Deprecated: WP_Translation_Controller::load_file(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 101

Deprecated: WP_Translation_Controller::unload_file(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 156

Deprecated: WP_Translation_Controller::unload_textdomain(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 201

Deprecated: WP_Translation_Controller::is_textdomain_loaded(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 243

Deprecated: WP_Translation_Controller::translate(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 263

Deprecated: WP_Translation_Controller::translate_plural(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 297

Deprecated: WP_Translation_Controller::locate_translation(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 397

Deprecated: WP_Translation_Controller::get_files(): Implicitly marking parameter $locale as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php on line 430

Deprecated: WP_Translation_File::create(): Implicitly marking parameter $filetype as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-file.php on line 84

Deprecated: wp_getimagesize(): Implicitly marking parameter $image_info as nullable is deprecated, the explicit nullable type must be used instead in /usr/local/www/jepang/wp-includes/media.php on line 5502

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /usr/local/www/jepang/wp-includes/l10n/class-wp-translation-controller.php:101) in /usr/local/www/jepang/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
Cerita Alumni – Pendidikan Bahasa Jepang https://jepang.upi.edu Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Fri, 11 Feb 2022 07:35:30 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.3 https://jepang.upi.edu/wp-content/uploads/2023/09/cropped-UPI-Logo-utama-merah-32x32.png Cerita Alumni – Pendidikan Bahasa Jepang https://jepang.upi.edu 32 32 Kesan Pesan Nadiya, Lulusan Terbaik Sidang Januari 2022 https://jepang.upi.edu/kesan-pesan-nadiya-lulusan-terbaik-sidang-januari-2022/ Fri, 11 Feb 2022 07:35:30 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=8169

Berikut ini ada kesan dan pesan dari teman kita, Nadiya Nurhamidah Hidayat sebagai lulusan terbaik DPBJ pada sidang Januari 2022. Mari kita simak bersama-sama.

Kesan Pesan Kelulusan

(Nadiya Nurhamidah Hidayat)

Puji syukur tak hentinya saya panjatkan kepada Allah Swt. karena atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan studi S1 di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI. Sungguh hal yang tidak terduga dan suatu kehormatan bagi saya, menjadi lulusan terbaik pada ujian sidang periode Januari 2022. Betapa bahagianya saya dapat memberikan kabar kelulusan yang menggembirakan ini kepada ayah dan ibu di rumah. Saya bisa mencapai titik ini tentunya tidak lepas dari perjuangan dan doa ayah, ibu, keluarga, serta bimbingan dan arahan dari para dosen.

Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di Bandung, diantar ayah dan ibu, menatap indahnya gedung Isola, menghidup sejuknya udara, mengalunkan harapan-harapan untuk masa depan. Rasanya baru kemarin juga saya menghabiskan waktu hingga larut di kampus, ikut serta merancang berbagai kegiatan himpunan, mengerjakan tugas-tugas, atau sekadar bersenda gurau bersama teman-teman. Renyah tawa mereka masih terbayang hingga sekarang.

Tanpa terasa saat ini saya sudah mencicipi bagaimana rasanya kepala berputar memikirkan ide, lalu berkutat memahami teori-teori dan hasil-hasil studi terdahulu, untuk kemudian menuangkannya ke dalam tulisan-tulisan melalui diskusi-diskusi panjang dengan pembimbing, sehingga akhirnya saya dapat menyandang sebuah gelar Sarjana Pendidikan. Namun, capaian ini tentu bukanlah garis finis. Masih ada jalan yang harus ditempuh, pertanyaan-pertanyaan yang harus dipecahkan.

Untuk itu, saya ingin memberikan ucapan terima kasih khususnya kepada dosen-dosen kami di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI:

Ibu Dr. Susi Widianti, M.Pd., M.A., selaku Ketua Departemen, yang selalu mendukung semua kegiatan positif mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang.

Ibu Dra. Neneng Sutjiati, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Akademik Kelas C, yang selalu membimbing dan membantu saya dan teman-teman sekelas saat ada kesulitan.

Bapak Drs. Ahmad Dahidi, M.A., yang cerita-cerita hebatnya selalu kami tunggu-tunggu di kelas. Cerita tentang pengalaman Bapak Ahmad menjadi juara lomba pidato di Jepang tempo hari sukses membuat seisi kelas berdecak kagum.

Ibu Dra. Renariah, M.Hum., yang begitu luas pengetahuannya tentang huruf kanji, selalu bisa memberikan cara-cara termudah dan menarik untuk saya dan teman-teman di kelas dalam memahami huruf-huruf kanji. Ibu Rena juga salah satu yang banyak membantu saya sehingga saya bisa berangkat ryuugaku.

Bapak Drs. Sudjianto, M.Hum., yang pembawaannya tegas, namun gaya mengajarnya selalu bisa membawa gelak tawa di dalam kelas. Pelajaran dokkai yang sulit sekalipun menjadi pelajaran yang ditunggu-tunggu.

Bapak Drs. Aep Saeful Bachri, M.Pd., yang selalu serius dalam membawa materi pelajaran di kelas.

Ibu Dra. Melia Dewi Judiasri, M.Hum., M.Pd., atau yang akrab disapa Ibu Poppy, selalu meminta kami membuat contoh kalimat dalam pelajaran bunpou di kelas. Perihal membuat contoh kalimat ini selalu membuat berdebar, tapi saya menyukainya.

