Deprecated: WP_Translation_Controller::load_file(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 101

Deprecated: WP_Translation_Controller::unload_file(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 156

Deprecated: WP_Translation_Controller::unload_textdomain(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 201

Deprecated: WP_Translation_Controller::is_textdomain_loaded(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 243

Deprecated: WP_Translation_Controller::translate(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 263

Deprecated: WP_Translation_Controller::translate_plural(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 297

Deprecated: WP_Translation_Controller::locate_translation(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 397

Deprecated: WP_Translation_Controller::get_files(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 430

Deprecated: WP_Translation_File::create(): Implicitly marking parameter $filetype as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-file.php on line 84

Deprecated: wp_getimagesize(): Implicitly marking parameter $image_info as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/media.php on line 5502

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php:101) in /usr/local/www/jepang/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
Cerita Mahasiswa – Pendidikan Bahasa Jepang https://jepang.upi.edu Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Tue, 17 Oct 2023 10:47:43 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.3 https://jepang.upi.edu/wp-content/uploads/2023/09/cropped-UPI-Logo-utama-merah-32x32.png Cerita Mahasiswa – Pendidikan Bahasa Jepang https://jepang.upi.edu 32 32 Project Based Learning Kenalkan Budaya Berkemah di Bandung ke Tamu Jepang https://jepang.upi.edu/project-based-learning-kenalkan-budaya-berkemah-di-bandung-ke-tamu-jepang/ Tue, 17 Oct 2023 09:25:26 +0000 https://jepang.upi.edu/?p=8670 Bandung, 17/10/2023. PSPBJ UPI telah mendapat kesempatan untuk mengenalkan Budaya Berkemah di Gunung Putri kepada Nihon-jin yaitu Kensaku-san. Berbagai kegiatan dilakukan disaat Berkemah, seperti membangun TENDA, memasak, dan lain lain…

Tidak lupa teman – teman Kelas A kelompok saya juga berlatih Kotoba dan Kaiwa bersama Kensaku-san itu sendiri, banyak sekali hal yang dilakukan salah satunya membuat Kensaku-san menangis karna memakan mie instant yang sangat pedas yang di lakukan oleh Indah Soeraya dan membuat Kensaku-san trauma haha.

Juga berbagai hal mengasyikan lainnya yang kelompok saya lakukan bersama Kensaku-san.

Penulis : Vito Anggana

NIM : 2209896

 

]]>
Cerita Mahasiswa : Monica Kembangkan Hobi Jadi Prestasi https://jepang.upi.edu/cerita-mahasiswa-monica-kembangkan-hobi-jadi-prestasi/ Tue, 08 Mar 2022 02:14:42 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8205

Cerita Mahasiswa. 

Kali ini admin menerima tulisan dari Monica-san yang telah meraih 3 penghargaan sekaligus di bulan Februari lalu terkait pengalamannya dan motivasinya mengikuti berbagai lomba. Semoga tulisan Monica-san dapat memotivasi kita semua untuk berusaha lebih baik.

Mengembangkan Hobi Menjadi Prestasi

Monica Yulistia (monicayulistia02@gmail.com)

Minasan, konnichiwaaa!^-^ Pada kesempatan kali ini saya Monica Yulistia, salah satu mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI, akan berbagi cerita tentang pengalaman saya mengikuti berbagai lomba, diantaranya lomba menulis sakubun, lomba mendesain poster, dan fotografi.

Menurut saya, menyeimbangkan kegiatan akademik dan non-akademik merupakan hal yang penting. Disela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang, biasanya saya mengisi waktu luang dengan menekuni hobi-hobi saya seperti membaca, menulis, menggambar, dll. Pada awalnya, prestasi yang telah saya raih ini hanyalah sebuah hobi. Namun, jika kita dapat menekuni hobi kita dengan serius dan teratur, hobi itu lambat laun dapat berkembang menjadi sebuah keterampilan.

Saat berselancar di media sosial, saya menemukan berbagai informasi mengenai perlombaan yang berkaitan dengan hobi saya, baik perlombaan dalam lingkup akademik maupun non-akademik. Awalnya saya tidak percaya diri, namun akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk mengikuti lomba-lomba tersebut.

Lomba akademik yang saya ikuti adalah lomba menulis sakubun yang diselenggarakan oleh Japan Station, sebuah platform pembelajaran bahasa dan kebudayaan Jepang. Tema dari sakubun yang saya tulis adalah “Shourai no Yume”, menceritakan mimpi-mimpi saya di masa depan. Karena sudah sering berlatih menulis sakubun saat di perkuliahan, akhirnya saya dapat menyelesaikan tulisan untuk perlombaan ini dengan lancar dan alhamdulillah saat pengumuman pemenang, nama saya disebut sebagai Juara 1 lomba sakubun.

Selain mengikuti lomba akademik, saya juga mengikuti lomba non-akademik yang berkaitan dengan hobi saya, yaitu lomba mendesain poster dan lomba fotografi. Lomba poster ini diselenggarakan oleh sebuah unit kegiatan mahasiswa UNESA. Poster yang saya buat berjudul “Hanakotoba : Express Yourself with Flowers”.

Poster yang saya buat ini terinspirasi dari video perkenalan member Nogizaka46, salah satu idol group Jepang favorit saya. Uniknya, Nogizaka46 mencoba memberi gambaran sosok member baru yang akan bergabung dengan idol grup tersebut melalui setangkai bunga. Setelah saya telusuri, ternyata dalam budaya Jepang terdapat istilah “Hanakotoba” atau bahasa bunga. Di Jepang, bunga kerap menjadi simbol dan memiliki makna tertentu. Orang-orang Jepang mempunyai cara yang unik untuk mengekspresikan emosi dan perasaan mereka melalui bunga, tanpa mengungkapkan kata-kata. Warna bunga, bentuk, tinggi, dan keberadaan duri dari bunga tersebut, semuanya mengomunikasikan emosi tertentu. Hal ini membuat saya tertarik untuk membahas hanakotoba di dalam poster saya, poster inipun berhasil menarik perhatian orang-orang yang melihatnya dan menjadikannya poster terfavorit dalam perlombaan ini.

Selanjutnya, saya mengikuti lomba fotografi yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa Meteorologi ITB. Karena saya gemar memotret langit, jadi saya memilih tema fenomena cuaca dalam lomba fotografi ini. Tidak hanya fotonya saja, tetapi caption yang menjelaskan tentang fenomena cuaca dalam foto tersebut juga dinilai. Foto yang saya ikutsertakan dalam lomba ini berjudul hikouki gumo atau jejak awan pesawat, captionnya berisi penjelasan ilmiah tentang bagaimana proses awan lurus terbentuk ketika pesawat melintasi langit. Foto yang saya kirimkan itu meraih juara kategori like terbanyak dalam perlombaan tersebut. Untuk fotografi, biasanya saya menggunakan disposable camera karena hasil fotonya lebih menarik dibanding kamera digital biasa.  

