Dear All Mahasiswaku!
Hari ini (Minggu 17 Desember 2017) saya terdampar di sebuah toko buku dan menemukan buku yang cukup menarik berjudul Jadilah Yang Terbalik (karya Hasan El Perbani: Penerbit Mumtaz Media – Surabaya). Setelah saya baca sedikit di bagian pengantarnya, yang dimaksud terbalik oleh sang penulisnya, yaitu dimaknai “berbeda, unik, kreatif, inovatif, mempunyai nilai tambah, memiliki ciri khas, dan melawan arus”. Penulis buku ini menyarankan kepada pembacanya agar dalam kehidupan ini berusaha tercermin karakter tersebut. Buku setebal 152 halaman ini kaya dengan mantera mantera pendorong jiwa untuk optimis, jangan gampang menyerah, jiwa inovasi, dll. Dilengkapi juga dengan informasi sejumlah orang orang sukses sebagai cerminan orang orang “terbalik” (menurut penulis buku ini) diantaranya Tung Desem Waringin (Pembicara dan Pelatih Sukses no. 1 di Indonesia), Bong Chandra (seorang Motivator Termuda no. 1 di Asia sekaligus Penulis dan Developer dan menjadi miliarder di usia 22 tahun), Andrie Wongso (Motivator No. 1 di Indonesia, yang bergelar SDTT TBS (Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses), Ippho Right Santosa (Pakar Otak Kanan, Creative Marketer No. 1 Indonesia dan Penulis Mega-Bestseller penerima MURI Award, serta pendiri TK Khalifa), muhammad Ali (petinju legendaris dari Amerika yang memiliki keunikan dan ciri khas ketika bertanding), dan Michael Jackson (julukan The King of Pop, Dia memiliki suara yang bagus dan tarian khas, moonwalk), dll. Meskipun demikian, orang yang paling sukses dan “terbalik” di jagat raya ini (khsususnya bagi umat muslim) tiada lain dan tiada bukan adalah Nabi Muhammad saw (beliau sebagai nabi dan rosul, juga sebagai pengusaha, kepala pemerintahan/khilafah, ahli strategi, panglima perang, dll).
Pada bagian lain, saya baca sebuah bahasan yang menarik namun membuat saya mengkerutkan kening beberapa saat adalah tulisan yang berjudul “Belajar dari Iblis”, dan “Belajar dari Maling”. Dilihat dari judulnya cukup kontroversi dan mungkin saja pembaca mengira penulis buku ini mempunyai aliran “sesat”. Tapi tunggu dulu, tidak demikian. Pesan yang ingin dia sampaikan tiada lain adalah bahwa kita layak meniru iblis dalam hal kegigihannya, visioner, dan terencana. Penulis buku mengakui bahwa iblis itu adalah ciptaan Tuhan yang mempunyai jiwa visioner, pegang pada komitmen, gigih, dan terencana. Sedangkan maling apabila mereka sedang beroperasi berprinsip “sedikit bicara banyak kerja” atau istilah bahasa Inggrisnya “talk less do more”. Cuma kedua makhluk ini memanfaatkan energi positifnya itu untuk kepentingan kejahatan. Kita sebagai orang normal dan diperkaya akal oleh tuhan, maka wajib hukumnya energi positif yang dimiliki “iblis”: dan “maling” itu diarahkan untuk tujuan positif dan tentunya segala sesuatu kegiatan yang diridloi Allah SWT. Apakah bener iblis itu visioner, gigih, dan terencana? Seperti kita ketahui dalam kisah kisah Islam sering didengar bahwa iblis pernah berjanji untuk menggoda Nabi Adam ‘alaihisalam beserta keturunannya agar tersesat. Sejak dia lahir, tidak pernah putus asa untuk menggoda keturunan Nabi Adam supaya tersesat: tua – muda, laki – perempuan, guru – murid, ulama – santri, suami – istri, birokrat, pejabat, pedagang, penyanyi, politikus, rt, rw, camat, bupati, gubernur, presiden, dll.
Oh, ya! Sebenarnya pada tulisan ini saya ingin berceritera seputar “Senam Jantung Jilid Tiga” kaitannya dengan program iternship, namun dengan berbagai pertimbangan sesuatu dan lain hal, untuk sementara dipending dulu. Insya Alah suatu saat akan saya publikasikan. Untuk kali ini mah, saya ingin menyampaikan yang sifatnya umum umum saja yaitu bagian awal dari tulisan tersebut. Saya ingin membawa kalian merenung sejenak terlebih dahulu. Heee.heee.
*****
Ada kalanya proses perjalan untuk mencapai sebuah harapan atau mimpi itu lancar bagaikan kita melarikan kendaraan di jalan bebas hambatan, namun tidak jarang pula perjalanan itu tersandung oleh kerikil kerikil tajam yang mungkin melukai kaki kita. Perjalanan tersendat oleh sejumlah rintangan dan belokan yang mau tidak mau harus dilalui sehingga mimpi mimpi indah itu sulit untuk diwujudkan, setidaknya memerlukan waktu yang panjang. Padahal kita sudah berdarah darah demi sebuah harapan dan mengalami pluktuasi senam jantung yang dasyat, lalu pada akhirnya kandas di tengah jalan. Kalau situasi yang dihadapi seperti ini, apa yang mesti kita lakukan? Kalian pasti tahu, dalam konsep budaya bangsa kita, terutama keyakinan beragama Islam dikenal dengan “berserah diri”. Jika ihktiar sudah maksimal, tentunya diiringi dengan doa, namun hasilnya belum kesampaian, ya itulah kosep berserah diri itu kita tanamkan dalam diri kita masing masing.
Yang menarik dan unik adalah orang Jepang ketika menyikapi hal yang sama. Sepengetahuan saya konsep “berserah diri” itu tidak dikenal di kalangan mereka (terkecuali orang Jepang yang satu keyakinan dengan kita). Sebagai ilustrasi ketika kita berdoa atau sembahyang misalnya, bagi orang Jepang berdoa itu merupakan ritual yang dilakukan pada waktu tertentu dan konsepnya agak berbeda. Jika orang Jepang berdoa, umumnya memohon kesehatan, keselamatan, dan kemakmuran dalam hidup. Kita tahu bangsa Jepang terkenal dengan rajin dan tekun. Memang mereka selalu berusaha dengan sangat giat dalam meraih sesuatu yang mereka harapkan. Namun, jika harapan itu penuh dengan rintangan atau hambatan, lalu pada akhirnya mengalami kegagalan, maka mereka akan memandang bahwa kegagalan itu bukan sebagai takdir tuhan, namun sebuah ketidakoptimalan dalam melakukan usaha. Saya kira mungkin konsep berpikir inilah salah satu daya dorong orang orang Jepang yang tidak cepat merasa puas atas capaian sesuatu. Hasilnya, berbagai inovasi terus dikembangkan dan disempurnakan. Sangat wajar apabila diawali hanya mampu meniru, namun pada akhirnya muncul karya originalitas mereka yang mengagumkan sehingga mampu merajai perekonomian dunia. Terlepas dari hal itu, yang perlu kita garis bawahi adalah sikap menyerah sebelum berusaha adalah langkah hidup yang tidak diharapkan.
Saya sendiri kadang kadang mengalami perjalanan yang sulit ketika mencapai sebuah harapan. Beberapa diantaranya yang sudah menjadikan “senam jantung” saya adalah program Osaka Business Internship Program (OBIP), Japan Business Internship Program (JBIP) dan Wisata Pendidikan ke Jepang. Episode “Senam Jantung Jilid Satu dan Jilid Dua” bisa dibaca di(http://berita.upi.edu/2013/07/17/sekelumit-kisah-pembelajaran-obip-2013-senam-jantung-menjelang-ramadhan/. Jilid pertama ini mengisahkan perjalanan OBIP yang tidak lancarnya proses visa sehingga keberangkatan rombongan sampai tertunda dua kali, dan “merugi” dana yang sangat besar. Sedangkan “Senam Jantung Jilid Dua” mengisahkan ketika saya membawa rombongan guru dan kepala sekolah di Karawang ke Jepang tahun 2012. Waktu itu salah seorang peserta rombongan tasnya tertinggal di bandara Kansai. Di tambah lagi, yang menjadikan saya senam jantung semakin dasyat tahun 2012 ini adalah sehari setelah saya menginjakkan kaki di negeri Oshin (Sabtu, 16 Mei 2012) ada berita duka bahwa ayah tercinta saya meninggalkan dunia. Memang kalau takdir sudah berbicara A atau B, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya doa yang bisa kita panjatkan kepada penguasa bumi dan langit ini ““Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu waghsilhu bilmaa`i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min ‘adzaabin naar” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” Untuk selanjutnya, silahkan dibaca (http://www.karawangnews.com/2012/06/geliat-dinas-pendidikan-karawang.html).
Sebenarnya informasi awal tentang adanya program internship LPPM UPI kerjasama dengan ISH ini sudah saya tulis dengan judul “Program Internship Menggoyang Mahasiswa UPI”. Silahkan dibaca artikel di http://berita.upi.edu/archives/12391.
Entah mengapa, saya demikian antusias untuk membantu mewujudkan impian teman teman mahasiswa (baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus UPI) yang mau ke Jepang. Destinasi hanya dibatasi Jepang saja sebab akses ini yang paling dimungkinkan dan relatif mudah untuk diwujudkan. Sebenarnya, untuk UPI bisa juga menjelajahi negara lain selain Jepang lebih gencar lagi seperti ke Sri Lanka, Meksiko, Republik Korea, Turki, Cina (Mongolia), Peru, Irlandia Utara, Filipina, Rusia, Italia, Nepal, India, Argentina, Swiss, Kenya, dan Kamboja. Akses dengan negara negara tersebut sudah terkoneksi dengan baik. Kita (baca: UPI) telah sukses menjadi tuan rumah yang baik dalam penyelenggaraan cultural summit tahun 2014. Tinggal kita “memanfaatkan” jejaring yang sudah dijalin ini sebagai peluang emas dengan menciptakan aneka ragam program kegiatan lain.
Sepulangnya dari Jepang minggu kemarin, ada mahasiswa bertanya kepada saya demikian, “Sensei, mengapa giat sekali membuat program untuk mahasiswa ke Jepang?”. Pertanyaan yang cukup menggelitik sebab baru kali ini ada mahasiswa yang bertanya seperti itu. Memang, hampir setiap saat selalu muncul pertanyaan demikian. “Apa yang bisa diperbuat dengan profesi yang saya miliki selain mengajar bahasa Jepang?”. Jawabnya yaitu berusaha merancang aneka ragam program kegiatan bagi orang Indonesia yang mau ke Jepang atau bagi orang Jepang yang mau ke Indonesia. Saya sangat meyakini dengan melihat Jepang secara langsung dengan mata sendiri, mendengar tentang Jepang dengan telinga sendiri, merasakan langsung ganasnya kehidupan kota kota di Jepang, menikmati alam Jepang, tukar informasi dengan orang orang Jepang secara langsung, dan kegiatan yang relevan lainnya, intinya buka mata, buka telinga, dan buka hati langsung di negeri Matahari adalah cara terbaik untuk memahami Jepang. Demikian sebaliknya, semakin banyak orang Jepang memahami Indonesia, maka benturan budaya akibat perbedaan, mungkin bisa dihindari. Bisa jadi, suatu saat kebersamaan dalam perbedaan itu bukan hanya di kalangan bangsa Indonesia, namun tercipta juga di masyarakat dunia (dalam hal ini Indonesia dan Jepang). Saya kira sangat cocok juga kalau roh “Bineka Tunggal Ika” yang kita punya menjadi pilar bangsa bangsa di dunia untuk mewujudkan perdamaian dunia. Saya usulkan ke PBB supaya mengadopsi roh semboyan yang kita punya ini.
