Assalammualaikum, halo semua! Perkenalkan, saya Indah, mahasiswi Pendidikan Bahasa Jepang UPI angkatan 2011. Saya pada tahun 2014 Alhamdulillah berkesampatan untuk dapat memenuhi salah satu mimpi saya yaitu pergi ke Jepang, bahkan sampai 3 kali keberangkatan dalam satu tahun. Mengapa dapat demikian? Apa yang terjadi? Apa yang saya telah perbuat?

Singkat cerita, itu semua berawal dari kecemasan saya. Pada April 2013 saya mengikuti lomba pidato bahasa Jepang grup A di Unpad (pasti tahu hehe), dan di luar perkiraan saya mendapatkan juara 1. Biasanya, pemenang pidato grup A tidak mendapatkan hadiah lain selain piala dan buku, akan tetapi untuk pertama kalinya dalam sejarah bunkasai (pekan budaya) Unpad, juara 1 pidato mahasiswa grup A mendapatkan hadiah jalan-jalan selama sekitar 1 minggu di Hamamatsu-shi, Shizuoka-ken, Jepang. Akan tetapi, muncul permasalahan dimana pihak penyelenggara baru saja memberangkatkan juara pidato SMA (lomba di ITB september 2012), sehingga tidak dapat memberangkatkan lagi pada tahun yang sama (2013).

Ditengah terombang ambingnya status keberangkatan, saya yang merasa cemas tidak akan dapat berangkat, akhirnya mencoba cara-cara lain untuk berangkat ke Jepang, salah satunya adalah tes Ryuugaku (studi luar negeri) yang diadakan oleh jurusan. September 2013, muncul pengumuman tes untuk ke Univ. Ibaraki. Saya sebenarnya tidak ingin kuliah dengan uang pribadi (shihi), tapi saya tetap mengikuti tes tersebut dengan tujuan mengukur sudah sejauh mana kemampuan saya (meskipun saya telah lulus N2 pada tes Juli 2013). Ketika pengumuman hasi tes keluar, ternyata nama saya muncul di urutan ke-3. Dikarenakan kuota untuk pendaftar (lulus tes di Jurusan belum tentu diterima di Universitas di Jepangnya) ryuugaku ke masing-masing Universitas itu pada saat itu paling banyak 2 orang, jadi saya sudah menganggap saya tidak termasuk. Akan tetapi, tiba-tiba peringkat 5 besar dipanggil ke ruang dosen, otomatis saya juga terpanggil. Kemudian muncul keputusan dimana peringkat 1 mendapatkan kesempatan mendaftar ke Univ. Pendidikan Nara (Nara Kyouiku Daigaku), peringkat 2 dan 3 ke Universitas Kanazawa, dan peringkat 4 dan 5 ke Universitas Ibaraki. Saya saat itu merasa senang tiada tara.

Kemudian, muncul peringatan dari dosen yang membantu kami saat proses pendaftaran dan sebagainya saat itu, yaitu Novia Hayati sensei, bahwa program saya (Kanazawa University Student Exchange Program “KUSEP”) hanya dapat mengajukan beasiswa JASSO untuk biaya hidup dimana tahun-tahun sebelumnya tidak ada senpai yang berhasil lolos untuk mendapatkannya. Jeeeeeeng. Kemudian dikarenakan saat itu dari pasca sarjana mengajukan 2 orang ke KU, maka pihak KU hanya dapat membiayai biaya kuliah saya selama 1 semester. Jeeeeeeeng. Akhirnya, saya bersedia mendaftar program dengan syarat saya akan terima apabila saya mendapatkan JASSO.

Saya pun kembali mencari cara lain agar dapat berangkat ke Jepang dikarenakan saya tidak yakin dengan hasil penerimaan JASSO. Cara berikutnya adalah program JBIP (Japan Business Internship Program) yang saat itu tesnya diikuti oleh mahasiswa UPI, UNJ, dan UMY. Ketika menjelang tes wawancara JBIP (sekitar akhir Februari 2014), saya belum mendapatkan konfirmasi keberangkatan saya untuk yang hadiah pidato waktu itu. Akhirnya, saya lulus tes program JBIP, dan ketika mengikuti pelatihan bahasa Jepang bisnis selama sebulan, barulah saya mendapat kepastian keberangkatan untuk hadiah pidato. Maka, saya sudah dipastikan berangkat ke Jepang dua kali dengan jarak 2 minggu antara kepulangan yang pertama dan keberangkatan ke-dua.