Bapak Drs. Sugihartono, M.A., yang selalu memulai kuliah tepat waktu, bersiap di kelas beberapa menit sebelum pelajaran dimulai.

Bapak Prof. Dr. Dedi Sutedi, M.A., M.Ed., yang pembawaannya penuh wibawa, suaranya selalu lantang saat menjelaskan materi.

Ibu Dr. Herniwati, S.Pd., M.Hum., yang pelajaran kaiwa nya selalu menyenangkan, diselingi bermain role play.

Ibu Dianni Risda, S.Pd., M.Ed., yang selalu menjelaskan materi dengan sangat terperinci. Pelajaran dokkai yang kalimatnya kompleks dan membuat kepala pusing, sekali diuraikan oleh Ibu Dianni, seisi kelas termanggut-manggut mengerti.

Ibu Dewi Kusrini, M.Pd., M.A., yang semangatnya selalu menjadi motivasi bagi saya untuk terus mencoba. Mulai dari lomba pidato bahasa Jepang, lomba presentasi bahasa Jepang, sampai menulis artikel ilmiah. Ibu Dewi seakan tidak pernah kehabisan ide untuk memotivasi mahasiswanya mencoba hal-hal baru.

Ibu Novia Hayati, M.Ed., Ph.D, walaupun selama perkuliahan saya tidak berkesempatan  bertatap muka dan menyimak pelajaran di kelas Ibu Novia, saya harap suatu saat ada kesempatan untuk menyerap ilmu dari beliau.

Ibu Dr. Linna Meilia Rasiban, S.Pd., M.Pd., yang selalu menjelaskan materi kuliah dengan pembawaan yang tenang.

Ibu Dr. Juju Juangsih, S.Pd., M.Pd., yang selalu membawakan materi dengan senyuman menyenangkan, membuat enjoy seisi kelas.

Ibu Noviyanti Aneros, S.S., M.A., selama perkuliahan saya tidak berkesempatan menyimak pelajaran di kelas Ibu Novi. Namun, beliau selalu mengulas senyum jika saya memberi salam saat kebetulan berpapasan di kampus.

Ibu Nuria Haristiani, M.Ed., Ph.D, yang sangat teliti dan selalu terperinci. Pembawaannya selalu serius saat menjelaskan materi di kelas.

Serta, Ibu Via Luviana Dewanty, S.S., M.Pd., selama perkuliahan saya juga tidak berkesempatan menyimak pelajaran di kelas Ibu Via. Walaupun begitu, saya pernah beberapa kali berinteraksi dengan beliau, seperti saat meminta izin dan kesediaan beliau untuk menjadi juri salah satu perlombaan di Japanzuki, saat menulis artikel ilmiah, bahkan juga saat tidak sengaja bertemu di kantin. Dan pada setiap kalinya, Ibu Via selalu menyambut dengan senyuman ramah.

Saya sangat bersyukur bisa bertemu dosen-dosen hebat, dosen-dosen yang tulus memberikan ilmu kepada mahasiswa-mahasiswanya di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI ini. Besok lusa, ilmu dan bimbingan dari Bapak Ibu dosen yang saya dan teman-teman dapatkan disini, akan menjadi pelita untuk menerangi jalan kami kedepannya.

]]>
Cerita Fuji Hartoyo (Alumni DPBJ UPI) “Bekerja di Perusahaan Jepang” https://jepang.upi.edu/cerita-fuji-hartoyo-alumni-dpbj-upi-bekerja-di-perusahaan-jepang/ Fri, 07 May 2021 14:41:29 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=7522

Cerita Alumni.

Minasan, konnichiwa!

Kali ini admin menerima tulisan dari alumni Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI yang bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang-Indonesia. Bagaimana sih pekerjaan interpreter itu? Apa yang kita perlu siapkan untuk dapat terjun ke dalam dunia kerja sebagai interpreter? Waktu kuliahnya di DPBJ UPI, Fuji-san belajarnya seperti apa ya? 

Yuk simak tulisan Fuji-san berikut.

“Bekerja di Perusahaan Jepang”

Fuji Hartoyo (Alumni DPBJ UPI Angkatan 2005)

Menjadi penerjemah atau interpreter bahasa Jepang dan bekerja di perusahaan Jepang bukan tujuan utamaku. Tapi, dengan pekerjaan inilah aku bisa lebih mandiri secara finansial dan juga lebih tertantang karena setiap hari merupakan medan perang yang harus aku ikuti, apalagi jika ada rapat dengan orang Indonesia dan orang Jepang. Aku harus pilih siapa? Terkadang aku disebut pengkhianat jika memilih sang bos: orang Jepang.

Perkenalkan, namaku adalah Fuji angkatan 2005 Bahasa Jepang UPI.

Awal mula memilih jurusan bahasa Jepang

Kuliah di jurusan pendidikan bahasa Jepang di Universitas Pendidikan Indonesia merupakan privilege bagiku. Bagaimana tidak. Aku yang dari keluarga biasa harus mengupayakan dengan lebih baik dibandingkan temanku yang lebih mudah masuk universitas ternama atau hanya sekedar masuk universitas tertentu. 