Program internship hanya salah satu upaya jangka panjang untuk menciptakan saling pengertian antara Indonesia dan Jepang. Saya sangat meyakini program internship bagi para mahasiswa ini sangat bagus, menarik, meskipun penuh tantangan. Khusus bagi saya sendiri, program ini merupakan episode perjalan hidup saya yang sangat bemakna. Harapannya tiada lain semoga menjadi goresan tinta emas sehingga memperkaya khasanah karier saya sebagai warga UPI yang insya Allah tidak akan terlupakan sepanjang hayat dikandung badan. Yang lebih penting lagi, apakah itu OBIP, JBIP, internship UPI-ISH, atau program program yang lainnya diharapkan para mahasiwa peserta program ini menjadi generasi penerus bangsa, menjadi insan insan yang mandiri, lalu mampu mengepakkan sayapnya lebih lebar membentang menjelajahi ruang tanpa batas dan mampu memasuki kawah candradimuka internasionalisasi yang lebih luas dalam rangka mengisi abad 21 ini. Semoga!!!
Sementara sekian dulu. Insya Allah lain kali disambung lagi.
(Bandung, 19 Desember 2017)
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
]]>
Dear All Mahasiswaku!
Kali ini saya ingin berceritera sosok seorang warga UPI yang sangat melekat dalam hidup saya. Sebuah nama yang tidak mungkin saya lupakan. Seorang profesor yang saya kagumi dan saya hormati. Namun, sebelum masuk pada pokok tulisan, saya ingin sedikit berceritera tentang kisah sebuah pohon sirih. Kisah sirih ini saya angkat terlebih dahulu sebab kisah ini pernah menjadi bahan obrolan saya dan beliau ketika mengisi kekosongan perjalanan antara Osaka dan Koyasan Wakayama Japan.
*****
Kalau tidak salah, waktu itu saya masih berumur 10 tahun pernah menyaksikan seorang nenek menangis jejeritan seperti yang kesakitan. Awalnya saya tidak mengerti kenapa si nenek itu menangis. Tak lama kemudian, saya mendengar bahwa penyebab dia menangis itu gara gara sirih yang dia tanam menjadi layu. Selidik punya selidik, ternyata batang sirih tersebut terpotong oleh seseorang ketika merumput untuk binatang ternaknya. Entah siapa yang menyabit rumput hingga kini pun saya tidak mengetahuinya. Tangisan si nenek masih terngiang di telinga saya sebab suara tangisan yang jejeritan1) diiringi dengan kokosodan2), lalu inghak inghakan3) . Yang jelas tangisan si nenek itu seperti tangisan orang yang tersiksa dan menyesali yang sangat mendalam. Pengalaman ketika kecil itu hingga kini pun masih terpancar jelas dalam bayang bayang saya seolah terpampang lebar membentang di hadapan saya. Waktu itu, saya tidak tidak begitu menyelami perasaan yang sebenarnya arti tangisan si nenek karena masih kecil namun perasan itu bisa memahami betul setelah saya berkeluarga. Kenapa demikian? Inilah kisahnya.
*****
Salah satu kegemaran saya sejak kecil adalah menanam pohon. Apapun jenis pohonnya, selama ada lahan saya tanam. Bahkan sering meminta izin kepada tetangga yang punya lahan kosong untuk ditanami tanaman. Tanaman jenis buah buahan atau tanaman keras. Kebetulan di kampung saya banyak benih tumbuhan yang bisa diambil dengan gratis di hutan seperti pohon mahoni, pohon antoteka, bahkan banyak benih pohon buah buahan.
Perjalanan dari rumah ke SD melewati sawah dan kebun, sedangkan dari rumah ke SMP melewati hutan. Jika saya menemukan benih tumbuhan, saya pungut dan saya bawa pulang ke rumah, lalu ditanam di lahan kosong, entah di halaman depan atau belakang rumah saya. Kebiasaan seperti itu terus berlanjut hingga sekarang. Karena lahan punya orangtua saya tidak begitu luas dan tidak begitu banyak, sering saya tanam di lahan orang. Tentunya meminta izin terlebih dahulu kepada yang empunyanya. Kalau sudah besar atau berbuah misalnya, itu mah terserah yang punya lahan. Mau dipanen oleh yang punya lahan atau siapa pun terserah.
Alhamdulillah setiap pohon yang saya tanam selalu tumbuh subur. Memang. Pada mulanya sering layu, tapi beberapa hari kemudian pohon itu tumbuh normal. Tipsnya sangat sederhana. Ketika menanam pohon apapun jenis pohon itu, begitu ditanam jangan lupa harus langsung disiram. Lalu, disiram setiap hari minimal sehari sekali selama satu atau dua bulan apalagi kalau musim kemarau harus setiap hari sampai tumbuhan itu lilir4). Apalagi ketika menanam musim kemarau, wajib hukumnya menyiram tananam yang kita tanam apabila berharap ingin tumbuh dengan baik. Ini pengalaman. Kata orang Sunda, tangan saya itu tiis (dingin). Ini sebutan kepada mereka yang selalu berhasil tumbuh dengan baik jika menanam pohon. Meskipun demikian, ada satu tumbuhan yang tidak bisa sekaligus normal, yaitu kalau saya menanam sirih. Setiap menanam sirih, beberapa hari kemudian selalu mati. Tapi saya tidak putus asa, saya tanam dan tanam terus, akhirnya sirih yang saya tanam bisa tumbuh normal sebagaimana yang diharapkan dan saya pelihara sebagaimana layaknya memelihara tumbuhan yang lain.
Dua tahun kemudian, sirih ini layak untuk dipanen. Banyak yang memanfaatkan sirih yang saya tanam. Istri saya, tetangga saya, bahkan ada juga orang yang lewat dan meminta daun sirih. Katanya untuk obat. Namun, yang paling sering saya panen ketika saya mudik. Di kampus saya banyak orang yang suka nyeupah5). Oleh karena itu, setiap pulang kampung atau mudik, saya selalu membawa satu kantong keresek sebagai oleh oleh untuk para wanita yang suka nyeupah. Kalau mudik pasti membawa sirih. Karena kebiasaan seperti itu sehingga sering ditanya oleh para nenek di kampung saya adalah sirih. “Mana seureuhna. Seureuh ti Bandung mah raos pisan (Mana sirihnya, Sirih dari Bandung mah enak sekali)”, demikian kesan para nenek di kampus saya.
Pertanyaan tentang sirih ini tidak akan saya temui lagi sebab kampung saya sudah tenggelam dan mungkin sekarang sudah menjadi penghuni ikan ikan di dasar sana. Perlu saya jelaskan bahwa saya dilahirkan di Kampung Jemah, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang – Jawa Barat – Indonesia. Saya tulis lengkap saja kalau kalau ada yang tidak mengetahui letak Sumedang, apalagi kampung saya – Jemah. Sebuah kampung di kaki gunung Surian dan dikelilingi hutan. Sekarang nasibnya sudah menjadi sagara/lautan gara gara dibuat dam Jatigede di Sumedang. Informasi yang berkaitan dengan dam Jatigede Sumedang cukup banyak. Silahkan saja bagi rekan rekan yang ingin mengetahui lebih banyak tentang informasi dam Jatigede ini dengan berbagai permasalahan sosialnya bisa ditanyakan kepada Mbah Google.
Kurang lebih tujuh tahun, saya pindah rumah ke daerah Pondok Hijau Indah. Kira kira sebelah barat kampus saya – UPI. Di lokasi sekarang, lumayan halaman agak luas sehingga saya bebas bisa menanam apa saja. Dari tanaman perdu hingga tanaman keras. Yang utama tanaman toga (bahan obat herbal) seperti saledri, kangkung, kelor, pepaya, murbei, sirih, tomat, teratai, temulawak, tembelekan (saliara), tanduk rusa, sereh, sembung, semangi gunung (tumbung kanjut), pandan, mengkudu, lengkuas (laja), kunyit, kumis kucing, kencur, jahe, katuk, hangasa, kahitutan, dan akar wangi. Mungkin karena cukup lengkap tanaman toga di depan rumah saya sehingga dicalonkan sebagai rumah sehat tahun 2017 di Kabupaten Bandung Barat. Alhamdulillah. Selain tanaman toga, saya tanam juga pohon keras seperti pisang, sawo, perpaya, aromanis, cengkir, jeruk, pinus, jambu batu, jambu air, dll. Ternyata tanaman yang saya tanam itu tidak mubazir. Misalnya untuk daun kelor. Hampir setiap minggu ada orang yang memerlukannya. Katanya untuk pengobatan struk. Caranya dioseng oseng atau disayur.
Dari tananam yang saya sebutkan di atas, tentunya salah satu tanaman yang menjadi trending topik di tulisan ini adalah sirih. Suatu hari, sirih yang saya manjakan ini terkotori orang sebelah gara gara dia sedang membangun rumahnya (ngecor) sehingga air semen uprat apret (tercecer) kemana mana termasuk mengotori sirih yang saya tanam. Wajar kalau saya marah dan sangat sangat tersinggung atas perlakukan tetangga saya ini. Tak pikir panjang saya ontrog (datangi) ke rumahnya. Sayang sekali yang punya rumah tidak ada di tempat. Yang ada waktu itu, hanyalah pegawainya. Aku sampaikan keluhan saya, lalu saya ajak pegawai itu untuk melihat langsung kondisi sirih yang sangat kotor oleh semen. Saya bukan melarang dia membangun rumahnya namun yang saya harapkan harus berhati hati. Sangat wajar jika kita beritahu dahulu orang tetangga dan semestinya ditutupi dahulu oleh terpal atau sejenisnya supaya tanaman tidak terkotori. Saya kira itulah etika bertetangga. Pepatah Sunda mengatakan berbaik baiklah dengan tetangga karena orang itulah yang akan menolong kita manakala kita kesulitan. Tidak berlebih apabila saya istilah bahwa tetangga itu adalah malaikat penolong ketika dalam kondisi darurat. Jadi, wajar jika kita saling mengenal, saling memahami, bahkan bila perlu keakraban kita sama dengan keakraban kepada kedua orangtua kita atau saudara kita. Cara cara tetangga saya membangun seperti itu saya nilai tidak manusia dan tidak beretika.