Itulah cerita pengalaman saya mengikuti berbagai lomba. Dimulai dengan melakukan hal-hal yang disukai, hobi yang kita punya ternyata dapat berubah menjadi prestasi jika dikembangkan dengan ketekunan dan tekad yang kuat. 頑張って!^-^

]]>
Cerita Mahasiswa : Pengalaman Hasna Ikuti International Students’ Colloquium Hiroshima University- Universiti Sains Malaysia-UPI https://jepang.upi.edu/cerita-mahasiswa-pengalaman-hasna-ikuti-international-students-colloquium-hiroshima-university-universiti-sains-malaysia-upi/ Tue, 08 Mar 2022 01:43:59 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8202

Cerita Mahasiswa.

Berikut admin menerima tulisan dari mahasiswa DPBJ UPI bernama Hasna-san, yang telah mengikuti kegiatan koloqium beberapa waktu lalu. Untuk lebih jelas dapat disimak pada tulisannya di bawah ini.

Pengalaman Mengikuti International Students’ Colloquium Hiroshima University- Universiti Sains Malaysia-Universitas Pendidikan Indonesia

Hasna Aulia Ramadhan – 1803682

Bismillah, saya ucapkan terima kasih kepada sensei gata yang sudah membimbing saya selama berkuliah di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang. Melalui informasi yang dibagikan oleh dosen wali yaitu Bu Dr. Linna Meilia Rasiban, S. Pd., M. Pd. , saya berkesempatan untuk menjadi volunteer di DIA (Directorate of International Affairs) UPI. DIA merupakan gerbang utama mengikuti berbagai kegiatan Internasional.

Tahun 2021, Melalui Sahabat DIA saya mencoba mendaftar menjadi delegasi International Students’ Colloquium Hiroshima University – Universiti Sains Malaysia – Universitas Pendidikan Indonesia. Pada saat itu host country nya Universiti Sains Malaysia, namun dikarenakan situasi dan kondisi acara International Students’ Colloquium tidak dapat berlangsung di Malaysia. Colloquium merupakan agenda tahunan oleh ketiga universitas tersebut, dimana para delegasi masing-masing universitas menyampaikan riset nya berkaitan dengan tema, menjadi ajang pertukaran budaya antar negara, diskusi mengenai SDG atau Sustainable Development Goals yang digagas oleh United Nations sehingga menghasilkan draft resolution.

Alhamdulillah tahun 2022 saya diamanahkan untuk menjadi delegasi UPI lagi di acara The 9th International Students’ Colloquium yang baru saja selesai dilaksanakan pada tanggal 22-24 Februari 2022 dan inshaAllah akan ada serangkaian Colloquium lanjutan di bulan Agustus 2022.

Sebelum acara berlangsung kami para delegasi UPI selaku host country tahun ini juga menjadi panitia yang mempersiapkan segala sesuatu agar acara dapat berjalan dengan lancar. Saya diamanahi menjadi Koordinator bidang media, desain dan publikasi bersama Fabian, Chihiro dan Kohei Ando delegasi dari Malaysia dan Jepang. Hari pertama International Colloquium, kami para delegasi menyampaikan riset kami lalu masing – masing delegasi dipersilahkan untuk bertanya, memberikan saran, masukan dan kritikan. Lalu dilanjutkan dengan Virtual Cultural Day, dimana antar negara menampilkan budaya dan membagikan latar belakang sejarah budayanya masing masing, para delegasi Indonesia menggunakan baju kebaya dan pangsi. Hari kedua, kami berdiskusi mengenai salah satu topik SDG yang sudah ditentukan. Saya bertugas menjadi moderator pada saat itu dengan topik “Gender Equality”. Selanjutnya representative dari setiap topik menyampaikan draft resolution yang sudah di diskusikan di breakout room zoom dan tak lupa ada games untuk mempererat ikatan antar delegasi. Hari terakhir kegiatannya berupa Cooking Class dimana masing masing negara memasak makanan khas dari negara lain. Indonesia memperkenalkan Tempe Mendoan termasuk cara memasak dan juga sejarah makanan tersebut. Indonesia juga perlu memasak Okonomiyaki masakan dari Jepang dan Bubur Butir Nangka dari Malaysia. Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar.

Pembelajaran yang bisa saya dapatkan diantaranya, memperluas perspektif mengenai banyak hal, bekerjasama dengan tim internasional tentunya jadi mengetahui bagaimana cara komunikasi yang baik dengan berbagai budaya yang berbeda, terkhusus media dan publikasi berbeda dengan budaya di Jepang, orang Jepang sangat menghargai privacy sehingga segala sesuatunya perlu persetujuan dari pihak bersangkutan. Raising Awareness terhadap isu-isu yang sedang kita hadapi bersama di dunia. Berharap bisa terus berkolaborasi untuk give back to the society. Semua pembelajaran yang saya dapat merupakan bekal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan saya, salah satunya bermanfaat bagi orang banyak dalam ranah Internasional. Tentu semua kesempatan dan kebaikan datang dari doa dan dukungan orang-orang sekitar, termasuk sensei gata yang sudah membentuk saya hingga detik ini. Doa-doa terbaik untuk para guru kami, semoga keberkahan selalu menghampiri aamiin. いろいろ教えていただいてありがとうございました。

 

]]>
Kesan Pesan Nadiya, Lulusan Terbaik Sidang Januari 2022 https://jepang.upi.edu/kesan-pesan-nadiya-lulusan-terbaik-sidang-januari-2022/ Fri, 11 Feb 2022 07:35:30 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8169

Berikut ini ada kesan dan pesan dari teman kita, Nadiya Nurhamidah Hidayat sebagai lulusan terbaik DPBJ pada sidang Januari 2022. Mari kita simak bersama-sama.

Kesan Pesan Kelulusan

(Nadiya Nurhamidah Hidayat)

Puji syukur tak hentinya saya panjatkan kepada Allah Swt. karena atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan studi S1 di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI. Sungguh hal yang tidak terduga dan suatu kehormatan bagi saya, menjadi lulusan terbaik pada ujian sidang periode Januari 2022. Betapa bahagianya saya dapat memberikan kabar kelulusan yang menggembirakan ini kepada ayah dan ibu di rumah. Saya bisa mencapai titik ini tentunya tidak lepas dari perjuangan dan doa ayah, ibu, keluarga, serta bimbingan dan arahan dari para dosen.

Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di Bandung, diantar ayah dan ibu, menatap indahnya gedung Isola, menghidup sejuknya udara, mengalunkan harapan-harapan untuk masa depan. Rasanya baru kemarin juga saya menghabiskan waktu hingga larut di kampus, ikut serta merancang berbagai kegiatan himpunan, mengerjakan tugas-tugas, atau sekadar bersenda gurau bersama teman-teman. Renyah tawa mereka masih terbayang hingga sekarang.