Aku harus belajar lebih giat tanpa embel embel les di tempat “les lolos SNMPTN”. Jangankan les ditempat biasa, untuk daftar ujian masuk perguruan tinggi negeri saja aku harus menabung satu tahun agar bisa beli formulir, daftar ujian, dan ada ongkos bolak balik ke Bandung. Tentunya biaya makan selama bolak balik tersebut. Sudah dipastikan aku hanya di rumah untuk membantu usaha selama satu tahun setelah lulus SMA dan mengumpulkan uangnya untuk keperluan pendaftaran.

Dari awal sebenarnya aku sudah diingatkan keluarga bahwa aku tidak akan kuliah. Tidak ada biaya! Aku mengerti hal itu. Bahkan, nenekku pernah berkata sedari kecil bahwa aku harus menjadi tukang becak. Tidak salah menjadi tukang becak, tapi aku ingin lebih dari itu dan aku yakin bisa menggapainya. Dan, aku hanya ingin membuktikan bahwa semangatku ini pasti ada ujung positifnya. Aku simpan impian kuliah dan selalu memanjatkan pada Allah agar diberikan jalan untuk bisa kuliah, dimanapun.

Alhamdulillah, ternyata doa yang aku panjatkan dan yakini berbuah hasilnya. Aku lolos tes SNMPTN dengan jurusan bahasa Jepang UPI Bandung. Saat itu, di desaku jarang sekali ada orang yang bisa masuk dan lolos masuk ke PTN favorit seperi UPI. Lolosnya aku di perguruan tinggi negeri ini membuat keluargaku berfikir keras. Apakah akan melewatkan kesempatan emas buatku atau memberi kesempatan?

Dengan berat hati akhirnya keluarga sepakat urunan secara finansial dan memberikan kesempatan untuk kuliah kepadaku dengan kekurangan kekurangan yang harus aku hadapi.

Semenjak itu aku bertekad untuk bisa bekerja di perusahaan Jepang agar dapat uang lebih dengan kemampuan bahasa Jepang yang nanti akan dimiliki.

Lulusan Jurusan bahasa Jepang akan menjadi apa?

Dengan gelar bahasa Jepang yang telah aku dapatkan, akan menjadi apa nanti? Aku mulai goyah. Jika hanya ingin bekerja di perusahaan Jepang , hal itu masih terlalu lebar, belum spesifik.

Tiba tiba aku ingat cita cita sedari kecil. Aku ingin menjadi seorang guru. Menurutku, guru sangat berjasa pada setiap orang, meskipun kebanyakan secara finansial kurang membantu ekonomi keluarga.

Tapi dengan passion yang tinggi terhadap pekerjaan guru, maka kekurangan apapun bisa diatasi. Lagipula, aku dari jurusan pendidikan bahasa Jepang, maka akan sangat cocok.

Pemikiran itu tidak salah, tapi jika dari awal aku tahu bahwa kuliah di pendidikan bahasa Jepang seperti membuka gerbang pekerjaan lain, maka pasti akan sangat beruntung.

Kini aku mengetahui bahwa lulusan bahasa Jepang bisa memasuki pekerjaan lain dengan mudah dan bersaing tinggi. Beberapa profesi teman seangkatan maupun kouhai senpai sangat beragam.

Berbagai pekerjaan untuk lulusan bahasa Jepang

Kita bisa menjadi apapun yang kita mau untuk bekerja. Selama berusaha, maka hal tidak mungkin akan menjadi mungkin. Beberapa teman seangkatan bahasa Jepang ada yang menjadi dosen bahasa Jepang, PNS, guru bahasa Jepang, Ibu Rumah Tangga, Pramugari, Wiraswasta, Penerjemah, Karyawan pabrik, Pengacara, dll.

Aku juga pernah melihat kouhai dan senpai yang mempunyai pekerjaan unik seperti penulis skenario di televisi nasional, penulis buku, penyiar radio, dll.

Ternyata pekerjaan yang digeluti oleh lulusan bahasa Jepang beraneka ragam dan tidak terpaku pada hal yang berbau bahasa Jepang.

Bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang di perusahaan Jepang

Dan, inilah ceritaku sebagai seorang penerjemah atau interpreter perusahaan Jepang yang ada di Indonesia.

Aku beberapa kali bekerja sebagai bagian dari HRGA (Human Resources and General Affair) di perusahaan Jepang. Pada awal karir, aku hanya membantu bagian HRGA yang ada hubungannya dengan orang Jepang. Biasanya membantu staf HRGA lain ketika antar jemput orang Jepang, mengurus keperluannya, menerjemahkan sedikit dokumen atau menjadi interpreter dadakan.

Setelah pengalamanku bertambah, aku mulai lebih banyak menjadi seorang interpreter bahasa Jepang di lapangan.

Bekerja di perusahaan Jepang sangat berbeda dan sangat menguras waktu, tenaga dan mental. Jadi, bagi kalian yang ingin bekerja di perusahaan Jepang, harus mempunyai mental baja.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat menjadi seorang interpreter:

  1. Bahasa Jepangmu tidak bagus

Iya, aku merasakan ini setelah lulus kuliah. Ternyata bahasa Jepang yang aku dapat dan yang akan aku gunakan digenba berbeda. Bisa jadi karena aku kurang fokus saat kuliah dulu. But, show must goes on! Setelah berjalannya waktu, aku jadi terbiasa dan banyak belajar saat di perusahaan.