Meskipun perasaan saya dongkol atas kejadian sirih yang saya manjakan itu terkotori, namun harus dimaklumi sebab dalam kehidupan ini pasti ada faktor ekternal yang bisa membuat kita marah, dongkol, kesal, dan sejenisnya. Tinggal keberanian. Apakah perasaan marah itu mau dikeluarkan atau mau dipendam dalam hati. Menurut hemat saya, sebaiknya dikeluarkan dan dibicarakan dengan baik baik. Kalau perasaan marah terpendam, mungkin saja menjadikan marah terpendam itu bagaikan api dalam sekam. Sifat seperti ini tidak baik dan tidak bermanfaat sebab “kemarahan” yang terpedam bisa bisa menggerogoti jiwa dan raga diri sendiri. Atau bebaskanlah. Itulah kata kunci sebuah upaya yang sangat baik. Kalau tidak demikian, maka yang rugi diri sendiri.
Dengan pengalaman nyata seperti itu, dan teringat si nenek yang menangis itu, saya sangat merasakan sekali perasaan si nenek yang menangis di kampus saya dulu. Kalau saja, saya seorang perempuan dan seorang nenek, mungkin saja saya juga akan menangis seperti si nenek itu.
*****
Bagi saya yang membuat prihatin itu semata mata bukan masalah sirihnya, tapi prihatin atas sikap orang itu yang tidak menghargai arti sebuah nilai. Menurut hemat saya, sekecil apa pun atau sesederhana apa pun sebuah “nilai” harus dihargai. Entah sesuatu itu milik diri sendiri atau milik orang lain. Memang, sesuatu itu bisa sangat bernilai bagi seseorang belum tentu bernilai bagi orang lain. Apa artinya selembar kertas putih bila dibandingkan dengan selebar kertas yang bertuliskan angka angka yang kita kenal dengan sebutan cek atau uang? Tentunya nilainya tidak sama meskipun bahan dasarnya sama yaitu kertas. Uang, cek, materai, bon, kwitansi, brosur, pamplet dll, itu semua terbuat dari kertas, namun nilainya tidak sama. Demikian pula ketika kita menjalani kehidupan ini. Aneka ragam nilai yang bersifat universial seperti toleransi, emphaty, budaya malu, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan sejenisnya, tentunya harus diupayakan tercermin dalam diri kita. Kita tahu bahwa itu semua adalah nilai kehidupan yang akan mampu mengangkat martabat dan derajat seseorang ke tahap yang lebih mulia dan hidup kita akan bernilai dimata orang orang sekeliling. Untuk apa kita hidup kalau dalam keseharian kita itu tidak bernilai.
Contoh lainnya bahwa sebuah nilai itu tidak bisa diuangkan, bahkan lebih berharga dari nyawa sekali pun, misalnya kita ambil bendera merah putih. Kalau dari tampilan fisiknya sangat sederhana. Bendera negeri kita hanya terbuat dari selembar kain. Di bagian atas berwarna merah, dan di bagian bawahnya berwarna putih. Komposisi dua warna itu, ternyata telah mampu mengobarkan semangat juang yang dasyat dari masa ke masa. Mengapa demikian? Sebab disitu tersirat segudang nilai yang tidak bisa diuangkan. Harga diri, martabat, nyawa, dan sederetan nilai nilai perjuangan dan pengorbanan sudah menyatu di dalamnya. Sangat wajar jika selembar kain yang berwarna merah putih yang dihormati bangsa Indonesia ini ada orang yang mencabik cabiknya atau menghinakannya pasti banyak orang Indonesia yang marah. Bila perlu orang yang mencabikcabiknya itu dihilangkan dari permukaan bumi ini.
*****
Seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, sekelumit kisah yang saya ceriterakan di atas, terutama kisah sebatang sirih itu adalah salah satu topik yang pernah saya obrolan kepada seorang prof. yang terkenal dengan jargon pokoknya….. Karya beliau yang monumental, dengan judul diawali Pokoknya…telah meramaian khasanah perbukuan di negeri ini, bahkan di dunia, yaitu Pokoknya Menulis, Pokoknya Kualitatif, Pokoknya Sunda, Pokoknya Rekayasa Literasi, Pokoknya Studi Kasus, dan Pokoknya Action Research. Profesor yang saya maksud bukan siapa siapa lagi kalau bukan Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Ph.D. alm.
Bagi saya, setiap bulan Desember tiba, tepatnya tanggal 9 Desember selalu terbayang dan terlintas sosok seorang maha guru ini, Mengapa demikian ? Sebab beliau adalah salah seorang dosen UPI yang banyak menginspirasi saya dalam merintis dan menjalani tugas di UPI, terutama ketika ada dorongan untuk menuangkan sesuatu lewat tulisan, melakukan penelitian, dll. Ya, itulah Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Ph.D. alm. Beliau adalah aset sumber daya manusia “langka” yang sangat berharga bagi UPI khususnya dan bagi dunia pendidikan (bahasa) pada umumnya. Seperti dimaklumi, Prof. Chaedar meninggal dunia di Rumah Sakit Al Islam, Selasa malam, 9 Desember 2014. Almarhum yang wafat pada usia 61 tahun ini dimakamkan di Cicalengka setelah disalatkan di Masjid Al-Furqan UPI Rabu pagi, 10 Desember.
Khabar meninggal Prof. Chaedar bertepatan ketika saya memperoleh tugas mendampingi tim kesenian UPI performance di Osaka dari tanggal 7 .s.d 14 Desember 2014. “Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai”, kira kira itulah perasaan saya waktu itu. Mengapa demikian? Sebab saya ingin sekali mengantarkan beliau sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Namun hanya doa dan doa yang bisa saya panjatkan waktu itu.
Saya termasuk salah seorang warga UPI yang beruntung dalam hal kedekatan antara saya dengan Prof. Chaedar. Berkat kedekatan itulah banyak sejumlah kenangan telah mewarnai hidup saya. Dua diantaranya yaitu (1) Ketika beliau menjadi atasan saya sebagai Dekan FPBS UPI. Waktu itu, saya dilibatkan merancang dan membuka Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Jepang Pascasarjana UPI; dan (2) ketika saya bersama beliau menghadiri Cultural Summit di Osaka. Waktu itu saya sekamar dengan beliau dan sempat mengunjungi Koyasan di Wakayama Jepang.
Itulah sekelumit kisah hubungan saya dengan Prof. Chaedar. Saya merasa bangga dan sangat hormat kepada beliau meskipun secara akademik saya tidak pernah diajar langsung oleh beliau melalui kuliah misalnya, namun sejak saya mengenal beliau baik sebagai atasan langsung ketika beliau menjabat Dekan FPBS UPI maupun sebagai Wakil Rektor UPI banyak pelajaran yang saya peroleh darinya. Selain itu, banyak karya beliau yang sudah saya baca sehingga ayat ayat cinta kasih beliau terhadap keilmuannya tercermin di dalam mahakarya Pokoknya….. tersebut. Lain kali, saya ingin sekali memperkenalkan buku buku yang berjudul Pokoknya…itu kepada kalian. Atau silahkan kalian baca sendiri buku buku tersebut.
Akhirnya, saya sampaikan selamat jalan dan selamat beristirahat yang damai di alam sana untuk Prof. Chaedar.
“Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu waghsilhu bilmaa`i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min ‘adzaabin naar” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” .
Pondok Hijau Indah (PHI), 2 Desember 2017.
Jejeritan: menangis dengan suara keras. Biasa diiringi dengan kata kata/sambil berbicara).
Kokosodan: seseorang yang menangis jejeritan sambil kakinya digerak gerak. Biasanya dalam posisi duduk, lalu badan digoyang goyang ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang).
inghak inghakan (suara tangisan yang terisak isak).
Lilir: sebutan untuk tumbuhan yang baru ditanam kalau bisa tumbuh sehat dan normal (tidak layu). Atau sebutan kepada seseorang yang baru bangun dari tidurnya.
Nyeupah: nyirih
]]>
Dear Para Mahasiswaku!
Tidak disangkal lagi seni pertunjukkan Indonesia, dimana pun seni itu ditampilkan selalu menjadi magnit tersendiri yang mampu menyedot dan membius para pelaku dan penikmat seni di Jepang, termasuk tampilan Tim Kesenian Karawang di Kansai Jepang. Seni pertunjukan yang saya maksud yaitu orkestra angklung. Selama 5 hari ini, yaitu sejak tanggal 17 s.d. 23 Nopember 2017, saya diminta mendampingi para inohong Karawang dan Tim Kesenian Angklung untuk melawat ke negeri Sakura. Sebuah kesempatan yang jarang terjadi dan tak ternilai harganya bagi saya mah. Bukan dari segi materi, namun dari kepuasan batin, yaitu sebuah “penghargaan” dan “kepercayaan” yang saya peroleh. Dua nilai kehidupan yang saya kira didambakan oleh setiap orang yang beradab dan mencintai kehidupan yang damai. Heeee.heeee. Dua nilai kehidupan yang gampang gampang susah diraih sebab perlu proses yang relatif panjang. Tentunya “penghargaan” dan “kepercayaan” ini harus dijaga dengan baik sebab akan menentukan harkat dan martabat kehidupan kita. Kita tahu bahwa kepercayaan dan penghargaan itu akan semakin memudar, mungkin saja akhirnya menghilang manakala racun “kebohongan” dan “penipuan” merajalela dimana mana. Saya berharap mari kita saling mengingatkan dan saling menjaga diri kita masing masing, jangan sampai menyepelekan dua nilai kehidupan ini.
Eh, ngomong ngomong, sesuai dengan janji saya sebelum berangkat bahwa nanti akan saya bagi “oleh oleh”. Oleh oleh yang saya maksud bukan berupa materi, namun berupa ceritera atau dalam bahasa Jepangnya disebut omiyage banashi. Semoga bermanfaat.
*****
Adalah sebuah penghormatan yang sangat luar biasa ketika pihak Osaka In The World Committee (disingkat OIW) memulai pelaksanaan programnya dengan mengundang IKIP Bandung (sekarang UPI) sebagai negara asing yang ketiga (setelah Switzerland) guna memperkenalkan budayanya. Undangan itu terjadi pada tahun 1992. Rombongan waktu itu, dikomandani Rektor IKIP Bandung (Prof. Kodir alm.) sukses memperkenalkan budaya Sunda serta Indonesia dengan menyajikan beberapa materi seni seperti angklung dan sejumlah tarian Indonesia. Bahkan di tahun 2014, UPI dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan OIW dengan dihadiri perwakilan 26 negara dan pihak UPI telah berhasil dan sukses menjalankan kegiatannya sebagai tuan rumah yang baik. Kegiatan ini dikenal dengan sebutan “Cultural Summit OIW – UPI”. Untuk informasi lebih lanjut, bisa dibaca di https://lifestyle.sindonews.com/read/918776/166/25-negara-ikuti-culture-summit-2014-1414980193 dan http://jabar.tribunnews.com/2014/11/02/universitas-pendidikan-indonesia-gelar-world-culture-summit. Tidak hanya sampai di situ, bahkan secara berturut turut setiap tahun sejak tahun 2014, OIW mengundang UKM Katumbiri FPBS UPI untuk performance di Okinawa, Osaka dan sekitarnya.
