisi nasional, penulis buku, penyiar radio, dll.

Ternyata pekerjaan yang digeluti oleh lulusan bahasa Jepang beraneka ragam dan tidak terpaku pada hal yang berbau bahasa Jepang.

Bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang di perusahaan Jepang

Dan, inilah ceritaku sebagai seorang penerjemah atau interpreter perusahaan Jepang yang ada di Indonesia.

Aku beberapa kali bekerja sebagai bagian dari HRGA (Human Resources and General Affair) di perusahaan Jepang. Pada awal karir, aku hanya membantu bagian HRGA yang ada hubungannya dengan orang Jepang. Biasanya membantu staf HRGA lain ketika antar jemput orang Jepang, mengurus keperluannya, menerjemahkan sedikit dokumen atau menjadi interpreter dadakan.

Setelah pengalamanku bertambah, aku mulai lebih banyak menjadi seorang interpreter bahasa Jepang di lapangan.

Bekerja di perusahaan Jepang sangat berbeda dan sangat menguras waktu, tenaga dan mental. Jadi, bagi kalian yang ingin bekerja di perusahaan Jepang, harus mempunyai mental baja.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat menjadi seorang interpreter:

  1. Bahasa Jepangmu tidak bagus

Iya, aku merasakan ini setelah lulus kuliah. Ternyata bahasa Jepang yang aku dapat dan yang akan aku gunakan digenba berbeda. Bisa jadi karena aku kurang fokus saat kuliah dulu. But, show must goes on! Setelah berjalannya waktu, aku jadi terbiasa dan banyak belajar saat di perusahaan.

Kita juga harus membiasakan diri untuk belajar lagi dengan kosakata bahasa bahasa Jepang yang asing di dunia industri. Ingat, belajar sepanjang hayat.

  1. Gaji besar dan bonus

Siapa yang tidak ingin gaji besar dan bonus di perusahaan Jepang. Hampir semua orang pasti ingin bekerja dan mendapakan gaji yang besar agar bisa mandiri secara finansial atau bisa membantu keuangan keluarga dengan jerih payah kita. Dengan bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang, kamu bisa mendapakan gaji yang cukup besar dibandingkan pekerjaan sejenis.

Akupun kaget ketika aku disodorkan jumlah gaji interpreter bahasa Jepang pertama kali. Jumlah yang sangat besar bagiku.

Bahkan, karena interpreter dekat dengan presiden direktur, gaji juga bisa negosiasi lagi dengan mereka langsung. Aku pernah mendapakan pengalaman ketika gajiku tidak sesuai dengan jam kerja dan proporsi kerja. Selama 6 bulan pertama aku hanya membuktikan bagaimana aku bekerja, lalu setelahnya aku bernegosiasi terkait gaji yang aku dapatkan saat itu. Alhamdulillah gajinya naik hampir 50%. Ingat, tunjukkan prestasimu dulu ya.

  1. Pilih orang Jepang atau orang Indonesia

Ketika rapat berlangsung, mau tidak mau, aku harus jadi seorang penyambung lidah, bahkan bukan hanya penyambung lidah, aku juga diharapkan sebagai penengah jika terjadi ketegangan.

Akibatnya serba salah. Jika aku lebih condong orang Indonesia, maka aku akan di blacklist oleh orang Jepang tersebut karena hanya mementingkan orang Indonesia, tapi ketika memilih orang Jepang, aku di cap pengkhianat.

Untuk level pengkhianat ini, aku masih kurang sreg dan sering tersinggung. Aku lebih memilih siapa yang benar dan berusaha agar mereka mendapatkan win win solution. Well, tidak semua orang terpuaskan.

  1. Pekerjaan tidak sesuai

Adakalanya pekerjaan yang kita dapatkan tidak sesuai. Meskipun begitu, kita hars tetap berusaha belajar.

Aku pernah diminta data terkait pertumbuhan sales selama 6 bulan ke belakang. Waduh, terkait sales saja tidak mengerti, apalagi pertumbuhan sales. Contoh lainnya adalah diminta data statistik produksi, padahal tugas setiap hari hanya menerjemahkan. Susah? Banget, tapi harus dikerjakan sebisa mungkin.

  1. Komunikasi

Bagi kamu yang aktif di himpunan ataupun organisasi lainnya, selamat, kamu telah selangkah lebih maju dari temanmu. Kenapa? Dalam dunia perusahaan, komunikasi efektif sangat dibutuhkan. Bagi yang terbiasa komunikasi di organisasi atau himpunan, itu adalah modal besar. Kamu akan terbiasa dalam menghandle sebuah organisasi.

Pengalaman interview di perusahaan Jepang

Sebelum bekerja di perusahaan Jepang, inilah salah satu tahap penting ketika akan masuk perusahaan Jepang di Indonesia.

Ada banyak cara untuk masuk ke perusahaan Jepang. Kamu bisa apply di lowongan kerja online, offline, kenalan, saudara atau bahkan senpai dan kouhai. Inilah pentingnya komunikasi agar hidup kita jadi lebih mudah.

Bagi yang tidak punya kenalan sekalipun, kamu bisa minta dicarikan lembaga pencari kerja untuk bekerja di perusahaan Jepang. Selama aku masuk perusahaan Jepang, aku dibantu oleh lembaga pencari kerja.

Aku paling deg degan ketika harus interview dengan presiden direktur yang orang Jepang asli. Kenapa? Disamping sering tidak percaya diri dengan kemampuan bahasa Jepang, aku juga dilanda gugup duluan.

Tapi alhamdulillah, selama interview berlangsung, cukup lancar dan justru seringnya kita tertawa dan akrab. Meskipun pada akhirnya ditolak atau dipilih.

Beberapa hal yang telah aku sampaikan di atas mungkin tidak seberapa, tapi setidaknya kalian akan bisa lebih siap lagi dengan baik dari mulai kuliah bahasa Jepang sampai bekerja di perusahaan Jepang nanti.

Suka duka sebagai interpreter bisa juga kalian baca di blog fujiharu

Semoga dengan sedikit gambaran terkait pekerjaan interpreter ini bisa memberikan informasi buat kalian semua.

Link: https://www.fujiharu.com/ 

Fuji-san terima kasih telah berbagi pengalaman tentang kehidupan semasa menjadi mahasiswa DPBJ UPI dan semasa bekerja setelah lulus. Semoga cerita sempai ini dapat memberi gambaran kepada kouhainya tentang tuntutan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Bagi para sempai yang ingin berbagi cerita dengan kouhainya, silakan kirimkan tulisan melalui email ke dewikusrini.upi.edu. Kami tunggu.

 

 

 

Translate ยป