Kita juga harus membiasakan diri untuk belajar lagi dengan kosakata bahasa bahasa Jepang yang asing di dunia industri. Ingat, belajar sepanjang hayat.

  1. Gaji besar dan bonus

Siapa yang tidak ingin gaji besar dan bonus di perusahaan Jepang. Hampir semua orang pasti ingin bekerja dan mendapakan gaji yang besar agar bisa mandiri secara finansial atau bisa membantu keuangan keluarga dengan jerih payah kita. Dengan bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang, kamu bisa mendapakan gaji yang cukup besar dibandingkan pekerjaan sejenis.

Akupun kaget ketika aku disodorkan jumlah gaji interpreter bahasa Jepang pertama kali. Jumlah yang sangat besar bagiku.

Bahkan, karena interpreter dekat dengan presiden direktur, gaji juga bisa negosiasi lagi dengan mereka langsung. Aku pernah mendapakan pengalaman ketika gajiku tidak sesuai dengan jam kerja dan proporsi kerja. Selama 6 bulan pertama aku hanya membuktikan bagaimana aku bekerja, lalu setelahnya aku bernegosiasi terkait gaji yang aku dapatkan saat itu. Alhamdulillah gajinya naik hampir 50%. Ingat, tunjukkan prestasimu dulu ya.

  1. Pilih orang Jepang atau orang Indonesia

Ketika rapat berlangsung, mau tidak mau, aku harus jadi seorang penyambung lidah, bahkan bukan hanya penyambung lidah, aku juga diharapkan sebagai penengah jika terjadi ketegangan.

Akibatnya serba salah. Jika aku lebih condong orang Indonesia, maka aku akan di blacklist oleh orang Jepang tersebut karena hanya mementingkan orang Indonesia, tapi ketika memilih orang Jepang, aku di cap pengkhianat.

Untuk level pengkhianat ini, aku masih kurang sreg dan sering tersinggung. Aku lebih memilih siapa yang benar dan berusaha agar mereka mendapatkan win win solution. Well, tidak semua orang terpuaskan.

  1. Pekerjaan tidak sesuai

Adakalanya pekerjaan yang kita dapatkan tidak sesuai. Meskipun begitu, kita hars tetap berusaha belajar.

Aku pernah diminta data terkait pertumbuhan sales selama 6 bulan ke belakang. Waduh, terkait sales saja tidak mengerti, apalagi pertumbuhan sales. Contoh lainnya adalah diminta data statistik produksi, padahal tugas setiap hari hanya menerjemahkan. Susah? Banget, tapi harus dikerjakan sebisa mungkin.

  1. Komunikasi

Bagi kamu yang aktif di himpunan ataupun organisasi lainnya, selamat, kamu telah selangkah lebih maju dari temanmu. Kenapa? Dalam dunia perusahaan, komunikasi efektif sangat dibutuhkan. Bagi yang terbiasa komunikasi di organisasi atau himpunan, itu adalah modal besar. Kamu akan terbiasa dalam menghandle sebuah organisasi.

Pengalaman interview di perusahaan Jepang

Sebelum bekerja di perusahaan Jepang, inilah salah satu tahap penting ketika akan masuk perusahaan Jepang di Indonesia.

Ada banyak cara untuk masuk ke perusahaan Jepang. Kamu bisa apply di lowongan kerja online, offline, kenalan, saudara atau bahkan senpai dan kouhai. Inilah pentingnya komunikasi agar hidup kita jadi lebih mudah.

Bagi yang tidak punya kenalan sekalipun, kamu bisa minta dicarikan lembaga pencari kerja untuk bekerja di perusahaan Jepang. Selama aku masuk perusahaan Jepang, aku dibantu oleh lembaga pencari kerja.

Aku paling deg degan ketika harus interview dengan presiden direktur yang orang Jepang asli. Kenapa? Disamping sering tidak percaya diri dengan kemampuan bahasa Jepang, aku juga dilanda gugup duluan.

Tapi alhamdulillah, selama interview berlangsung, cukup lancar dan justru seringnya kita tertawa dan akrab. Meskipun pada akhirnya ditolak atau dipilih.

Beberapa hal yang telah aku sampaikan di atas mungkin tidak seberapa, tapi setidaknya kalian akan bisa lebih siap lagi dengan baik dari mulai kuliah bahasa Jepang sampai bekerja di perusahaan Jepang nanti.

Suka duka sebagai interpreter bisa juga kalian baca di blog fujiharu

Semoga dengan sedikit gambaran terkait pekerjaan interpreter ini bisa memberikan informasi buat kalian semua.

Link: https://www.fujiharu.com/ 

Fuji-san terima kasih telah berbagi pengalaman tentang kehidupan semasa menjadi mahasiswa DPBJ UPI dan semasa bekerja setelah lulus. Semoga cerita sempai ini dapat memberi gambaran kepada kouhainya tentang tuntutan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Bagi para sempai yang ingin berbagi cerita dengan kouhainya, silakan kirimkan tulisan melalui email ke dewikusrini.upi.edu. Kami tunggu.