Dari rangkaian kerjasama yang baik antara OIW dan UPI, ternyata dalam perkembangannya beranak pinak menjalin persahabatan dengan kota kota lain diantaranya dengan Karawang. Cikal bakal kerjasama antara Karawang dan OIW ini diawali dengan adanya program kunjungan Dinas Pendidikan Karawang (yaitu para Kepala Sekolah SMP, SMA, para pengawas, beberapa orang guru, dan tentunya pimpinan Dinas Pendidikan) berkunjung ke Jepang tahun 2012 atas undangan OIW, dan kali ini pun atas undangan OIW pula. Informasi kunjungan waktu itu bisa dibaca di (http://www.karawangnews.com/2012/06/geliat-dinas-pendidikan-karawang.html#).
Seperti halnya kunjungan pertama tahun 2012, yaitu ketika Dinas Pendidikan Karawang ke Jepang, kali ini pun rombongan disambut dengan kehangatan yang luar biasa, tepuk tangan yang meriah, dan tentunya hidangan hidangan makanan ala Jepang. Pada hari pertama sedikit hujan, namun tidak mengurangi kehangatan warga Jepang dalam menyambut rombongan Karawang. Meskipun hari hari berikutnya suhu semakin dingin kira kira 8 derajat, namun dinginnya cuaca tidak mengalahkan minat dan rasa kepenasaran rombongan Karawang untuk mengetahui lebih jauh kota Osaka dan sekitarnya serta mereka serius mengikuti rangkaian kegiatan yang cukup padat.
Secara rinci rangkaian kegiatan eksibisi kali ini bisa saya jelaskan sebagai berikut.
Itulah omiyage banashi yang bisa saya sampaikan. Semoga ada secercah “mutiara” yang bisa menjadi bahan renungan kalian. Sampai bertemu lagi dengan topik ceritera yang berbeda (Bandung, 24 Nopember 2017)
]]>
Dear All! (Para Mahasiswaku!)
Kali ini Aku ingin berbagi ceritera dengan para mahasiswaku di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI, dan mudah mudahan juga ada manfaatnya untuk teman temanku diluar departemen bahasa Jepang. Sengaja kali ini, Aku urat oret ini dibuat dalam bentuk surat dengan harapan supaya lebih familier dan mudah mudahan terjadi “kedekatan batin” antara Aku dan para mahasiswaku.
Urat oretku kali ini, diambil dari bahan diskusi Bapak Nakahashi ketika memberikan kuliah umum di departemen kita beberapa tahun yang lalu. Naskah pidatonya Aku terima dalam bahasa Jepang, tapi sudah Aku coba menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Naskah pidato yang dimaksud adalah pidato seorang mantan presiden Uruguay Hose Mujica ketika beliau menghadiri pertemuan puncak tentang lingkungan di Rio De Janiro.
Sekali kali kita beralih “profesi” memandang masa depan kehidupan dari kacamata lain. Maksudku, meskipun kita bergelut di dunia kebahasajepangan, namun tidak salah dan memang halal juga jika kita melihat jauh ke depan dan melirik ke samping kiri dan kanan untuk mencoba memikirkan masalah lain. Tidak hanya berkutat memikirkan dan asyik dengan kebahasajepangan semata, tapi kita mencoba merenung ke topik yang lebih luas, yaitu buka mata buka hati ikut memikirkan nasib manusia manusia yang bergentayangan di muka bumi ini. Heee.heeee. Inilah naskah pidato presiden yang dimaksud.
Semoga bermanfaat.
この場所にいらっしゃる全ての政府、そしてその代表の方々に感謝申し上げます。また、リオ会議に招いていただいたブラジルのジルマ・ルセフ大統領にも感謝申し上げます。
これまで素晴らしいお話をされてきたプレゼンテーターの方々にも感謝申し上げます。国を代表する者として、人類にとって必要となる国家同士の話し合いをおこなう素直な志がこの場所で表現されていることと考えています。
今日の午後から、これまで議題となっていたことは持続可能な発展と世界の貧困を撲滅することでした。我々が真に抱いている問題とは、一体何なのでしょうか?現在の豊かな国々が辿ってきた発展と、その消費モデルを真似することでしょうか?
質問をさせてください:ドイツ人が一世帯で持つ車と同じ数の車をインド人が持てばこの惑星はどうなるのでしょうか?
呼吸をしていくための十分な酸素は残るでしょうか?。同じことを別の質問で言うならば、西洋の富かな社会がおこなっている“傲慢な”消費を世界の70から80億人もの人々がおこなうための至言は、この地球に存在するのでしょうか?それは本当に可能でしょうか? あるいは、異なる議論が求められるのでしょうか?
市場経済の子どもたち、資本主義の子どもたち、すなわち私たちが間違いなくこの無限ともいえる消費と発展を求める社会をつくり出してきたのです。市場経済が市場社会を生み出し、このグローバリゼーションが世界の果てまで資源を探し求める社会にしたのではないでしょうか。
私たちがグローバリゼーションをコントロールしていますか?あるいはグローバリゼーションが、私たちをコントロールしているのではないでしょうか?
これほどまでに残酷な競争によって成り立っている消費社会の中で、「みんなで世界を良くしていこう」という共存共栄な考え方はできるのでしょうか?どこまでが仲間でどこからがライバルなのですか?
このようなことを述べるのは、リオ会議の重要性を批判するためではありません。むしろ、その反対です。我々の前に立っている巨大な危機は環境問題ではないのです。それは、政治的な危機なのです。
現代においては、人類がつくりだしたこの大きな勢力をコントロールしきれていません。逆に、この消費社会によって人類はコントロールされているのです。私たちは発展するべく生まれてきたわけではありません。幸せになるため、この地球にやってきたのです。人生は短く、すぐ目の前を過ぎてしまいます。命よりも高価なものは存在しません。
常軌を逸した消費は世界を破壊しており、高価な商品やライフスタイルが人々の仁政を破滅させているのです。社会は消費という歯車によって回っており、我々はひたすらに早く、そして大量の消費を求められています。もしも消費がストップするならば経済が麻痺して、そうすれば不況の魔物が我々の前に現れるのです。
常軌を逸した消費を続けるには、商品の寿命を縮めて出来るかぎり多く売る必要があります。つまり、10万時間持つ電球をつくれるのに、1000時間しか持たない電球しか販売できない社会にいるのです。それほど長く持つ電球は、市場社会に良くないのでつくることはできないのです。人々がより働くため、そしてより販売するために「使い捨ての社会」を続ける必要があるのです。
これはまぎれも無く政治問題ですし、我々はこの問題を異なる解決方法によって世界を導く必要があるのです。石器時代に戻れとは言っていません。市場を再びコントロールする必要があると言っているのです。私の考えでは、これは政治問題なのです
昔の賢明な方々、エピクロス、セネカやアイマラ民族までこんなことを言っています。
「貧乏な人とは、少ししかモノを持っていない人ではなく、無限の欲があり、いくらあっても満足しない人のことだ」
この言葉は、私たちの議論にとって文化的なキーポイントだと思います。
国の代表者としてリオ会議の決議や会合にそういう気持ちで参加しています。私のスピーチの中には耳が痛くなるような言葉がけっこうあると思いますが、みなさんには水源危機と環境危機が問題源でないことを分かってほしいのです。
そして、改めて見直さなければならないのは私たちの生活スタイルだということです。
私は環境資源に恵まれている小さな国の代表です。私の国には300万人ほどの国民しかいません。でも、世界でもっとも美味しい1300万頭の牛が私の国にはあります。ヤギも800万から1000万頭ほどいます。私の国は食べ物の輸出国です。こんな小さい国なのに領土の90%が資源豊富なのです。
私の同志である労働者たちは、8時間労働を成立させるために戦いました。そして今では、6時間労働を獲得した人もいます。しかしながら、6時間労働になった人たちは別の仕事もしており、結局は以前よりも長時間働いています。なぜか?バイク、車、などのリポ払いやローンを支払わないといけないのです。毎月2倍働き、ローンを払って行ったら、いつの間にか私のような老人になっているのです。私と同じく、幸福な人生が目の前を一瞬で過ぎてしまいます。
そして自らにこんな質問を投げかけます。
それが人類の運命なのか?
私の言っていることはとてもシンプルなものです。発展は幸福を阻害するものであってはいけないのです。発展は人類に幸福をもたらすものでなくてはなりません。愛情や人間関係、子どもを育てること、友達を持つこと、そして必要最低限のものを持つこと。これらをもたらすべきなのです。
幸福が私たちのもっとも大切なものだからです。環境のために戦うのであれば、人類の幸福こそが環境の一番大切な要素であるということを覚えておかなくてはなりません。
ありがとうございました。
(terjemahan oleh Ahmad Dahidi)
Saya sampaikan terima kasih kepada para delegasi yang hadir di tempat ini, secara khusus rasa terima kasih ini saya sampaikan kepada yang mulia Presiden Brazil Dilma Roussef yang telah mengundang saya pada pertemuan puncak ini. Juga, saya sampaikan terima kasih kepada para pemakalah yang telah menyampaikan gagasan atau idenya tadi dengan sangat hebat. Kepada para delegasi dari berbagai negara, pada kesempatan yang baik ini izinkalah saya menyampaikan pemikiran sederhana untuk bahan diskusi antar negara peserta yang sangat penting untuk kelangsungan hidup umat manusia.
Pertama ada sebuah pertanyaan yang selalu menjadi pikiran saya dan mungkin pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang harus dipikirkan dengan serius.
Sejak pagi hingga saat ini telah didiskusikan berbagai hal permasalahan dunia, terutama masalah yang berkaitan dengan kemiskinan, lalu upaya upaya untuk mengembangkan dunia yang berkelanjutan. Sebenarnya apa, yang saya maksud dengan pertanyaan sederhana itu?. Pertanyaan yang saya maksud adalah apakah kita perlu meniru model model konsumtif dan mengikuti negara negara yang konon termasuk negara kaya? Sebagai ilustrasi, apa yang terjadi, seandainya setiap keluarga atau setiap orang orang India mempunyai mobil seperti halnya orang Jerman, yg konon di Jerman jumlah penduduknya sama dengan jumlah banyaknya mobil atau setidaknya di Jerman setiap keluarga pasti mempunyai mobil.
Apakah oksigen yang sangat diperlukan untuk kita hidup ini akan mencukupi dan akan tersisa? Dengan pertanyaan lain, seandainya masyarakat Eropa yang sudah disebut merupakan masyarakat yang kaya itu berjumlah pendudukan hingga 7 sd.d. 8 milyar, apakah bumi ini masih ada? Atau manusia itu masih bisa hidup di muka bumi ini? Apakah mungkin terjadi atau itu hal yang mustahil?
Mengapa kita membentuk masyakarat dunia yang demikian? Anak anak kita yang hidup di market ecomomy dunia dan alam liberalisme, yaitu tanpa disadari kita sudah menciptakan dunia yang tidak terbatas dalam petumbuhannya dan dunia yang konsumtif. Ekonomi global telah menciptakan masyarakat berekonomi global pula, globalisasi yang terjadi saat ini, apakah nantinya akan menciptakan masyarakat yang mampu mempertahankan kekayaan bumi untuk kelangsungan bumi ini?