Selama di kota Hamamatsu, saya berkesempatan mempresentasikan secara singkat mengenai Indonesia pada umumnya dan Bandung pada khususnya di Hamamatsu Minami Koukou (SMA Selatan Hamamatsu) dan Shizuoka Bunka Geijutsu Daigaku (Universitas Budaya dan Seni Shizuoka). Selain itu, kami (saya, satu orang siswa juara pidato SMA, dan dua orang dosen pendamping dari Univ. Widyatama) juga berkesempatan berkunjung ke Kampus Hamamatsu Universitas Shizuoka, Miyuki Seisakusyo (Pabrik Miyuki), dan Hamamatsu Japanese Language College. Dua hari terakhir sebelum berpulang ke Indonesia kami (saya dan juara pidato SMA) diajak untuk menikmati kota Tokyo dan Disneylandnya.

Malam sebelum penerbangan ke Indonesia, saya menerima e-mail dari Novia sensei bahwa saya mendapatkan beasiswa JASSO, dimana berarti saya sudah tidak dapat menolak keberangkatan saya ke KU yang dijadwalkan berangkat pada akhir september 2014.

2 minggu berselang setelah kepulangan dari hadiah pidato, saya dan rekan-rekan JBIP 2014 bertolak ke Jepang. Setibanya di sana, setelah semalam di Osaka, 8 dari 20 orang peserta JBIP (termasuk saya) bertolak ke Tokyo karena tempat kami magang selama satu bulan kedepan adalah di sana. Saya beserta 3 orang lainnya ditempatkan di Oriental Land Co., Ltd. atau yang orang kenal sebagai perusahaan pengelola Tokyo Disneyland dan Tokyo Disneysea. Selama sekitar sebulan saya mendapatkan berbagai pengalaman berharga dari mulai etos kerja orang Jepang sampai kerasnya kehidupan ibukota, hehe. Selain bekerja, kami juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan homestay selama semalam di rumah salah satu rekan kerja. Saya berkesempatan membuatkan nasi goreng untuk mereka juga. Selain itu, saya juga diajak berkeliling Tokyo Dome dan sekitarnya, dan berkesempatan menonton pertandingan Baseball (saat itu salah satu tim yang main adalah tim GIANTS).

Kemudian pada tanggal 29 September 2014, setelah sempat istirahat dan mengurus beberapa dokumen penting lain, saya bertolak ke Jepang untuk mengikuti program KUSEP. Sebelumnya pada bulan Juli di tahun yang sama, saya yang kaget karena membaca keterangan bahwa harus membayar kuliah semester pertama (saya kira yang berbayar adalah semester kedua) memberanikan diri bertanya pada pihak KU mengenai boleh tidaknya saya menerima keringanan mengenai kebijakan tersebut. Alhamdulillah, berkah bulan Ramadhan dan mungkin rezeki baju lebaran ibu saya, saya dinyatakan bebas biaya kuliah selama setahun penuh sampai program selesai, dan sebagai perwakilan mahasiswa program KUSEP (dari berbagai negara), saya diminta memberikan sepatah dua patah kata sambutan pada hari pembukaan program.

Selama di KU, saya mengikuti berbagai jenis kelas dan kegiatan dari mulai kelas bahasa Jepang sampai kelas yang diadakan oleh dosen bantuan dari Universitas PBB. Saya di sana juga arubaito (bekerja paruh waktu) di kantin kampus yang memberikan saya banyak pengalaman menarik dan bertemu banyak orang menarik dan membaut saya merasa tidak lelah ditengah kepadatan kelas dan pencarian sepeser uang untuk main (karena uang beasiswa JASSO itu cukup untuk hidup, tidak untuk main).

 

Di sana saya juga mengalami banyak pengalaman menarik bersama teman-teman orang Indonesia dalam rangka memperkenalkan budaya dan makanan Indonesia. Dari mulai pertunjukan angklung sampai jualan nasi padang dan pisang goreng pernah saya dan teman-teman alami. Saya juga mengikuti saakuru (di Indonesia seperti UKM) yosakoi (tarian tradisional jepang yang dilakukan berkelompok dan penuh semangat) berkat ajakan dari teman saya bernama Dhira dari ITB (sekarang sudah di Univ. Osaka melanjutkan S2).

Setelah itu, saya kembali pulang ke Indonesia pada Agustus 2015 untuk kembali melanjutkan kuliah saya di Universitas Pendidikan Indonesia. Sekian cerita mengenai pengalaman saya di Jepang dari mulai awal sampai pulang. Akhir kata, semoga bermanfaat, dan selamat berjuang bagi yang sedang memperjuangkan!

 

 

Pesan saya hanya satu, 一期一会 (icihigo ichie).

Pendidikan Bahasa Jepang