 

 

 

]]>
Nurbaiti, Lulusan DPBJ UPI Yang Menjadi Penulis https://jepang.upi.edu/nurbaiti-lulusan-dpbj-upi-yang-menjadi-penulis/ Fri, 12 Jul 2019 11:30:46 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=4827

Kali ini admin menerima tulisan singkat dari Ibu Dewi Kusrini yang mengenalkan alumni DPBJ yang menjadi penulis. Berikut tulisannya.

Nurbaiti, Lulusan DPBJ Yang Menjadi Penulis Novel, Skenario Acara TV, dll

Nur Baiti, sebulan lalu di sore hari mengunjungi kantor DPBJ UPI untuk bersilaturahmi dengan para dosen. Sayangnya karena memang sudah sore, hanya bisa bertemu dengan saya. Kegiatannya sebagai penulis yang menghasilkan beberapa novel dan tulisan perjalanan baik di dalam negeri maupun luar negeri, memang terkadang saya simak di Facebook. Kesan saya dengan alumni yang satu ini ; SUGOI!. 

Kegiatannya akhir-akhir ini disibukkan dengan penulisan skenario untuk acara TV Lenong Legenda yang dituntut setiap hari menghasilkan tulisan. Hebat ya! Kalau novel-novelnya katanya sudah habis di pasaran dan tidak diterbitkan ulang. Dalam tulisan perkenalannya di blog, dia telah melahirkan beberapa novel. Berikut petikannya ;

“Musim Semi di Wyoming adalah novel pertamanya yang diterbitkan oleh penerbit Asy-syaamil pada tahun 2003. Hikaru juga telah menghasilkan beberapa karya lain seperti ; Ja’far dengan Dua Sayap (komik) penerbit Pustaka Zahra, 2004 ; Kisah Nabi Adam(komik) penerbit Pustaka Zahra, 2004; Matahari Tak Pernah Sendiri (antologi FLP, Helvy Tiana Rosa, dkk) penerbit LPPH, 2004; Jilbab Pertamaku (antologi non fiksi Asma Nadia dkk) penerbit LPPH, 2005; I Love U SoMad (antologi Boim Lebon dkk) penerbit LPPH, 2005; Smile to the mirror, komik remaja, penerbit Mizan, 2005 dan Laa Tahzan For Hijabers.”

Dengan nama pena “Hikaru”, Nurbaiti, yang kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982 ini katanya mulai menulis sejak SMP dan menghasilkan belasan buku. Itu profil yang saya dapat dari https://bitread.id/author/view/Hikaru/ yang lengkapnya adalah sbb : 

“Esainya masuk semi final dalam lomba menulis esai tingkat nasional yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. Karya-karyanya juga masuk final dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan oleh Penerbit Bitread, Padmagz Magazine serta Elex Media Komputindo. Saat ini sebagai senior manager di sebuah perusahaan asing dan Ketua Divisi Dana Usaha FLP Pusat. Hikaru juga salah satu wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016 serta anggota Ikatan Sastrawan Muslim Sedunia.”

Bagi mahasiswa yang ingin menjadi penulis juga seperti sempai ini, bisa bertanya lebih banyak dengan mengontak penulis via facebook: Nurbaiti Hikaru atau blog www.nurbaitihikaru.wordpress.com.

Terdapat catatan perjalanan yang menarik sekali untuk dibaca dengan versi utuhnya yang ada di aplikasi gratis Novelme. Untuk catatan perjalanan ada di bagian non fiksi: – catatan perjalanan petualang amatir – solo backpacking thailand, malaysia, singapura. Perjalanan backpacker berjilbab. 9 hari 9 kota dengan perjalanan darat antar negara. – jepang anti mainstreem. – Solo backpacking nepal, solo treking Poon hill. Begitu Nur sampaikan ke saya via messenger.

Terima kasih sudah mampir ke DPBJ ya Nur, sukses buat kedepannya.

 

 

 

 

 

]]>
Silaturahmi Pak Dedi Suryadi ke DPBJ UPI https://jepang.upi.edu/silaturahmi-pak-dedi-suryadi-ke-dpbj-upi/ Tue, 11 Jun 2019 07:04:25 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=4699

DPBJ UPI kedatangan tamu istimewa, Pak Dedi Suryadi, M.Ed., Ph.D. yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Publikasi FPB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (http://fpb.umy.ac.id/dedi-suryadi-m-ed-ph-d/)

Disela kesibukannya mudik bersilaturahmi ke keluarga besarnya di Bandung, Alumni IKIP Bandung (yang sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia) angkatan ’92 ini menyempatkan diri bersilaturahmi juga ke DPBJ UPI. Disamping untuk mendaftar seminar ICJLELC, seminar kejepangan yang akan diadakan tanggal 22 Juni 2019 di UPI. Bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti seminar tersebut dapat mendaftar melalui tautan berikut ; http://jepang.upi.edu/icjlec-about/

Pak Dedi menceritakan kegiatan dan programnya bersama mahasiswanya di UMY dengan begitu bersemangat sehingga membuat dosen-dosen (atau hanya salah satu dosen saja) pun bersemangat pula menyantap oleh-olehnya berupa ubi cilembu dan roti isi durian khas sumedang.