Tanpa terasa saat ini saya sudah mencicipi bagaimana rasanya kepala berputar memikirkan ide, lalu berkutat memahami teori-teori dan hasil-hasil studi terdahulu, untuk kemudian menuangkannya ke dalam tulisan-tulisan melalui diskusi-diskusi panjang dengan pembimbing, sehingga akhirnya saya dapat menyandang sebuah gelar Sarjana Pendidikan. Namun, capaian ini tentu bukanlah garis finis. Masih ada jalan yang harus ditempuh, pertanyaan-pertanyaan yang harus dipecahkan.

Untuk itu, saya ingin memberikan ucapan terima kasih khususnya kepada dosen-dosen kami di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI:

Ibu Dr. Susi Widianti, M.Pd., M.A., selaku Ketua Departemen, yang selalu mendukung semua kegiatan positif mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang.

Ibu Dra. Neneng Sutjiati, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Akademik Kelas C, yang selalu membimbing dan membantu saya dan teman-teman sekelas saat ada kesulitan.

Bapak Drs. Ahmad Dahidi, M.A., yang cerita-cerita hebatnya selalu kami tunggu-tunggu di kelas. Cerita tentang pengalaman Bapak Ahmad menjadi juara lomba pidato di Jepang tempo hari sukses membuat seisi kelas berdecak kagum.

Ibu Dra. Renariah, M.Hum., yang begitu luas pengetahuannya tentang huruf kanji, selalu bisa memberikan cara-cara termudah dan menarik untuk saya dan teman-teman di kelas dalam memahami huruf-huruf kanji. Ibu Rena juga salah satu yang banyak membantu saya sehingga saya bisa berangkat ryuugaku.

Bapak Drs. Sudjianto, M.Hum., yang pembawaannya tegas, namun gaya mengajarnya selalu bisa membawa gelak tawa di dalam kelas. Pelajaran dokkai yang sulit sekalipun menjadi pelajaran yang ditunggu-tunggu.

Bapak Drs. Aep Saeful Bachri, M.Pd., yang selalu serius dalam membawa materi pelajaran di kelas.

Ibu Dra. Melia Dewi Judiasri, M.Hum., M.Pd., atau yang akrab disapa Ibu Poppy, selalu meminta kami membuat contoh kalimat dalam pelajaran bunpou di kelas. Perihal membuat contoh kalimat ini selalu membuat berdebar, tapi saya menyukainya.

Bapak Drs. Sugihartono, M.A., yang selalu memulai kuliah tepat waktu, bersiap di kelas beberapa menit sebelum pelajaran dimulai.

Bapak Prof. Dr. Dedi Sutedi, M.A., M.Ed., yang pembawaannya penuh wibawa, suaranya selalu lantang saat menjelaskan materi.

Ibu Dr. Herniwati, S.Pd., M.Hum., yang pelajaran kaiwa nya selalu menyenangkan, diselingi bermain role play.

Ibu Dianni Risda, S.Pd., M.Ed., yang selalu menjelaskan materi dengan sangat terperinci. Pelajaran dokkai yang kalimatnya kompleks dan membuat kepala pusing, sekali diuraikan oleh Ibu Dianni, seisi kelas termanggut-manggut mengerti.

Ibu Dewi Kusrini, M.Pd., M.A., yang semangatnya selalu menjadi motivasi bagi saya untuk terus mencoba. Mulai dari lomba pidato bahasa Jepang, lomba presentasi bahasa Jepang, sampai menulis artikel ilmiah. Ibu Dewi seakan tidak pernah kehabisan ide untuk memotivasi mahasiswanya mencoba hal-hal baru.

Ibu Novia Hayati, M.Ed., Ph.D, walaupun selama perkuliahan saya tidak berkesempatan  bertatap muka dan menyimak pelajaran di kelas Ibu Novia, saya harap suatu saat ada kesempatan untuk menyerap ilmu dari beliau.

Ibu Dr. Linna Meilia Rasiban, S.Pd., M.Pd., yang selalu menjelaskan materi kuliah dengan pembawaan yang tenang.

Ibu Dr. Juju Juangsih, S.Pd., M.Pd., yang selalu membawakan materi dengan senyuman menyenangkan, membuat enjoy seisi kelas.

Ibu Noviyanti Aneros, S.S., M.A., selama perkuliahan saya tidak berkesempatan menyimak pelajaran di kelas Ibu Novi. Namun, beliau selalu mengulas senyum jika saya memberi salam saat kebetulan berpapasan di kampus.

Ibu Nuria Haristiani, M.Ed., Ph.D, yang sangat teliti dan selalu terperinci. Pembawaannya selalu serius saat menjelaskan materi di kelas.

Serta, Ibu Via Luviana Dewanty, S.S., M.Pd., selama perkuliahan saya juga tidak berkesempatan menyimak pelajaran di kelas Ibu Via. Walaupun begitu, saya pernah beberapa kali berinteraksi dengan beliau, seperti saat meminta izin dan kesediaan beliau untuk menjadi juri salah satu perlombaan di Japanzuki, saat menulis artikel ilmiah, bahkan juga saat tidak sengaja bertemu di kantin. Dan pada setiap kalinya, Ibu Via selalu menyambut dengan senyuman ramah.

Saya sangat bersyukur bisa bertemu dosen-dosen hebat, dosen-dosen yang tulus memberikan ilmu kepada mahasiswa-mahasiswanya di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI ini. Besok lusa, ilmu dan bimbingan dari Bapak Ibu dosen yang saya dan teman-teman dapatkan disini, akan menjadi pelita untuk menerangi jalan kami kedepannya.

]]>
Pengalaman Nenny Mahasiswa DPBJ Tinggal Di Jepang https://jepang.upi.edu/pengalaman-nenny-mahasiswa-dpbj-tinggal-di-jepang/ Fri, 28 Jan 2022 05:28:06 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8143

Cerita Mahasiswa.

Berikut adalah cerita dari teman kita, Nenny Febrianny Yasa Putri, yang sedang ryuugaku di Universitas Kanazawa (Kanazawa Daigaku) Jepang. Kita sama-sama simak yuk ceritanya…

Pengalamanku Tinggal di Jepang

Pada tanggal 28 November 2021 saya pertama kali menginjakan kaki di negara Jepang. Rasanya senang sekali, karena ini adalah salah satu mimpi saya. Begitu sampai disini, saya langsung terpikir apa kehidupan di Jepang itu terlihat sama menyenangkan seperti yang saya sering lihat di internet. Jawabannya, benar, tapi tidak semua. Semenjak datang ke Jepang ada 4 hal yang saya perhatikan dan budayanya sangat berbeda dengan di Indonesia.