Apakah kita mampu untuk mengontrol globalisasi? Atau sebaliknya justru fenomena globalisasi itulah yang akan mengontrol kehidupan kita?
Di dalam kehidupan masyakarat ekonomi dunia ini, yang tidak jarang mengakibatkan peperangan yang sangat kejam hingga saat ini, namun hampir semuanya selalu menyerukan “ mari kita membangun dunia yang penuh damai atau membangun dunia ini supaya lebih baik”, apakah wacana seperti itu bisa terwujud dengan kondisi dunia yang selalu dilanda peperangan? Sampai kapan kita itu disebut teman atau kawan?
Saya sampaikan pertanyaan ini, bukan bermaksud untuk mengkritik pentingnya pertemuan puncak Rio ini. Justru sebaliknya. Sebenarnya bahaya yang besar yang harus kita pikirkan itu bukan masalah lingkungan yang sedang kita hadapi. Saya kira masalah yang timbul disebabkan adanya masalah politik.
Dewasa ini, Kita tahu sangat sulit mengontrol perubahan yang besar atau kecil yang terjadi saat ini yang ujung ujungnya berpengaruh dalam kehidupan umat manusia. Sebaliknya, justru seharusnya manusia itulah yang harus mampu mengontrol berbagai perubahan masyarakat dunia ini. Kami, kita bukan harus lahir ditengah tengah gemerlapnya pertumbuhan dunia tsb. Kita hidup di bumi ini dalam rangkat mencari kebahagiaan. Kita hidup berupaya untuk mencapai kebahagiaan. Kita hidup tidak lama, kehidupan ini telah tampak di depan mata, suatu saat akan hilang atau berlalu begitu saja. Tidak ada kehidupan yang sangat berharga kecuali nyawa ini.
Apakah kita sadar betul akan keterpurukan lingkungan yang tidak baik ini?
Ini diakibatkan masalah politik sehingga kita perlu mengarahkan dunia ini berdasarkan metode yang beragam sesuai dengan tingkat permasalahan yang terjadi. Saya bukan menuntut harus kembali ke zaman batu. Intinya saya menekankan bahwa kita harus mampu mengontrol perubahan zaman ini. Menurut hemat saya, alat yang mampu mengontrolnya adalah kekuatan politik.
Nenek moyang kita, hingga bangsa…. pernah menyatakan demikian. “ yang disebut orang miskin itu adalah bukan orang yang tidak mempunyai barang atau orang yang memiliki kekayaan yang sedikit, tapi orang miskin itu adalah orang yang tamak, orang yang mempunyai keinginan yang serakah sehingga tidak puas puas atau orang yang tidak merasa puas atas kekayaannya itu”.
Pepatah ini merupakan sebuah wejangan dan merupakan kata kunci (nilai kebudayaan) yang mesti didiskusikan oleh kita.
Saya datang ke sini dan menghadiri pertemuan puncak Rio ini dalam rangka mewakili perasaan negara saya. Mungkin saja intisari pidato saya ini banyak orang yang sakit telinga atau tersinggung, sebenarnya masalah globalisasi itu tidak semata mata masalah lingkungan dan masalah alam. Itulah yang ingin dipahami oleh hadirin semua.
Masalah yang mendasar adalah harus dibuat model yang diwujudkan oleh kita.
Tentunya upaya yang mendasar itu adalah kita harus memperbaharui pola hidup kita. Saya adalah salah seorang perwakilan dari negara kecil yang sangat makmur akan kekayaan alam. Negara saya hanya berpenduduk 3 juta orang. Meskipun kecil, tapi di negara saya hidup sebanyak 13 juta ekor sapi yang sehat. Kambing dan biri biri ada 800 ribu hingga 1 juta ekor. Negara saya banyak ekspor makanan. Meskipun negara kecil, akan tetapi 90% adalah kekayaan alam yang sangat subur.
Para buruh di negara saya, mereka berperang dengan waktu, kira kira 8 jam mereka bekerja. Tapi sekarang ada pula yang bekerja 6 jam. Orang yang bekerja 6 jam itu, karena ada pekerjaan yang lain. Kenyataannya justru mereka mampu bekerja lebih lama. Mengapa demikian? Sebab mereka harus mencari uang tambahan untuk membayar cicilan mobil, cicilan rumah, motor, dll. Setiap bulan harus bekerja dua kali lipat. Kalau kehidupan kita seperti itu, yaitu dituntut harus membayar pinjaman, kemungkinan besar tanpa disadari, tahu tahu kita sudah tua. Sama dengan saya, tahu tahu masa muda atau masa hidup bahagia yang jelas tampak di depan mata kita itu, terlewatkan begitu saja tanpa kita sadari.
Apakah itu nasib umat manusia di muka bumi ini? Ini pertanyaan yang sangat sederhana. Perkembangan atau pertumbuhan dunia yang terjadi, jangan sampai menjadi bumerang bagi kehidupan umat manusia. Perkembangan itu atau pertumbuhan itu harus berorientasi pada kebahagiaan umat manusia. Cinta kasih, hubungan manusia, kita membesarkan anak anak kita, memperbanyak pertemanan, dll., itulah kata kunci yang harus menjadi pondasi kita dalam menata dunia ini dan itu sangatlah penting. Inilah upaya kita yang harus ditumbuhkembangan saat ini dan di masa yang akan datang.
Kebahagiaan adalah aspek maha penting dalam kehidupan kita ini. Kalau memang kita berperang dengan masalah lingkungan, jangan sampai dilupakan bahwa lingkungan yang maha penting itu adalah kebahagiaan umat manusia. (Terima kasih).
Itulah pidato presiden yang sangat bermakna dan perlu direnungkan dan dipikirkan oleh kalian. Mengapa kalian bukan kita? Sebab perjalan kalian masih jauh dan menjanjikan. Seandainya kalian saat ini berumur antara 18 s.d. 23 tahun, artinya dambaan Indonesia emas di tahun 2045 itu, sudah dipastikan umur kalian 45 tahunan. Umur masa masa produktif untuk membangun negeri ini. Saya yakin diantara kalian, mungkin ada yang berperan sebagai birokrat, sebagai guru, sebagai pengusaha, dan Aku yakin akan merambah ke segala bidang profesi. Terserah apa pun profesinya, ujung ujungnya adalah mencari satu muara yang disebutkan di dalam pidato mantan presiden itu adalah mencari kebahagiaan. Ya, kebahagiaan. Bagi kita – sebagai umat muslim, tentunya tidak hanya kebahagiaan duniawi,tapi mesti berusaha berimbang dengan persiapan kebahagiaan akhirat. Dengan kata lain, kita sama sama berikhtiar dan berupaya untuk mencapai bahagia lahir dan bathin. Semoga!!!!!
Untuk sementara sekian dulu obrolan pagi ini. Semoga semuanya sehat dan sukses selalu. (Bandung, 11 Nopember 2017)
]]>
Berbicara ihwal perjalanan hidup seseorang (termasuk Aku sendiri) berarti kita membongkar perjalanan hidup atau liku liku kehidupan diri sendiri, lalu diangkat ke layar lebar atau media cetak seperti buku misalnya, sudah barang tentu ada orang yang membacanya dan sangat wajar akhirnya orang orang tersebut mengetahui siapa diri kita.
Menurut hematku, dalam cerminan episode perjalanan hidup seseorang ada dua sisi yang mungkin muncul, yaitu sisi gelap dan sisi terang. Yang dimaksud dengan sisi gelap yaitu informasi yang dinilai banyak orang bertolak belakang dengan nilai nilai kehidupan. Artinya seseorang itu berprilaku sesuai dengan tata nilai dimana orang itu berada, dan bisa jadi seseorang itu melakulan hal hal yang menyimpang baik disadari maupun tidak disadari sehingga akibat dari prilaku yang menyimpang itu mengakibatkan imej orang terhadap dirinya kurang bagus. Kenyataan ini harus disadari sebab parameter orang ketika menilai orang lain, terkadang tidak sama.
“Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh misteri”, demikian kata orang bijak. Artinya, apa yang akan terjadi esok hari, kita sebagai manusia tidak bisa memastikannya, yang bisa kita lakukan adalah merencanakannya. Lalu, kita berusaha untuk mencapai rencana tersebut. Mengenai hasilnya, sukses atau gagal, itu urusan tuhan. Ya, Allah Yang Maha Kuasa bagi orang orang Islam. Ketuk palu tuhan itulah yang akan memberikan jawaban yang terang benderang atas rencana tersebut.
Aku mencoba membaca beberapa biografi dan autobiografi orang lain, banyak hal yang Aku kagumi dan bila memungkinkan ingin mengikuti jejaknya. Siapa yang tidak kenal dengan Sukarno, Muhammad Hatta, Sudirman, Ki Hajar Dewantara, RA. Kartini, Dewi Sartika, dan sederetan tokoh tokoh nasional lainnya. Lalu, bagi orang Jepang, siapa yang tidak kenal dengan Fukuzawa Yukichi, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, Tokugawa Ieyasu, dan sederetan tokoh misteri lainnya di Jepang. Atau tokoh dunia yang sangat monumental dan melegenda dalam sejarah Islam seperti Muhammad SAW, Hamzah, Ali, Abu Bakar, Umar, Usman, Isa, dll. Tentunya bagi mereka yang pernah belajar sejarah nasional atau dunia, pasti pernah mendengar nama nama orang besar seperti mereka. Menurut hematku, pengenalan, bahkan upaya mencintai mereka mesti kita lakukan. Dengan mengenal mereka, setidaknya kita bisa meminjam “spirit” mereka ketika meniti karir dan menata cita kita masing masing. Aku sangat yakin, ada sisi sisi tertentu yang bisa kita ikuti jejak mereka untuk kita lakukan sebagai sumbangsih kita terhadap generasi berikutnya.
OK, berbicara ihwal biografi atau outobiografi, mungkin saja yang diangkat itu hal hal yang baik dan positif. Sisi gelap atau prilaku menyimpang itu mungkin tidak kita temukan. Tidak apa apa, toh yang akan kita pinjam “spirit” itu adalah hal hal yang positif. Hal hal yang bisa kita tiru dalam perjalan hidup kita. Untuk apa kita mengikuti prilaku yang menyimpang. Kalau sekedar cuma ingin tahu sisi sisi gelap orang lain misalnya, sampai tahap tertentu, mungkin tidak apa apa. Yang bahaya adalah khawatir terkontaminasi akan prilaku yang tidak baik itu.
Aku sangat yakin, semua orang pernah melakukan prilaku yang tidak terpuji sebab Aku sering mendengar bahwa manusia itu (kecuali nabi dan rosul) adalah makhluk hidup yang senantiasa melakukan kesalahan. Manusia itu, bisa terhormat jika ia berprilaku baik, dan manusia itu bisa terhina melebihi binatang apabila berperilaku jelek. Kuncinya berusaha dalam hidup ini berakhlak mulia seperti dicontohkan oleh Muhammad SAW.