Bagi para kouhai/juniornya yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 atau S3 di Jepang, Pak Dedi menjadi panutan, karena beliau berhasil lulus dari Hiroshima University untuk S2 dan S3-nya. 

Salam silaturahmi Pak Dedi juga ingin disampaikan kepada para dosen lain yang tidak berkesempatan bertemu. Dan juga salam untuk para mantan mahasiswa UPI yang pernah diajar beliau selama beliau di DPBJ UPI sekitar 4-5 tahun.

Terima kasih Pak Dedi, atas kunjungan silaturahminya. Semoga bisa bersilaturahmi di kesempatan lain.

 

]]>
Cerita Talin Salisah, Lulusan Terbaik Pada Wisuda Gelombang II 2018 https://jepang.upi.edu/cerita-talin-salisah-lulusan-terbaik-pada-wisuda-gelombang-ii-2018/ Fri, 10 May 2019 11:16:01 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=4519            

Berikut akan ditampilkan tulisan dari Talin Salisah, alumni DPBJ lulus tahun lalu dengan menyandang predikat lulusan terbaik se-fakultas FPBS. Mari kita simak tulisannya.

Usaha Saya Dalam Belajar

            Mendapatkan titel lulusan terbaik pada wisuda gelombang dua tahun 2018 tidak masuk dalam daftar pencapaian saya. Pada saat mengetahui informasi tersebut, saya cukup terkejut. Perasaan senang dan takut bercampur aduk. Takut karena penghargaan tersebut menjadi berat untuk dipikul. Tetapi, saya bersyukur dengan pencapaian tersebut, karena di dalamnya ada keringat, tangis, dan bantuan yang selalu mengalir untuk saya.

            Proses pun tidaklah sebentar. Kegiatan pembelajaran di kelas melakukan salah satu faktor penting. Mata kuliah yang semakin lama semakin tinggi levelnya di setiap semester merupakan tantangan besar yang harus dilewati. Di antara mata kuliah yang saya pelajari, kaiwa adalah salah satunya. Padahal saya adalah orang yang agak kesulitan dalam memulai pembicaraan dan cenderung diam di waktu-waktu tertentu. Tetapi, di mata kuliah itu saya terdorong utuk mencoba dengan kosakata dan pola kalimat yang sudah dipelajari sebelumnya. Ketika saya bisa menyampaikan maksud kepada orang lain, ada kepuasaan yang saya dapatkan. Apalagi jika berkomunikasi langsung dengan orang Jepang.

            Setiap pembelajaran serta tes yang dilaksanakan, saya berusaha semaksimal mungkin dalam melakukannya. Mengharapkan nilai bagus memang menjadi tujuan, tetapi saya lebih memfokuskan diri agar bisa menjawab pertanyaan yang disajikan. Apabila soal terbilang sulit, maka saya akan menjawab dengan kapasitas yang dimiliki, dan memasrahkan nilai yang akan keluar nantinya. Yang terpenting adalah saya sudah melakukan apa yang saya bisa. Di situlah kita dapat mengukur kemampuan diri serta bisa mengatur bagaimana pola pembelajaran yang perlu dilakukan.

            Saya tipikal orang yang belajar dari pengulangan yang terus-menerus. Contohnya dalam mempelajari pola kalimat dan menambah kosakata. Ada waktu di mana saya akan menonton ulang video (anime, drama) serta mendengarkan lagu. Bahkan saya membiarkannya menyala walaupun saya tidak memperhatikannya dengan baik. Kadang saya bisa hapal beberapa percakapan saking terlalu seringnya saya mengulang video tersebut. Karena hal tersebut dilakukan berulang-ulang dan sifatnya menyenangkan, saya bisa belajar dengan cepat. Beberapa kosakata yang tidak keluar dalam perkuliahanpun bisa saya dapatkan. Jika tidak tahu kosakata baru yang didapatkan, saya akan mencarinya melalui kamus, internet, dan bertanya kepada teman.

            Usaha berjalan, doa pun harus berjalan beriringan.

            Kemudahan dan bantuan yang selalu hadir merupakan hasil dari dua aspek tersebut. Saya yakin, doa dan dukungan dari orang-orang di sekitar juga ikut andil dalam perjuangan selama kurang empat tahun saya berada di kampus. Maka, usaha dan doa jangan sampai dipisahkan.

            Semoga yang baru memulai atau sedang berjuang di jurusan Pendidikan Bahasa Jepang UPI selalu dilancarkan di dalam melewati rintangan, mendapatkan gol yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

            皆さん、頑張ってください!

Demikian tulisan dari Talin yang saat ini sudah menjadi guru bahasa Jepang di SMA 1 Cianjur. Semoga menyemangati para kohainya yang masih menikmati perkuliahan di DPBJ. Talin memiliki niat dalam waktu dekat berencana untuk melanjutkan studinya mempelajari linguistik di UNPAD. Cita-cita yang mulia ya, semoga lancar kedepannya. Terima kasih Talin atas berbagi ceritanya, dan sukses selalu kedepannya.