Pertama, bus. Bus merupakan alat transportasi yang sangat sering di jumpai. Mengejutkannya, kalau di Indonesia bus hanya digunakan di jalan raya saja, di sini bus melewati perumahan warga dengan jalan yang terbilang sempit. Namun, bukan hanya itu yang membuat saya terkejut. Meskipun di dalam bus tertulis “bangku prioritas”, namun prinsip disini adalah “siapa cepat dia dapat”. Jadi, meski terdapat lansia yang tidak mendapat tempat duduk, mereka yang menduduki bangku lebih dulu, rata-rata mereka tidak akan memberikan kursi itu kepada lansia tersebut. Alasan yang menarik adalah terkadang para lansia tidak suka diperlakukan seperti “lansia”. Jadi, mungkin ketika kita bersikap dermawan dan memberikan kursi yang kita duduki, mungkin beberapa dari lansia tersebut akan merasa terusik. Selain itu, rata-rata orang Jepang tidak mau duduk langsung bersebelahan dengan orang lain. Meskipun masih banyak bangku kosong, mereka lebih memilih berdiri daripada duduk disebelah orang lain.

Kedua, kucing. Jika di Indonesia saya sering menjumpai banyak sekali kucing liar, di Jepang tidak ada sama sekali. Daripada kucing, saya lebih banyak melihat burung gagak. Dikatakan kalau kucing dan anjing liar di sini akan ditangkap. Dan jika beberapa dari mereka berpenyakit, ada kemungkinan lebih baik untuk dibunuh. Jadi, jika ingin melihat dan bermain dengan kucing, bisa mendatangi petshop atau cat café

Ketiga, anak kecil. Hal yang paling saya rasakan berbeda di Jepang adalah saya tidak bisa sembarang menyapa anak-anak. Alasannya, karena kita orang asing. Sebagai orang yang suka anak-anak saya sedih sekali. Ketika di Indonesia menyapa anak-anak disebut dermawan, berbanding terbali dengan di Jepang, para orang tua sang anak disini sangat mewanti-wanti anaknya dari ‘orang asing’.

Keempat, food loss. Tingkat food loss di Jepang sangat tinggi sekali. Tanggal kadaluwarsa makanan di Jepang itu lebih pendek dibandingan dari negara lain. Selain itu, jika ada makanan (di convenient store, super market, restoran dan lain-lain) yang tidak terjual, semua itu akan dibuang meskipun tanggal kadaluwarsanya masih hari selanjutnya. Jika di Indonesia makanan seperti itu bisa dibawa pulang oleh pegawainya, tapi kalau di sini tidak boleh. Alasannya karena kehigienisan, ditakutkan akan ada penyebaran bakteri.

 

]]>
Pengalaman Zahra Aprilia Ikuti MBKM Kampus Mengajar https://jepang.upi.edu/pengalaman-zahra-aprilia-ikuti-mbkm-kampus-mengajar/ Mon, 03 Jan 2022 01:52:36 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8091

Bandung, DPBJ-UPI

Cerita Mahasiswa.

Kali ini admin mendapat kiriman tulisan dari Zahra Aprilia yang telah mengikuti program Kampus Mengajar dari Agustus hingga Desember 2021. Bagi mahasiswa yang tertarik mengikuti kegiatan yang sama mari disimak cerita Zahra berikut.

Pengalaman Mengikuti MBKM Kampus Mengajar

Zahra Aprilia (aprilia.zahra41@gmail.com)

Mahasiswa peserta Kampus Mengajar 2 penempatan SDN Sindangpalay

             Kampus Mengajar (KM) adalah salah satu program yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek, program ini memberikan kesempatan selama 5 bulan dan setara 1 semester (20 sks) kepada mahasiswa untuk mengabdikan diri membantu mengembangkan pendidikan Indonesia di daerah 3T khususnya tingkat SD dan SMP yang masih memiliki akreditas B atau kurang. Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut silahkan cek pada https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/

            Apa saja syarat dan dokumen yang harus kita persiapkan untuk program ini? Pada saat saya mendaftarkan diri dalam Program Kampus Mengajar Angkatan 2, syarat yang perlu di patuhi yaitu:

  1. Mahasiswa minimal duduk di semester 5 pada semester ganjil tahun akademik 2021/2022
  2. Berasal dari seluruh program studi sarjana/sarjana terapan dari perguruan tinggi di bawah koordinasi Ditjen Dikti
  3. Memiliki IPK minimal 3 (dari skala 4)
  4. Diutamakan memiliki pengalaman mengajar atau berorganisasi

Dokumen yang perlu di siapkan, yaitu:

  1. Rekomendasi dari Dekan (atau yang setara)
  2. Pernyataan komitmen
  3. Surat izin orang tua
  4. Surat keterangan sehat
  5. Transkrip nilai
  6. Surat keterangan pengalaman mengajar/berorganisasi *tidak wajib
  7. Sertifikat prestasi *tidak wajib

Di atas merupakan syarat dan dokumen yang harus di penuhi saat pendaftaran Program Kampus Mengajar 2. Selain dokumen yang sudah disebutkan di atas, kita juga perlu membuat CV, dan untuk format surat dapat diunduh dalam web Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) atau dapat di lihat pada buku panduan Kampus Mengajar.

Setelah selesai mendaftar akan diadakan masa penilian kurang lebih 19 hari. Hasil dari penilaian akan muncul pada web MBKM. Dari hasilnya kita akan mendapatkan data tempat penempatan, dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Dalam satu kelompok terdiri atas 5-8 mahasiswa dengan 1 orang DPL yang semuanya ditentukan secara acak oleh pihak panitia. Kebetulan kelompok saya saat itu terdiri atas 6 mahasiswa yang semuanya berasal dari UPI dengan jurusan yang berbeda-beda serta berasal dari domisili yang sama, dan di bimbing oleh  DPL yang merupakan seorang dosen Teknik Elektro dari UIKA Bogor. Kami juga mendapatkan tempat penempatan di SDN Sindangpalay yang berada di kecamatan Gunung halu, Kab. Bandung Barat.

Mahasiswa yang sudah lolos, akan mendapatkan pembekalan selama kurang lebih 1 minggu dengan materi dan tugas yang beragam, meliputi :

  1. Pedagogi
  2. Literasi & Numerasi di sekolah dasar
  3. Pengenalan aplikasi Aksi Sekolah Dasar
  4. Strategi Kreatif pembelajaran luring dan daring
  5. Penerapan inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar

Materi di atas akan disesuaikan dengan tingkatan sekolah penempatan, dan ada kemungkinan materi yang akan diberikan saat KM selanjutnya akan berbeda. Pembekalan di lakukan secara Daring melalui Aplikasi meeting Online, Zoom dan Youtube Live. Saat itu kami mendapatkan beberapa pematerian dari seorang guru di salah satu SD yang berdada di daerah pedalaman Kalimantan, guru tersebut sangat kreatif dan inovatif, serta salah satu guru SMP di daerah ponorogo, yang di mana sekolah tersebut adalah sekolah campuran dengan beberapa murid yang membutuhkan perlakuan khusus. Mereka memberikan kami pembekalan secara nyata dari pengalaman mereka yang mengajar dalam berbagai kondisi yang dihadapinya.