Kalau Aku tidak salah dengar, Aa Ghym sering mengemukakan demikian, “Kenapa orang lain masih menghormati kita?. Sebab mereka belum mengetahui kejelekan kita. Tuhan masih sayang pada kita untuk tidak membuka aib kita”. Artinya, bahwa setiap orang (kecuali selevel nabi atau rosul itu) pasti pernah hilap dan melakukan kesalahan.
Jadi, dalam biografi atau autobiografi itu hanya mengangkat satu sisi yang layak diketahui orang lain. Ini sangat wajar. Aku yakin, masih banyak hal yang mungkin penuh dengan ketidakjelasan, mungkin juga banyak pertanyaan pertanyaan besar yang sulit dijawab atau mungkin jawabannya itu sudah ada karena menyangkut harga diri atau terlalu dalam nyerempet ke areal privatisasi seseorang, maka info tersebut tidak ditulisnya. Terlepas itu mah hak prerogatif orang yang bersangkutan.
Aku sendiri pun demikian. Banyak hal yang sudah Aku alami dan lalui selama 59 tahun ini, selama itu pula banyak hal hal yang mungkin dinilai baik atau sebaliknya. Mana yang baik, dan mana yang jelek, terus terang Aku tidak ingat semua. Untuk mengingat kembali masa masa lalu, suatu hari, Aku pernah ‘muhasabah’ dengan melontarkan sederetan pertanyaan kepada diriku sendiri, antara lain, “sebenarnya untuk apa Aku hidup ini? Apa yang dilakukan selama ini? Apakah ada yang dilakukan selama ini yang bermanfaat untuk diri sendiri atau untuk orang lain (keluarga, teman, dll). Lebih luasnya untuk negeri ini? Apakah keberadaan Aku di sekeliling orang orang itu ada manfaatnya? Itulah serangkaian pertanyaan yang akhir akhir ini menghantui pikiranku.
Berbicara masalah perjalanan hidup, tentunya setiap orang pasti mengalami hal hal berikut. Kesedihan, kebahagiaan, kebencian, dan sejuta perasaan lainnya yang menimpa diri setiap orang. Apakah ada orang yang bisa menghindari semua itu? Aku kira sangat mustahil. Cuma yang bisa kita lakukan adalah mengatur kuantitas dan kualitas sejuta perasaan itu.
Dalam rangka membentangkan episode prilaku diri sendiri ke layar lebar atau media cetak seperti urat oret ini, salah satu pilihanku adalah mencoba menuangkan episode perjalanan diri sendiri sejak lahir hingga berusia 59 tahun ini, dengan harapan semoga urat oret Aku yang sangat sederhana ini ada manfaatnya dan berguna bagi keluarga, solmet saya orang Indonesia dan Jepang, atau siapa saja yang selama ini pernah mengenal Aku.
Urat oret yang sederhana ini sengaja dibuat dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang dengan harapan bisa dibaca oleh orang Jepang dan atau orang Indonesia yang tidak menguasai dua bahasa. Atau bagi mereka yang memahami dua bahasa (Jepang dan Indonesia), mungkin saja bisa dijadikan rujukan untuk belajar bahasa Jepang bagi orang Indonesia yang sedang belajar bahasa Jepang, dan bagi orang Jepang yang sedang belajar bahasa Indonesia. Khusus tulisan yang berbahasa Jepang, Aku tuliskan cara baca kanjinya atau kata yang bertuliskan katakana disandingkan dengan bacaan dalam hiragana, dengan maksud semoga bisa membantu mereka yang sedang belajar membaca kanji atau belajar membaca huruf Jepang, khususnya bagi pelajar yang sedang belajar bahasa Jepang pada level dasar.
Perlu Aku jelaskan, isya Allah urat oret Aku ini ditulis dengan dua bahasa, yaitu bahasa Jepang dan bahasa Indonesia itu bukan berarti hasil terjemahan dari bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya sebab kalau disandingkan ada beberapa tulisan yang tidak sama persis. Meskipun demikian, isi informasi yang terkandung di dalamnya hampir sama.
Perlu Aku jelaskan pula episode episode yang tertuang dalam buku sederhana ini, semuanya fakta dan benar. Ini perlu ditegaskan sebab Aku adalah salah seorang pendamba “kebenaran” alias orang yang tidak menyukai kebohongan. Kenapa demikian? Sebab kebohongan itu hanya akan membawa hidup sengsara, nilai kehidupan akan mati. Aku kira tujuan hidup semua orang adalah ingin bahagia, ingin hidup tenang. Artinya, semakin orang itu berbohong, maka nilai hidup yang hakiki itu semakin sulit diperoleh. Sebaliknya semakin kita berkata jujur, maka nilai kehidupan kita semakin terhormat, dan semakin berharga. Orang yang selalu berdusta tidak jauh berbeda dengan sesosok mayat berjalan, itulah keyakinanku.
Dengan alasan seperti itu, Aku mencoba mengungkap fakta diri sendiri, bukan bertujuan untuk bersombong diri atau hal hal yang negatif lainnya, namun semoga ada secercah mutiara yang bisa dijadikan pesan moral bagi anak anakku khususnya, bagi keluargaku, bagi mahasiswaku, bagi solmet solmetku, dan mungkin saja ada manfaatnya bagi dunia pendidikan bahasa Jepang di negeri ini. Semoga!!!
Urat oretku ini tidak mungkin bisa terbit, tanpa bantuan orang orang yang Aku sayangi dan Aku kagumi. Beberapa orang yang layak Aku sebut disini adalah Akahane Michie sensei yang telah direpotkanku sejak gagasan atau draf artikel ini dibuat hingga “layak muat” di web ini, teman temanku di kantor yang selalu Aku repotkan dengan meminta pendapat tentang isi artikel ini, lalu solmetku orang Jepang seperti Mr. Nakahashi Masami, Kanemoto Setsuko sensei, Matsuoka sensei, Akahane Michie sensei dan lain lain. Demikian pula kepada sejumlah isnpiratorku, antara lain Prof. Numan Somantri, Prof. Chaedar Alwasilah, dan Prof. Idrus Afandi yang telah banyak mengispirasiku selama mengabdi di UPI ini. Insya Allah, lain kali secara khusus Aku akan menulis tentang inspirator inspiratorku ini. Untuk itu, Aku mengucapkan terima kasih banyak dari lubuk yang paling dalam dan semoga amal baik Bapak, Ibu, dan rekan semua memperoleh imbalan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin YRA. (Bandung, 9 Nopember 2017)
人生あれこれ
人生(じんせい)と言(い)えば、ややこしい歩(あゆ)みである微妙(びみょう)なところが山(やま)ほどいっぱいあると思(おも)います。僕(ぼく)の人生(じんせい)にも数(かぞ)え切(き)れないほどたくさんあります。今年(ことし)2月(がつ)28日(にち)に59歳(さい)を迎(むか)える自分(じぶん)は何(なん)のために生(い)きているのか、これまで何(なに)をしてきたのか、自分(じぶん)は周(まわ)りの人(ひと)のために役(やく)に立(た)つ者(もの)なのかなど、最近(さいきん)、頭(あたま)に浮(う)かんできて次々(つぎつぎ)に思い出(だ)しました。
人生(じんせい)にはだれでも不満(ふまん)、幸(しあわ)せ、愛情(あいじょう)、憎(にく)みを感(かん)じることがたくさんあるでしょう。たぶん、ある日(ひ)には「自分(じぶん)の人生(じんせい)って、なんだろう。自分(じぶん)は何(なん)のために生(い)きているのだろうか。」と自問自答(じもんじとう)し、反省(はんせい)することがあるかもしれません。僕(ぼく)はこの59歳(さい)の人生(じんせい)は「人(ひと)のために(この場合(ばあい)は家族(かぞく)、インドネシア(いんどねしあ)人(じん)、日本人(にほんじん)、友達(ともだち)や知(し)り合(あ)い)」少(すこ)しでも役(えき)に立(た)てばと考(かんが)えて、インドネシア(いんどねしあ)語(ご)と日本語(にほんご)でささやかな情報交交換(じょうほうこうこうかん)を書(か)いてみようと思(おも)った次第(しだい)です。59歳(さい)を迎(むか)える人生(じんせい)を振(ふ)り返(かえ)ってみて、書(か)いてみたいという気持(きも)ちが最近出(さいきんで)てきたのです。少(すこ)しでも、意味(いみ)のあるエピソ(えぴそ)ード(ど)や意義(いぎ)のある体験(たいけん)など、みなさんの参考(さんこう)になることがあれば幸(さいわ)いです。
ここではインドネシア(いんどねしあ)語(ご)と日本語(にほんご)で書(か)いたものですが、訳(やく)したものではないところもありますので、ご了解(りょうかい)ください。ただし、記事(きじ)の中身(なかみ)は基本的(きほんてき)には同(おな)じです。また、漢字(かんじ)の上(うえ)には振(ふ)り仮名(がな)で書(か)いた目的(もくてき)は少(すこ)しでも日本語(にほんご)の初級(しょきゅう)レベル(れべる)の学生諸君(がくせいしょくん)にも漢字(かんじ)を読(よ)めるようと願(ねが)って、これ以上(いじょう)の目的(もくてき)はありません。
私(わたし)の話(はなし)に嘘(うそ)やフィクション(ふぃくしょん)はありません。事実(じじつ)です。私(わたし)は嘘(うそ)が大嫌(だいきら)いです。なぜなら、価値(かち)のある人生(じんせい)というのは、いつも正直(しょうじき)に発言(はつげん)し生(い)きている人(ひと)のものだと思(おも)うからです。もちろん、価値(かち)のある人生(じんせい)にするにはいろいろポイント(ぽいんと)が必要(ひつよう)ですが、やはり、人生(じんせい)の価値(かち)は嘘(うそ)をつくかどうかに関(かか)わってくると思(おも)います。嘘(うそ)をつかないことは人間(にんげん)の最高(さいこう)の価値(かち)だと思(おも)います。嘘(うそ)つきは価値(かち)のない人間(にんげん)になるのは確(たし)かなことです。嘘(うそ)つきの性格(せいかく)では、人生(じんせい)は生(い)きる遺体(いたい)のようなもので、その人(ひと)は役(やく)に立(た)たない者(もの)です。
そういう訳(わけ)で、「私(わたし)の人生(じんせい)(あれこれ)」はすべて事実(じじつ)であり、本当(ほんとう)の話(はなし)です。少(すこ)しでも役(えき)に立(た)てばと思(おも)います。
さて、我が日本語教育学科のウェーブにて、僕(ぼく)の生(う)まれた町(まち)のことや、小学校(しょうがっこう)から大学(だいがく)の時(とき)のエピソ(えぴそ)ード(ど)、社会人(しゃかいじん)としての行動(こうどう)、また僕(ぼく)の心(こころ)に残(のこ)るインドネシア(いんどねしあ)人(じん)や日本人(にほんじん)の親友(しんゆう)や友達(ともだち)などのことを書(か)いたものです。本書(ほんしょ)に関(かん)しては多(おお)くの知(し)り合(あ)いに感謝(かんしゃ)いたします。特(とく)に赤羽美知恵先生(あかばねみちえせんせい)をはじめ、金本節子先生(かなもとせつこせんせい)、中橋政美氏(なかはしまさみし)、Numan Somanatri元我(もとわ)が大学(だいがく)の大学長(だいがくちょう)、Chaedar Alwasilah教授、Idrus教授などに対(たい)し心(こころ)より感謝(かんしゃ)の意(い)を表(あらわ)したいと思(おも)います。
バンドン(ばんどん)にて、2017年(ねん)11月(がつ)09日(にち)(水曜日)
]]>
Suatu hari Hp saya berbunyi. Ketika itu saya sedang mengajar mata kuliah Gengogaku Gairon (Pengantar Linguistik Umum). Topik yang sedang diskusikan dengan para mahasiswa adalah “frasa, klausa, dan kalimat”. Begitu dilihat monitor Hp, disana tertera sebuah nama yang tidak asing lagi bagi saya. Lalu, saya jawab. “Ya, Prof.!”, jawab saya. “Sekarang dimana?”, “saya di kampus sedang mengajar”. “kalau begitu, datang ke kantos saya,?, “ Siap. Prof. Boleh, nanti setelah saya mengajar, Prof.”. “Ya, silahkan”. Demikian dialog singkat saya waktu itu.