 

]]>
Adzania Ayu Nelanda, Mengenal Dunia Interpreting https://jepang.upi.edu/adzania-ayu-nelanda-mengenai-dunia-interpreting/ Tue, 20 Nov 2018 17:25:43 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=4424

Pekerjaan yang paling dicita-citakan oleh kebanyakan mahasiswa jurusan bahasa Jepang adalah menjadi interpreter atau penterjemah. Namun ketika ditanya, usaha apa yang dilakukan saat ini? Kebanyakan mahasiswa terdiam, mereka menyadari bahwa kesiapan menjadi interpreter harus dimulai dari sekarang juga. Materi kuliah saja tidak akan cukup untuk kita bisa bekerja sebagai interpreter. Untuk itu, dosen pengampu tsuuyaku tahun lalu mencoba untuk menghadirkan alumni yang berpengalaman dalam melakukan interpreting. Banyak sekali lulusan DPBJ UPI yang sukses bekerja sebagai interpreter di perusahaan-perusahaan Jepang. Kali ini admin akan memperkenalkan salah seorang diantaranya dengan biodata sebagai berikut ;

Nama Lengkap : Adzania Ayu Nelanda
Riwayat Pendidikan
SMA Negeri 2 Kuningan, 2006
Universitas Pendidikan Indonesia, Jur. Pend. Bahasa Jepang 2009
Pengalaman
Osaka Business Internship Program, SARAYA Co.Ltd., April 2012
Student Exchange Program, Universitas Ibaraki 2013
Speech Contest, Perf. Ibaraki 2014
Pekerjaan
Staff di Northern Lights Education Center (NLEC) 2014

Berikut intisari dari materi interpreting berdasarkan pengalamannya menjadi interpreter. Materi ini telah disampaikan pada mata kuliah Tsuuyaku tanggal 1 November 2017, dengan tujuan untuk memberikan gambaran keterampilan seperti apa yang harus disiapkan agar menjadi interpreter yang handal. Admin mencoba menampilkan materinya pada lama ini juga agar diketahui secara lebih luas oleh para juniornya.

MENGENAL DUNIA INTERPRETING

 Pengalaman interpreting
Saat Kuliah : Japan Study Abroad Fair di Sabuga 2014 dan Program kerjasama antara Pemkot Bandung dengan Jepang (lampu jalan) 2014
Setelah Bekerja : Hampir setiap hari 😀

 Tipe dalam interpreting
Jepang-Indonesia secara bersamaan
Jepang-Indonesia secara bergantian

 Persiapan sebelum interpreting
Pahami dan dalami materi sebaik mungkin
Latihan dan image training

 Kendala yang dihadapi
Materi tidak siap
Ditunjuk menjadi interpreter dadakan
Pemateri memakai istilah atau ungkapan yang sulit kita pahami
Pemateri menjelaskan dengan sangat cepat dengan jeda yang sempit
Sulit menyampaikan maksud dengan ungkapan yang tepat

 Hal yang penting dalam interpreting
Image training
Pandai mengendalikan diri (ekspresi dan emosi)
Menjalin kontak batin dengan orang yang akan kita terjemahkan
Perkaya perbendaharaan kata, ungkapan, dll

Azdania, alumni yang meskipun masih muda dalam pengalaman bekerja tetapi ternyata dia dapat memberi tahu kita hal-hal penting terkai interpreter.
Demikian hal-hal penting yang perlu kita siapkan selama jadi mahasiswa agar setelah lulus nanti dapat menjadi interpreter yang memiliki keterampilan untuk dapat bersaing dengan lulusan lainnya.

Minasan, hibi tsuuyaku no kunren, gambatte kudasai.

]]>
Cerita Alumni : Teh Rina, Jepang dan Daun Bawang https://jepang.upi.edu/cerita-alumni-teh-rina-jepang-dan-daun-bawang/ Wed, 26 Sep 2018 05:10:48 +0000 http://jepang.upi.edu/?p=4341

 

Kali ini admin akan mengenalkan alumni Departemen Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia yang dulunya bernama IKIP Bandung angkatan 1995, bernama Rina Matsubara. Atas dasar sempai kouhai, kita panggil Teh Rina supaya lebih akrab. Melalui hasil obrolan per telepon online bulan lalu, admin merangkumnya menjadi 3 artikel, yaitu ; 1.Teh Rina, Jepang dan Daun Bawang, 2. Pertanian di Jepang dan Pekerja Indonesia di Mata Teh Rina, 3. Teh Rina, Petani dan Mimpinya Keliling Dunia.

Kali ini akan ditampilkan tema pertama yaitu Teh Rina, Jepang dan Daun Bawang.

Teh Rina, orang Garut yang pergi merantau ke Bandung untuk kuliah pendidikan bahasa Jepang di IKIP (Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan) pada tahun 1995. Impian setiap mahasiswa yang belajar saat itu adalah kuliah ke Jepang untuk mengasah kemampuan berbahasa Jepang selama 1 tahun dengan beasiswa Mombukagakusho, yaitu sebuah beasiswa dari Kementrian Pendidikan Jepang. Salah satu program beasiswanya ada yang namanya program Japanese Studies yaitu program beasiswa yang ditujukan untuk mahasiswa yang belajar bahasa Jepang di seluruh dunia termasuk Indonesia. Ketersediaan jumlah penerima beasiswa yang sedikit membuat para mahasiswa jurusan bahasa/sastra Jepang se-Indonesia bersaing ketat mendapatkan beasiswa tersebut. Hanya sekitar 10 orang setiap tahunnya yang bisa berangkat dengan beasiswa tersebut. Teh Rina berhasil mendapatkan beasiswa mombukagakusho ini pada tahun 2000, setelah setiap tahun Teh Rina selalu mengikuti ujian seleksinya tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya saat Teh Rina tingkat 4, kabar baik menghampiri. Teh Rina dinyatakan lulus untuk kuliah di Toyama University mulai bulan Oktober 2000.