Setelah pembekalan kurang lebih 1 minggu, kami melakukan koordinasi dengan pihak Dinas pendidikan setempat dan melaksanakan pelepasan mahasiswa yang dilakukan langsung oleh DPL kepada pihak sekolah. Untuk kelompok yang DPLnya tidak berkesempatan hadir, bisa dilakukan secara online. Saat itu DPL kami menyempatkan diri untuk hadir secara langsung dalam penyerahan mahasiswa dengan pihak sekolah.

Mahasiswa KM 2 penempatan SDN Sindangpalay, DPL, Guru-guru dan dewan pengawas saat pelepasan mahasiswa.

 

Pada pekan pertama program, akan diadakan terlebih dahulu observasi mengenai keadaan sekolah untuk pendataan dan perancangan kegiatan serta program unggulan yang akan di laksanakan mahasiswa. Rancangan kegiatan dan program unggulan ini, di rancang oleh mahasiswa dibawah sepengetahuan DPL lalu diusulkan dan didiskusikan bersama pihak sekolah. Pada pekan kedua dan seterusnya akan dilakukan kegiatan serta program sebagaimana yang sudah disepakati dengan pihak sekolah. Program-program yang dirancang harus meliputi Literasi dan Numerasi, adaptasi teknologi, dan administrasi sekolah.

Kelompok kami melakukan program adaptasi teknologi yaitu dengan mengadakan pelatihan kepada guru dan siswa. Untuk guru kami melakukan pelatihan bagaimana cara menggunakan Microsoft word dan untuk siswa kami khususkan pada kelas 5 yang akan menghadapi Asesmen Nasional di bulan November, dengan pelatihan cara menggunakan laptop dan cara mengetik.  Pada kegiatan Literasi dan numerasi kami mengajar di kelas, menyesuaikan dengan kebutuhan guru dan melakukan kunjungan perpustakaan 1 minggu 1 kali.  Lalu untuk administrasi sekolah kami juga menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

            Program unggulan kami adalah sebuah webinar mengenai sosialisasi Asesmen Nasional. Sasaran kami dalam webinar ini adalah guru-guru dari sekolah yang terdapat penempatan Kampus Mengajar di Kab. Bandung Barat. Program unggulan kami mendapat dukungan dari pihak dinas pendidikan Kab. Bandung Barat dan materi yang disampaikan oleh pemateri tingkat nasional.

            Lima bulan masa penempatan, pada tanggal 16 Desember 2021 lalu, kami melaksanakan perpisahan dan penarikan mahasiswa. Kami mendapatkan banyak pelajaran.  Mulai dari sulitnya mengatur keuangan untuk kebutuhan hidup di tempat penempatan dan sulitnya membagi waktu untuk kuliah serta kegiatan lainnya. Namun, Alhamdulillah semua itu sudah terlaksana dengan baik. Hal yang paling berkesan dalam program ini adalah saat pematerian dari guru SD dan SMP pada saat pembekalan, dan saat mengajar di kelas, karena murid-murid di sana sangat terbuka kepada kami, para guru juga sangat ramah kepada kami. Karena bagaimanapun ada kekhawatiran sebelum kami memulai program ini, karena lokasi SDN Sindangpalay yang walaupun satu kabupaten dengan tempat asal kami namun, jarak yang harus kami tempuh kurang lebih 74 km dengan estimasi perjalanan menggunakan motor kurang lebih 3 jam, dan kondisi jalan yang kurang baik karena sedang mengalami banyak perbaikan jalan di beberapa titik. Selain itu kami juga banyak membaca cerita teman seperjuangan kami di dearah lain, yang sangat kesulitan saat uang saku 2 bulan pertama yang telat cair dan beberapa kelompok mahasiswa yang di berlakukan tidak ramah hingga di tolak dari tempat penempatan.

            Semua itu terjadi karena sosialisasi pemerintah mengenai program ini dirasa masih kurang, beberapa pihak masih belum mengetahui program ini, dan kurangnya kesadaran pihak sekolah yang bersangkutan mengenai manfaat yang diberikan dari program KM ini. Namun, tidak perlu takut untuk mendaftarkan diri pada program ini, karena tidak semua sekolah tempat penempatan seperti itu, dan kami yakin sekolah yang sudah pernah terdaftar dalam list KM ingin menjadi tempat penempatan mahasiswa kembali, contohnya seperti Sekolah penempatan kami.

Jika teman-teman mendaftarkan diri untuk mengabdi dalam program ini, teman-teman akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak kita dapatkan di perkuliahan. Selain itu ada beberapa benefit yang bisa kita dapatkan, yaitu :

  1. 20 sks yang dapat dikonversi
  2. Uang saku Rp. 1.200.000/bulan
  3. Potongan UKT maksimal Rp. 2.400.000 – kali
  4. Sertifikat peserta program Kampus Mengajar.

Mari berjuang mengembangkan pendidikan di Indonesia bersama-sama. Semangat!

]]>
Firda Nurul Afiah Uji Keterampilan Berbahasa Jepang Melalui Lomba Rodoku https://jepang.upi.edu/firda-nurul-afiah/ Thu, 30 Dec 2021 07:46:01 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8078

Bandung, DPBJ-UPI. 

Cerita Mahasiswa kali ini datang dari Firda Nurul Afiah, yang telah menang juara 2 di ajang Lomba Rodoku 2021. Rodoku adalah istilah dalam bahasa Jepang yang artinya membaca nyaring. Bagaimana pelaksanaan lomba tersebut mari kita simak tulisan Firda berikut.

Uji Keterampilan Berbahasa Jepang Melalui Lomba Rodoku

Firda Nurul Afiah (firdanurulafiah@upi.edu)

Pada kesempatan ini, saya Firda Nurul Afiah, salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang UPI, ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya mengikuti lomba membaca teks bahasa Jepang atau biasa disebut lomba rodoku yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas bekerja sama dengan Nigakkai himpunan mahasiswa sastra Jepang Universitas Andalas. Mengikuti lomba ini merupakan salah satu pengalaman saya yang luar biasa khususnya dalam berlomba secara online. Pada awalnya saya mengetahui informasi mengenai lomba ini melalui sosial media Instagram yang pernah teman saya bagikan di grup. Saya penasaran dan ingin mencoba, lomba ini tidak dipungut biaya apapun, hadiah yang ditawarkan juga cukup besar dan bagi pemenang ke-1, ke-2, dan ke-3 juga akan disiarkan RRI Padang.

Oleh karena itu sistem lomba tersebut dalam pelaksanaannya dibagi menjadi tiga babak, yaitu babak pertama, babak semifinal, dan babak final. Setiap peserta wajib memvideokan diri saat membaca dan menceritakan isi teks kemudian mengunggah video tersebut di akun instagram masing-masing.