Usai kuliah, saya buru buru memenuhi panggilan tersebut. Sepanjang perjalan dari gedung FPBS sampai bangunan rektorat, terus terang saya bertanya tanya sebab memang sudah cukup lama saya tidak “soan” kepada prof. yang satu ini. Ada sejumlah pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya, pertama: mungkin saya “dimarahi” oleh Prof. yang satu ini karena selama kurang lebih lima bulan ini belum pernah lagi menemui beliau. Padahal beberapa waktu sebelumnya, relatif sering bertemu dengan beliau karena sejumlah urusan dinas, antara lain (1) ketika saya diajak diskusi merancang rencana membuka Jurusan Pendidikan Sosiologi di FPIPS enam tahun yang lalu; (2) ketika merancang seminar tentang memantapan kurikulum jurusan sosiologi di FPIPS, (3) Di awal awal jabatan ketika beliau berhasil menduduki posisi pimpinan puncak sehingga layak menempati kursi di gedung bumi Siliwangi, (4) ketika studi banding ke negeri Sakura bertepatan dengan perubahan UPI ke BHMN, dan (5) ketika merancang dan mensukseskan culture summit dengan OIW di UPI.
Kira kira itulah alasan saya sering bertemu dengan Prof. yang satu ini. Eeh, tahu tahu saya sudah sampai di gedung rektorat dan bertemu dengan beliau.
“Pak, Ahmad! Bapak sudah menunggu”, kata petugas tata usahanya. Lalu, saya mengetuk pintu dan terdengar suara yang tidak asing lagi bagi saya mempersilahkan saya masuk.
Singkat ceritera, beliau mengajak saya untuk mengadakan perjalan lagi ke negeri Sakura dengan tujuan yang berbeda dengan kunjungan sebelumnya, yaitu bersama sama menulis sebuah buku, dan yang utama kunjungan ke Jepang untuk validasi dan memperoleh masukan dari orang orang Jepang dari kalangan akademisi, kalangan budayawan, dan kalangan pendidikan. Buku yang sangat menarik, tapi bertanya tanya dalam benak saya “Apakah Prof. tidak salah dan memang saya cukup layak “berdampingan” dengan beliau untuk menulis sebuah buku?”. “Draf bukunya dituntaskan di sini, dan di Jepang hanya validasi dan memohon masukan kepada orang orang Jepang guna penyempurnaan buku ini sebelum naik cetak”, begitu penjelasan singkat dari beliau.
Saya melihat draf yang dimaksud dan saya buka buka sepintas. Buku yang sangat menarik dan saya kira isinya membahas sumbangsih pemikiran untuk generasi penerus bangsa agar jati diri bangsa ini tidak tersisihkan oleh pengaruh luar yang tidak mendidik, apalagi jangan sampai nilai nilai bangsa ini menguap alias “hilang”.
Saya sangat senang dan bangga atas kepercayaan dari beliau. Dengan spontas, saya jawab” Siap, Prof.”. Lalu, saya menerima proposal pengajuan kegiatan dari beliau, dan saya baca sepintas, lalu dicopy, dan sepulangnya ke kantor saya terjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Kenapa harus saya lakukan? Sebab pada akhirnya, beliau pasti menanyakan dan meminta saya untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Jepang untuk memberi gambaran isi buku tersebut kepada orang orang Jepang yang akan ditemui nanti. Memang benar. Besoknya saya ditlp lagi, “Apakah intisari proposal sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang”, tanya beliau. :”Sudah, Pak” jawab saya. “Syukur kalau begitu”.
Intisari buku yang saya maksud yaitu kami sebagai generasi tua (memang secara fisik mah sudah tua tapi kami merasa masih berjiwa anak anak muda. Heee.heee.) ingin memberikan “kado” berupa gagasan dan pemikiran untuk para generasi penerus bangsa negeri ini seputar nilai nilai moral bermasyarakat dan bernegara yang konon di depan mata sudah terjadi pergeseran pergeseran nilai moral di kalangan masyakart Indonesia, sudah tergerus oleh budaya luar sehingga dikhawatir suatu saat bangsa Indonesia akan kehilangan jati diri bangsa dan digantikan oleh nilai nilai bangsa lain. Untung kalau nilai itu yang positif dan relevan dengan alam Indonesia, tapi yang nyata dan jelas lebih banyak menyerap nilai yang bertolak belakang dengan adat istiadat bangsa kita. Ada seperangkat nilai yang bisa diadopsi dari bangsa Jepang, yang insya Allah nilai itu sangat relevan dengan akidah dan ajaran Islam khususnya, dan saya yakin nilai moral bangsa Jepang itu bersifat universal seperti disiplin, loyal terhadap pekerjaan, kerja keras, dan lain sebagainya.
Ada baiknya kalau dorongan penulisan buku yang saya maksud, saya salin utuh di sini.
Seperti kita ketahui, Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke merupakan negara yang kaya raya, baik kekayaan hayati maupun nonhayati. Potensi kekayaannya berasal dari laut, udara, darat, maupun perut bumi. Tapi sebagian besar kekayaan itu tidak termanfaatkan secara maksimal, bahkan bisa disebut mubazir. Lihatlah hutan yang menjadi sumber kehidupan, bahkan menjadi paru paru dunia, dirambah dan dibabat secara ilegal. Hasilnya tidak masuk ke kas negara, melainkan masuk kantung cukong. Rakyat hanya kebagian sengsara dan nestapa. Bagian hilir di sekitar hutan terkena banjir di musim penghujan dan terkena asap di musim kemarau saat para perambah hutan membakar lahan.
Demikian pula kekayaan alam berupa tambang. Sejauh ini belum bermanfaat secara maksimal bagi rakyat banyak, melainkan menjadi bancakan bagi investor asing. Negara hanya kebagian fee amat sedikit, selebihnya menjadi rebutan negara asing, dan pejabat kebagian gula gulanya. Kekayaan laut kurang lebih sama, lebih diekploitasi untuk keuntungan bangsa asing ketimbang memakmurkan para nelayan. Sektor pertanian juga setali tiga uang. Kebijakan pemerintah lebih memihak kepada importer produk pertanian ketimbang memperkuat petani. Nyaris seluruh sektor kehidupan di Indonesia mubazir.
Kalau pola kehidupan bangsa Indonesia berjalan seperti itu tanpa ada perubahan kultur serta perubahan kebijakan, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama seluruh sumber daya tersebut habis. Tanda tanda itu sudah di depan mata. Indonesia yang subur makmur, gemah ripa loh jinawi, berubah menjadi negara dan bangsa yang termiskin di dunia. Ironis. Bangsa Indonesia seperti mengalami mimpi buruk.
Memutus fakta buruk ini, negara harus melakukan rekayasa social (social engeneering) dengan menghidupkan etos kerja yang berbalikan dari kemubaziran. Nilai yang paling tepat mengubah etos kerja ini adalah efisiensi dan produktivitas. Negara dengan dibantu swasta harus bahu membahu menyosialisasikan kehidupan yang efektif dan efisien, baik dalam bentuk slogan, propaganda, dan lebih substantantif dalam bentuk implrementasi kehidupan. Tapi awas, jangan sampai gerakan efisiensi ini justru menjadi projek yang dapat menghamburkan uang negara.
Menghidupkan gerakan efisiensi dan produktivitas, ada baiknya bangsa Indonesia belajar dari bangsa Jepang. Masyarakat dari negeri Sakura itu memiliki etos kerja yang luar biasa dalam soal efisiensi tersebut. Mereka adalah bangsa yang „anti-muda“ anti hal yang mubazir. Jangankan menyangkut kekayaan alam, bahkan hanya ukuran gerakan dalam bela diri, Jepang memperkuat seluruh gerakan yang efektif, dan membuang setiap gerakan muda, atau gerakan yang tidak bermanfaat. Itulah sebabnya, bela diri asal Jepang seperti Karate tidak terlalu banyak kembangan seperti Kung Fu Cina atau Silat milik bangsa Indonesia.
Kisah menggelikan dan memuakkan sempat dimuat Kompasiana sebagai berikut. Serombongan pebisnis dari Indonesia datang ke Tokyo, membicarakan kelanjutan rencana pinjaman modal kerja dengan mitranya dari Jepang.Tim dari Indonesia datang ke pertemuan jamuan dengan serombongan tim seperti mau mengadakan lamaran alias bejibun. Selain timnya banyak, mereka menginap di hotel mewah dan menyewa mobil mahal untuk menunjukkan „kemampuan finansial“nya. Sementara counterpart-nya dari Jepang, yang notabene sebagai penyandang dana hanya diwakili beberapa orang. Mereka datang ke tempat pertemuan naik densha (kereta api bawah tanah) yang dilanjutkan dengan jalan kaki ke tempat tujuan. Bersahaja, sederhana sekaligus efisien. Maka, pertanyaannya, siapakah yang pantas meminjam? Siapa yang pantas memberi pinjaman? Sebuah ironi yang sangat tidak lucu.
Bangsa Indonesia sangat tepat belajar dari Jepang soal mengelola kehidupan dan sumber daya yang efisien. Bagi bangsa Indonesia, belajar dari Jepang bukanlah hal yang baru. Indonesia merdeka dari Belanda, juga karena bangsa Indonesia belajar dari Jepang. Kehadiran Jepang saat Indonesia dijajah Belanda memang merupakan musibah, tapi sekaligus anugrah. Musibah, karena yang namanya dijajah adalah musibah. Apalagi penjajahan Jepang mengakibatkan derita bangsa yang sangat traumatis. Indonesia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ekonomi rakyat merosot drastis, bahkan harus mengenakan baju dari karung goni serta makan seadanya.
Tapi kehadiran Jepang sekaligus menyemangati bangsa Indonesia untuk merdeka. Sebab, Jepang membentuk BPUPKI untuk menyiapkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jepang bahkan mengangkat sebagia rakyat menjadi tentara mereka. Keterampilan berperang dan memegang senjata membangkitkan kepercayaan diri serta gairah bangsa Indonesia untuk berani menghadapi tentara sekutu yang di belakangnya didomplengi Belanda.