Selama 1 tahun kuliah di universitas tersebut, Teh Rina mengikuti semua mata kuliah yang terkait dengan kejepangan dengan tekun. Di sela kesibukannya belajar di kampus, suatu hari Teh Rina menemani temannya yang ikut lomba pidato berbahasa Jepang tingkat Kota Himi, Prefektur Toyama. Saat itu kebetulan ada seorang laki-laki Jepang yang sedang bertugas mendokumentasikan acara tersebut. Dan sepertinya laki-laki Jepang tersebut tertarik dengan Teh Rina, sampai ketika Teh Rina pulang ke Indonesia pada bulan September 2001, orang Jepang tersebut berkunjung ke Indonesia dan melamar Teh Rina. Tidak lama kemudian di bulan Desember di tahun yang sama menikahlah Teh Rina dengan orang Jepang tersebut, sehingga Teh Rina menjadi bermarga Matsubara. Wah begitu kuatnya pesona Teteh ini di mata orang Jepang ya. Hidup memang terkadang banyak hal yang tak terduga.

Suami Teh Rina ini berasal dari keluarga petani daun bawang yang dalam bahasa Jepang disebut negi. Setelah menikah Teh Rina pindah ikut suaminya ke Toyama, Jepang. Membantu keluarga suami bertani, awalnya dikira merupakan hal yang mudah, hanya menjadi mandor, mengawasi pekerja saja. Tapi ternyata melihat suaminya, mertuanya ikut serta bertani, membersihkan rumput di ladang yang cukup luas bersama pekerja lainnya, bahkan lebih giat suami dan mertuanya daripada para pekerjanya, membuat Teh Rina yang awalnya bermalas-malasan menjadi ikut bersemangat bertani. Teh Rina pernah bertanya kepada suaminya “Kenapa kita harus turun tangan ke ladang untuk bertani? Kan kita sudah rekrut orang untuk mengerjakannya. Kita tinggal santai ngamandoran.“ Suaminya menjawab, “Tanaman itu mahluk hidup. Kita berharap kesuksesan dari tanaman tersebut, itu tidak mungkin mereka tumbuh baik kalau kita tidak merawatnya dengan tangan kita sendiri. Jadi kitalah yang harus lebih-lebih giat daripada karyawan kita. Kitalah yang harus tahu dengan tanaman kita.” Demikian begitu bijaknya pemikiran suami Teh Rina. Apakah ini karena dia orang Jepang atau prinsip dia pribadi saja? Yang pasti patut kita tiru ya untuk hal apapun. Tidak menyerahkan pekerjaan pada orang lain dengan mudahnya. Usahakan dengan tangan kita sendiri maka balasan terbaik akan datang.

Sayuran apa sih yang utamanya ditanam oleh Teh Rina dan keluarganya? Daun bawang dengan merek dagang Matsubara Nouen.
Daun bawang ini banyak digunakan dalam masakan Jepang, seperti yakitori (sate ayam dengan selingan batang bawang daun), masakan rebusan, atau masakan tumisan. Yang menarik, berbeda dengan di Indonesia, Daun bawang di sini lebih banyak memakai bagian putih yang dekat dengan akar daripada bagian daunnya. Bahkan ada ketentuan bahwa panjang bagian putihnya daun bawang yang dapat dijual, yaitu 28-30 cm. Untuk daun bawang yang panjangnya kurang dari itu, tidak dapat dijual ke pasaran. Begitu ketatnya pelayanan terhadap konsumen di Jepang. Daun bawang yang rasanya begitu manis menjadi sayur favorit dimanapun, dan berkat kerja keras Teh Rina bertani bersama keluarganya membuat Teh Rina dan keluarga hidup dalam kemakmuran tak jauh berbeda dengan pekerja kantoran. Yang paling penting adalah usaha dan kerja keras yang akan membuat hidup kita makmur, demikian Teh Rina menegaskan ceritanya.

Bagaimana sistem pertanian di Jepang, admin akan tampilkan cerita lebih detailnya pada artikel ke-dua yaitu “Pertanian di Jepang dan Pekerja Indonesia di Mata Teh Rina”

Teh Rina yang selama kuliah di IKIP Bandung / UPI memiliki beberapa dosen favorit seperti ; Bu Neneng, Pak Sugih, Pak Aep dan Bu Popi. Teh Rina menyampaikan salam kepada seluruh dosen yang bekerja saat ini di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang(DPBJ) UPI dan mengucapkan terima kasih atas bimbingannya selama kuliah.

Begitu senangnya admin dapat mendengar cerita yang banyak menginspirasi dari Teh Rina ini. Teh Rina yang selalu ceria menceritakan apapun dengan bersemangat. Ditunggu artikel berikutnya ya.

 

 

]]>