Pada babak pertama, setiap peserta lomba yang sudah mendaftarkan diri memilih satu dari 3 teks  yang sudah disediakan oleh panitia. Perlombaan yang saya ikuti kali ini bertemakan binatang “doubutsu” yaitu kisah-kisah dongeng mengenai hewan di Jepang. Cerita yang saya ambil pertama kali adalah cerita yang berjudul 蟹の商売 (Kani no Shoubai) karya 新美南吉 (Niimi Minamikichi) , setelah mengunduh teksnya, saya melakukan beberapa persiapan diantaranya:

  1. Membaca terlebih dahulu teks yang akan dibaca, panjang teks pada babak ini yaitu sekitar 1-2 halaman.
  2. Setelah dibaca kemudian saya mencari tahu makna dan arti dari kotoba yang sulit atau baru saya lihat. Apabila arti dari kotobanya cukup membingungkan, biasanya saya mencari tahu di internet mengenai gambar dari kotoba tersebut, kemudian saya mencari banyak referensi mengenai cerita tersebut baik di Youtube maupun Google, supaya mendapat gambaran intonasi seperti apa pada saat menceritakan cerita tersebut dan sebagainya. sehingga memudahkan pada saat nanti membaca teks.
  3. Sambil latihan membaca teks, biasanya saya menandai bagian-bagian mana saya harus berhenti membaca, dan membedakan suara antar tokohnya.
  4. Latihan membaca beberapa kali sambil menghitung waktu apakah terlalu cepat atau lambat.
  5. Setelah dirasa siap, maka waktunya untuk merekam video. Pada saat video membaca teks, walaupun membaca, namun sesekali harus melihat kamera dan jangan terlalu terpaku pada teks. Sama seperti mendongeng sebuah cerita.
  6. Video rekaman yang sudah selesai diunggah ke akun instagram masing-masing dengan menambahkan hashtag yang sudah diberitahukan oleh panitia sebelumnya.

Penilaian lomba rodoku ini sendiri dilihat dari penghayatan dan mimik, pelafalan, intonasi dan vokal dengan poin sejumlah 25 poin, untuk penampilan serta manajemen waktu tidak boleh lebih dari 7 menit mempunyai nilai maksimal 10 poin.

Untuk timeline penyeleksian video roudooku peserta adalah sekitar seminggu setelah pengumpulan video. Apabila telah selesai diseleksi oleh juri, maka panitia kembali mengumumkan peserta yang lolos lewat akun Instagram Nigakkai. Alhamdulillah saya lolos di tahap semifinal, pada tahap ini telah dipilih sebanyak 20 peserta. Setelah itu sama seperti sebelumnya, panitia memberikan kembali pilihan teks, pada babak ini saya memilih cerita うさぎの目が赤いわけ (Usagi no Me ga Akai Wake). Teks pada babak semifinal ceritanya lebih panjang serta terdapat kanji yang lebih banyak. 

Setelah babak semifinal selesai, saya lolos ke babak final dengan peserta berjumlah 5 orang. Di babak final, saya mengambil cerita dengan judul  野ギツネ (Nogitsune) Level teks pada babak final ini lebih tinggi karena teks berjumlah 2-3 halaman, selain itu banyak penggunaan bahasa Jepang pada zaman dahulu contohnya bahasa Jepang oleh samurai. Sehingga harus mencari beragam referensi dan memahami setiap kotoba supaya dapat dengan mudah menghayati cerita tersebut.

Alhamdulillah setelah melalui berbagai latihan, saya lolos di babak final, pada saat pengumuman saya berhasil meraih Juara 2. Kesannya sangat bahagia dan bersyukur karena bisa memenangkan lomba tersebut dari sekian banyak peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Berkat ikut serta dalam lomba ini pun, saya dapat menambah wawasan  mengenai cerita-cerita dongeng Jepang,  pemahaman berbagai kotoba juga sekaligus melatih kemampuan membaca dalam bahasa Jepang.

Sekian cerita pengalaman saya ikut serta dalam lomba rodoku Niggakai ini. Terima kasih bagi yang sudah membaca cerita pengalaman saya, semoga dapat bermanfaat dan menjadi motivasi bagi teman-teman khususnya dalam belajar bahasa Jepang ^^. Arigatou Gozaimasu.

 

]]>
Muhamad Bagus dan Tazkia Syifa Raih Juara 2 dan Juara 3 Lomba Shoudo https://jepang.upi.edu/muhamad-bagus-dan-tazkia-syifa-raih-juara-2-dan-juara-3-lomba-shoudo/ Tue, 21 Dec 2021 05:16:39 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8065

Bandung-DPBJ UPI. 

Dua orang mahasiswa DPBJ UPI bernama Muhamad Bagus Setio Karsonoadi dan Tazkia Syifa Arrahmah telah meraih Juara 2 dan Juara 3 Lomba Shoudo pada kegiatan Dies Natalis UNSIKA Languages and Cultures Club ke-5, dengan Muhamad Bagus sebagai Juara 2 dan Tazkia Syifa sebagai Juara 3.

Selamat Bagus-san dan Tazkia-san. Sukses terus dan menjadi panutan mahasiswa lainnya.

]]>
Pengalaman Mahasiswa DPBJ UPI Mengikuti Kampus Mengajar Angkatan 2 (Annisativa Novianti) https://jepang.upi.edu/pengalaman-mahasiswa-dpbj-upi-mengikuti-kampus-mengajar-angkatan-2-annisativa-novianti/ Tue, 21 Dec 2021 04:45:54 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8061

Bandung, DPBJ-UPI.

Cerita Mahasiswa.

Seperti yang kita semua ketahui bahwa program kampus mengajar sudah memasuki program ke-2, ada 2 mahasiswa dari Departemen Pendidikan Bahasa Jepang yang baru saja menyelesaikan kegiatan tersebut.

Agar dapat memberi gambaran bagaimana program tersebut sehingga para mahasiswa DPBJ dapat memutuskan untuk ikut atau tidak, kami akan tampilkan cerita dari keduanya.

Kali ini Annisativa yang akan menceritakan bagaimana pengalamannya mengikuti program kampus mengajar di SD yang telah ditunjuk. Yuk disimak.

Pengalaman berharga dari Kampus Mengajar Angkatan 2

Nama: Annisativa Novianti (1903361)

Email: Annisativa@upi.edu

Saya baru saja menyelesaikan salah satu program inovatif milik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia bernama Kampus Mengajar. Kampus Mengajar sendiri adalah salah satu program dari pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek sejak tahun 2020 yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i untuk belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan. Di program Kampus Mengajar, mahasiswa akan ditempatkan di 3.400 Sekolah Dasar dan 375 Sekolah Menengah Pertama di seluruh Indonesia dengan misi membantu peningkatan literasi dan numerasi dalam bentuk proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah tersebut. Sekolah yang menjadi sasaran utama dalam program Kampus Mengajar ini adalah sekolah yang memiliki Akreditasi B dan C. Program Kampus Mengajar ini dilakukan secara daring maupun luring sesuai dengan kondisi dan kebijakan sekolah masing-masing.

Pada program ini, mahasiswa yang terlibat memiliki tanggung jawab dalam membantu pihak sekolah pada proses mengajar, membantu adaptasi teknologi, dan membantu administrasi. Hasil dari program ini yaitu sebagai penanaman rasa empati dan kepekaan sosial pada diri mahasiswa terhadap permasalahan kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya, kemudian mengasah keterampilan berpikir dalam bekerja bersama lintas bidang ilmu, mengembangkan wawasan, karakter, soft skills, serta  meningkatkan peran dan kontribusi nyata perguruan tinggi dan mahasiswa dalam pembangunan pendidikan nasional.

Dengan dukungan LPDP dan Kementerian Keuangan, program Kampus Mengajar menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran terutama di masa pandemi Covid-19, khususnya sekolah yang berada di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) atau daerah yang memiliki karakteristik kurang lengkapnya sarana dan prasarana infrastruktur. Sedangkan keuntungan program Kampus Mengajar bagi para mahasiswa yang mengikutnya, antara lain diakui konversi hasil belajar sampai dengan 20 SKS per semester serta adanya pemotongan UKT hingga 2,4 juta dan mendapatkan uang saku 1.2 juta per bulan. Dalam program ini mahasiswa juga dapat membantu dalam mensosialisasikan produk pembelajaran Kemendikbudristek meliputi kurikulum darurat, modul pembelajaran, AKSI, portal rumah belajar, dan lain-lain. Tak ketinggalan, mahasiswa juga dapat melakukan sosialisasi dan improvisasi materi promosi profil pelajar Pancasila sekaligus menjadi duta edukasi perubahan perilaku di masa pandemi.

Persiapan dan Pelaksanaan Program Kampus Mengajar Angkatan 2

Pada awalnya saya mengetahui program tersebut melalui pemberitahuan dosen di salah satu grup Whatsapp kelas. Kemudian saya langsung melihat lebih jauh pada laman resmi MBKM, yaitu di https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/ dan melihat program-program apa saja yang disediakan. Selain Kampus Mengajar, dalam program ini juga terdapat Pertukaran Pelajar, Magang, Studi Independen, dan sebagainya. Alasan pribadi saya memilih Kampus Mengajar adalah bahwa keinginan saya untuk melihat bagaimana realitas pendidikan Indonesia di daerah tertinggal cenderung lebih besar. Selain itu, pengalaman dan ilmu yang didapatkan dari program ini akan sangat bermanfaat ke depannya, mengingat saat ini saya berada di jurusan pendidikan. Syarat-syarat untuk mendaftar program Kampus Mengajar ini terbilang cukup mudah, yaitu dengan melampirkan transkrip nilai, surat keterangan sehat dari Puskesmas/RS, surat rekomendasi dari perguruan tinggi asal, surat persetujuan orang tua/wali untuk ditempatkan di mana saja, serta surat pakta integritas yang masing-masing diunggah pada laman situs web resmi Kampus Merdeka.

Semua informasi sebelum memulai program Kampus Mengajar ini saya dapatkan melalui laman resmi MBKM. Kemudian mahasiswa juga perlu rutin memeriksa akun Instagram resmi @Kampusmengajar untuk pembaruan informasi. Pada saat saya akan memulai kegiatan Kampus Mengajar, saya bergabung terlebih dulu pada grup Telegram peserta. Pelaksanaan program Kampus Mengajar dimulai dari kegiatan persiapan, seperti pembekalan, penerjunan, observasi dan perencanaan program. Pertama-tama, mahasiswa mendapatkan pembekalan secara virtual melalui aplikasi Zoom atau live-stream Youtube dari berbagai narasumber terpercaya dan berpengalaman dalam bidang pendidikan. Materi pembekalan yang berlangsung selama satu minggu tersebut meliputi strategi kreatif luring dan daring, inovasi pembelajaran, serta tahap perkembangan anak SD dan SMP. Lalu pada tanggal 1 Agustus 2021, seluruh mahasiswa diterjunkan langsung dengan bimbingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) masing-masing. Kegiatan awal dari program ini adalah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah Dasar tempat pelaksanaan kegiatan. Dalam hal ini, DPL berperan sebagai pembimbing dan pihak yang akan memberi penilaian terhadap kinerja mahasiswa selama program berlangsung.

Kegiatan selanjutnya yaitu para mahasiswa melakukan observasi sekolah yang meliputi lingkungan sekolah berupa fisik, lingkungan sosial, iklim dan akademik; lalu administrasi sekolah serta organisasi sekolah; observasi proses pembelajaran yang meliputi analisis perangkat pembelajaran seperti kurikulum, RPP, Silabus dan sebagainya; kemudian metode pembelajaran yang dilakukan serta media dan sumber pembelajaran administrasi sekolah dan guru. Setelah melakukan observasi, kegiatan selanjutnya yaitu penyusunan rancangan kegiatan dengan melakukan konsultasi rancangan kegiatan kepada guru pembimbing dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Mahasiswa peserta program Kampus Mengajar juga diwajibkan untuk membuat laporan awal, laporan mingguan, dan laporan akhir sebagai bentuk bukti pelaksanaan program. Selain tiga laporan tersebut, setiap hari mahasiswa juga perlu mengisi logbook pada laman MBKM yang merupakan rekapitulasi dari kegiatan yang dilakukan pada hari itu. Kegiatan tersebut harus berupa aktivitas positif dan inovatif bagi murid-murid serta berdampak pada progres di bidang pendidikan.

 Saya sendiri ditugaskan di SDN Sukawening yang berlokasi di Desa Sukawening, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Kelompok saya terdiri dari enam mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di semester lima hingga semester tujuh. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan, sekolah tersebut memiliki lokasi yang jauh dari perkotaan, jalanan menuju sekolah tersebut sudah cukup bagus dan beraspal. Berdasarkan hasil konfirmasi kepada pihak sekolah, diketahui bahwa sekolah yang seharusnya menjadi lokasi penugasan mahasiswa telah bermerger, sehingga mahasiswa melakukan penugasan di sekolah hasil merger tersebut, selain itu juga sekolah tersebut saat ini telah menyandang Akreditasi B dan berstatus sebagai sekolah negeri. Kurikulum yang diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari adalah kurikulum 2013 dengan jumlah siswa sebanyak 321 siswa yang terbagi dalam dua rombongan belajar (rombel). Di sekolah tersebut, terdapat 11 ruang kelas, dua kantor, dua lapangan upacara, dan empat toilet siswa dan 2 toilet guru yang masih berfungsi dengan baik. Setelah melakukan observasi, kelompok saya sepakat untuk menciptakan program benah perpustakaan, di samping fokus utama kami untuk mengajar murid-murid. Kegiatan benah perpustakaan ini kami cetuskan mengingat bangunan perpustakaan SDN Sukawening sudah lama tidak digunakan sehingga membutuhkan pembenahan, baik secara teknis maupun administratif. Kami juga berharap agar program ini dapat menjadi langkah awal dalam mengembangkan budaya literasi sejak dini di kalangan anak sekolah dasar khususnya di SDN Sukawening.

Kesan dan Pesan selama Program Kampus Mengajar Angkatan 2

Pada pelaksaan program yang dilakukan, banyak sekali pengalaman dan ilmu baru yang saya dapatkan. Pandangan saya terhadap pendidikan di Indonesia juga bertambah luas seiring bagaimana saya dapat merasakan sendiri seperti apa kenyataan di lapangan. Selama masa pandemi Covid-19, sekolah-sekolah diliburkan dan anak-anak kekurangan pembimbing yang dapat menuntun dan menyemangati mereka untuk terus belajar mencari ilmu. Faktor keluarga yang kurang memberi dukungan karena sibuk oleh pekerjaan dan sebagainya dapat menjadi penghalang sekaligus melunturkan semangat anak-anak untuk belajar. Sebagian besar dari mereka sudah lupa akan pelajaran, sebagian lagi tidak mempunyai buku atau sumber materi karena terhalang biaya atau keterbatasan kepemilikan alat elektronik untuk mengakses internet. Di daerah tempat saya mengabdi, cukup banyak anak-anak yang telah membantu pekerjaan orang tua mereka seperti berdagang makanan atau membantu pekerjaan rumah tangga sehingga waktu untuk belajar menjadi berkurang.

Diharapkan dengan adanya kehadiran mahasiswa dalam kondisi seperti ini, dapat memberi sececah harapan dan membantu anak-anak untuk beradaptasi di masa pandemi Covid-19 seperti menerapkan protokol kesehatan. Selama kegiatan pembelajaran luring, satu bangku hanya diisi oleh satu orang murid, kemudian sebelum masuk ke kelas harus mencuci tangan dan mengenakan masker. Jam pembelajaran di sekolah pun hanya berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 10.00 pagi. Para mahasiswa biasanya menemui wali kelas terlebih dahulu untuk meminta saran dan berkonsultasi terkait kegiatan belajar-mengajar seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada peserta didik sesuai tingkatan kelasnya masing-masing. Komunikasi bersama wali kelas, pihak sekolah, maupun dosen wali harus diutamakan agar tidak terjadi miskoordinasi antar stakeholder.

Dalam kelompok saya yang terdiri dari enam orang, kami membagi setiap mahasiswa untuk bertanggung jawab memegang satu kelas dengan dua rombel. Saya sendiri berada di kelas 5 dengan jumlah murid 35 orang. Murid-murid menyambut senang kehadiran para mahasiswa di sekolah. Biasanya guru dan mahasiswa memegang buku Tema sebagai pedoman pembelajaran. Namun terkadang kami juga memberikan pelajaran di luar buku Tema, seperti membuat kerajinan tangan, menggambar poster, mempelajari bahasa inggris, mengenal penggunaan teknologi sebagai bahan pembelajaran seperti Microsoft Power Point dan sebagainya.

Di samping begitu banyaknya pengalaman menyenangkan bersama murid-murid dan rekan sesama mahasiswa, ada pula beberapa masalah yang sempat mengganggu pekerjaan saya dalam melaksanakan program Kampus Mengajar. Sebagian besar masalah itu berkaitan dengan pembagian waktu antara kuliah dan mengajar. Namun hal itu tergantung dari bagaimana sikap mahasiswa tersebut dalam membagi waktunya secara efisien agar semua dapat terlaksana dengan baik. Dalam program ini pula saya diajarkan untuk pandai dalam mengatur waktu dengan efektif dan bermanfaat, alih-alih membuang waktu untuk hal yang tidak berguna. Walau terbilang cukup sibuk dan terkadang kalang kabut dengan tugas kuliah atau laporan mingguan Kampus Mengajar, saya sangat menikmati setiap kegiatan yang saya lakukan karena saya yakin pengalaman berharga seperti ini akan bermanfaat di masa depan.

Setelah mengikuti program Kampus Mengajar, saya dapat melihat secara nyata bagaimana realisasi pendidikan terutama di daerah 3T. Sekolah tempat saya mengabdi tidak memiliki fasilitas lengkap seperti ruang kelas atau perlengkapan penunjang berbasis teknologi. Selain dari segi fasilitas, sekolah ini pun kekurangan tenaga pendidik sehingga kerap terjadi kekosongan waktu belajar. Dengan kedatangan mahasiswa dari program Kampus Mengajar, pihak sekolah SDN Sukawening menjadi sangat terbantu karena murid-murid bisa mendapatkan hak-nya untuk memperoleh ilmu dan pembelajaran.

Kembali lagi, fokus utama dari penyelenggaraan program Kampus Mengajar dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi adalah membangkitkan motivasi dan semangat anak-anak SD maupun SMP untuk kembali belajar di sekolah dalam pandemi Covid-19 yang mengakibatkan banyak kendala secara teknis maupun administratif. Program Kampus Mengajar angkatan 2 telah terselenggara selama lima bulan dan berakhir pada tanggal 18 Desember 2021. Selama itu, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga yang tidak dapat tergantikan. Saya belajar untuk menjadi pribadi yang sabar dalam menghadapi berbagai perilaku murid hingga saya belajar tentang bagaimana cara guru dalam menyiapkan materi pembelajaran serta memeriksa tugas-tugas kemudian memberi nilai kepada murid-murid sesuai kemampuannya. Hal itu mengingatkan saya bahwa mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar demi terwujudnya pembangunan Indonesia ke arah yang lebih baik. Salah satu dari pembangunan itu adalah di bidang pendidikan dan masa depan bangsa ini berada di tangan para generasi muda. Kampus Mengajar ini dapat menjadi lahan pengabdian yang luar biasa bagi mahasiswa serta sebagai ajang mengembangkan soft skill, yaitu kepemimpinan, problem solving,  kreativitas, maupun kemampuan interpersonal mahasiswa itu sendiri.

Bagaimana pengalaman Annisativa ini? Menarik ya! Nah bagi Anda yang berminat ikut, disilakan untuk bersiap dari sekarang. Karena ternyata manajemen waktu memang sangat penting ya agar semuanya sukses kita ikuti.

Annisativa-san, arigatou gozaimashita.

]]>
Muhamad Bagus Setio Karsonoadi Juara 2 Lomba Shoudo Mahasiswa https://jepang.upi.edu/muhamad-bagus-setio-karsonoadi-juara-2-lomba-shoudo-mahasiswa/ Mon, 20 Dec 2021 14:42:35 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8056

Bandung, DPBJ-UPI.

Salah seorang mahasiswa DPBJ UPI bernama Muhamad Bagus Setio Karsonoadi telah meraih juara 2 Lomba Shoudo Mahasiswa dalam kegiatan Bunkasai XIV Universitas Riau yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2021.

Selamat Bagus-san!

]]>