Secara konkrit, pemerintah harus membentuk tim yang secara spesifik mempelajari nilai budaya Jepang seperti anti boros, lingkungan yang bersih, budaya antre dan tertib. Tim ini melakukan benchmarking, menyerap nilai budaya Jepang yang baik dan relevan dengan bangsa Indonesia, kemudian menyusun konsep implementasinya bagi bangsa Indonesia. Tidak semua nilai Jepang harus diserap, hanya yang relevan saja.
Konsep efisien dan produktif ini paling pertama harus diterapkan pada birokrasi pemerintah dari tingkat nasional, regional, daerah, bahkan sampai level kecamatan dan pemerintahan desa. Gerakan anti boros dan efisien harus menjadi gerakan yang tidak kalah gegap gempitanya seperti Gerakan Wajib Belajar 9 Tahun, atau Penataran P4 pada masa Orde Baru. Karena hanya dengan gerakan seperti ini, Indonesia bisa selamat dari kebangkrutan yang mengenaskan.
Jepang, sekali lagi, adalah kiblat terbaik bagi bangsa Indonesia untuk belajar soal efisiensi dan produktivitas. Lihatlah, mereka mampu memanfaatkan setiap jengkal tanah dan ruang. Saking efisiensinya, sebagai warga Jepang membuat satu ruang kecil untuk tempat tidur. Tapi tempat yang sempit itu dalam waktu yang singkat dapat disulap menjadi ruang keluarga, ruang tamu, dan berbagai tempat lain. Nemang kondisi ini bertolak dari keterpaksaan akibat semua serba mahal. Itulah sebabnya, sekali lagi, tidak semua nilai dari Jepang diserap ke Indonesia. Salah satu yang perlu dibuang adalah kehidupan yang serba mahal itu. Tapi kehidupan yang serba efisiennya bisa diangkat.
Waktu kerja masyarakat Jepang yang mencapai 14 jam sehari juga bisa diteladani. Mereka mulai kerja dengan melakukan olah raga, kemudian membersihkan tempat kerja, meja-kursi serta lingkungan sekitar menjadi tradisi bagus. Semua kondisi pra kerja dilakukan di luar jam kerja. Bayangkan, kerja dalam rentang waktu yang lama, dengan menghilangkan pemborosan, mengantarkan bangsa Jepang menjadi pemenang dalam bisnis mutakhir. Bangsa Indonesia layak belajar dari mereka.
Kutipan di atas sekaligus merupakan bagian tulisan beliau yang dimuat di dalam bukunya berjudul Idealis, Pargmatis, dan Religius halaman 106 s.d. 109.
Uraian di atas cukup panjang, namun saya hanya mengambil intisarinya dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Yang penting orang orang Jepang yang akan ditemui di Jepang nanti memahami maksud dan tujuan kami berkunjung ke Jepang. Hasil terjemahan yang saya maksud sebagai berikut.
インドネシア人間形成「日本から学ぶ人つくり」について
パプアのメラウケ(Marauke)からスマトラのアチェ(Aceh)に至るまでの広大な国土を有するインドネシアは、豊かな自然に恵まれた国だと言える。石油、石炭をはじめとした天然資源、豊かな鉱山資源、また森林資源など豊富な資源にも恵まれている。このように、多くの資源を持つ国であるが、最大限に活用されていないように思われる。政界は汚職にまみれ、天然資源は、インドネシア国外の投資家の収入源の一つになってしまっている。
インドネシアの国民や政府は、このような現状を見直し政策を改めなければ、現在の自然豊かなインドネシアを長く維持することができないだろう。
そこで、仕事の倫理及びソーシャルエンジニアリングを考えるべきである。これは仕事に対する認識や仕事の効率性や生産性を考えることである。また、政府と民間の双方の役割を整理し、お互いに協力する努力が必要であると考えられる。
仕事の効率性及び生産性に関しては、日本から学ぶのが適していると考えられる。周知の通り、日本人は、効率性及び生産性に関して素晴らしい国民だと言われている。また、生活の中でも、無駄使いは避けるということを徹底している。
日本とインドネシアの関係は、「憎む」並びに「懐かしい」の例えとして言うことができる。インドネシアの歴史を見ると、三年半ほど日本の植民地の時代がある。当時は非常に多くのインドネシア人は日本人に対して嫌悪の念を抱いていた人がほとんどだと思われる。そういった歴史がある一方で、日本を好意的に見る人も少なくない。特に、日本人は、技術者をはじめ、創造的な人、革新的な人だと言われ、ある意味、日本人から学ばなければならないことがいっぱいである。
Adapun daftar isi draf buku yang dimaksud sebagai berikut.
本の構成{目次}
前書き
第1章 はじめに
第2章 パフォーマンスと成功日本への鍵
A.日本国及び日本人の概要
B.歴史的から見た日本人の歩み
C.明治維新と日本の近代化
D.人生哲学とその日本の主教感
E.日本人のライフスタイル
F.日本人の労働倫理
G.教育分野に対する日本人の倫理
H.経済分野に対する日本人の倫理
I.日本の外交官及び国家の安全保障
J.広島の原爆ドームとその外傷
第3章 インドネシア・日本との関係(連携)
A. インドネシアと日本との関係(協力性)
B.インドネシア教育大学と日本人との友好関係
第4章 分析
第5章 結論と提案
Kira kira isinya seperti itu, dan diberi judul Memperkokoh Jati Diri Bangsa, Belajar dari Kinerja dan Kultur Bangsa Jepang. Siapa lagi prof. yang dimaksud kalau bukan Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H. seorang nasionalis, profesor penganut paham idealis, pragmatis, dan religius, pendidik, pemimpin, dan sekaligus “negarawan” yang saya kagumi.
Buku ini ditulis bertiga. Prof. Idrus, saya sendiri, dan solmet saya Dr. Wakhudin. Tugas saya adalah menulis salah satu bab yang langsung berhubungan dengan hubungan Indonesia dan Jepang umumnya, dan hubungan UPI dengan lembaga lembaga yang ada di Jepang pada khususnya. Draf buku setebal kurang lebih 200 halaman. Tugas yang cukup berat bagi saya tapi “ringan” juga. Beratnya karena buku ini bukan untuk kepentingan sekelompok orang semata, namun untuk kepentingan negeri ini. Dan konon kalau buku ini sudah terbit akan diberikan pula kepada orang nomor satu di negeri ini, kepada para pemegang kebijakan pendidikan, dan tentunya sampai juga kepada para pelaku pendidikan di lapangan. Jadi, sebarannya bukan lagi lokal, tapi nasional. Ringannya, sebab bab yang diminta oleh Prof. Idrus, sebenarnya bahan bahannya sudah saya tulis, bahkan tulisan itu selalu saya kirimkan ke humas UPI.
Saya merasa berbesar hati karena salah seorang penulis buku ini adalah seorang penulis profesional yang piwai di bidang tulis menulis. Kenapa tidak? Karena Pak Wakhudin ini sudah banyak makan garam dalam dunia kewartawanan, yang setiap hari makanannya tulis menulis. Jadi, saya sangat yakin bahwa buku yang akan terbit ini akan berbobot dari segi bahasa, berbobot dari segi pemikiran dan gagasan karena keberadaan Prof. Idrus di dalamnya, dan akan berpengaruh besar terhadap perjalanan bangsa ini sebab sasaran yang dibidik buku ini adalah para pemegang kebijakan dan para pelaku pendidikan, dan kaum kawula muda yang akan menjadi penerus bangsa di masa yang akan datang. Semoga!!!.
]]>
Prolog
Saya termasuk orang yang sangat beruntung selama mengabdi di IKIP Bandung dan UPI. Diawali belajar bahasa Jepang selama 4 tahun, lalu awal mengabdi menjadi asisten dosen di Jurusan Bahasa Jepang FKSS IKIP Bandung tahun 1982, bulan Oktober pada tahun yang sama ada kesempatan studi lanjut ke Jepang, dan serangkaian episode berikutnya pulang pergi ke Jepang telah menghiasi hidup saya yang tidak mungkin saya lupakan.
Banyak episode yang menjadikan saya tetap bertahan bekerja di UPI. Diantaranya, pertama, mungkin sudah menjadi guratan bahwa saya harus berkecimpung di dunia pendidikan, kedua, yaitu pimpinan UPI yang sangat baik dari level yang paling bawah (semisal Ketua Jurusan) sampai ke level yang paling tinggi (jajaran rektorat). Bukan itu saja, orang orang yang saya kenal adalah orang UPI yang sangat bersahabat dan rasa kekeluargaan sangatlah kental. Ukhuwah islamiah habbulminannas benar benar terefleksi di dalam kehidupan kampus. Saya cukup nyaman bekerja di UPI. Suasana seperti ini sangat wajar sebab tiga pilar yang menjadi rujukan UPI selalu berkumandang dan terpampang, yaitu kampus edukatif, ilmiah, dan religius.
Kalau saya menengok jauh ke belakang selama saya mengabdi di UPI, kira kira 35 tahun sudah berlalu. Lalu saya identifikasi kiprah saya selama itu, setidaknya teridentifikasi sejumlah kegiatan antara lain Saya dan Kadin Osaka, Saya dan OIW, Saya dan Para Pimpinan UPI, Saya dan OBIP/JBIP, Saya dan ASPBJI Pusat & Daerah, Saya dan Yayasan BPG (OHM Center & NLEC Center), Saya dan Fujicon Japan, Saya dan PT Adetex/Ademoda Bandung, Saya dan Polda Jabar, Saya dan Para Ekspert Bahasa Jepang The Japan Foundation, Saya dan Sasakawa Foundation, Saya dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Pascasarjana UPI, Saya dan Internasional Villlage, Saya dan Osaka Universiy, dan Saya dan Karawang. Kira kira episode seperti itulah, yang telah mewarnai perjalan hidup saya, dan saya rasa pengalaman tersebut cukup layak untuk saya bagikan ceriteranya kepada para pembaca.
Selama 35 tahun ini, saya cukup banyak dilibatkan oleh pimpinan dalam berbagai kegiatan di IKIP Bandung dan UPI baik di tingkat jurusan, fakultas, maupun UPI, bahkan menginjak 15 tahun terakhir ini kegiatan saya “merambah” ke jurusan lain beda fakultas, tentunya kegiatan tersebut yang berbau Jepang.
Kepercayaan pimpinan dan teman sejawat dengan dilibatkannya dalam sejumlah kegiatan itu bagi saya sebuah pembelajaran yang tidak bisa dinilai dengan uang sebab kegiatan kegiatan tersebut (tentunya berkat kepercayaan pimpinan) setidaknya telah membuat saya menjadi sosok yang sekarang ini. Dari tempaan selama 35 tahun mengabdi di UPI, setidaknya telah tumbuh kokoh rasa percaya diri dalam hal apapun asalkan berhadapan dengan urusan kejepangan dan tentunya berkomunikasi digunakan bahasa Jepang. “Rawe rawe lantas malang malang putung”, “kenapa takut”, yang semula saya merasa hanyalah orang “seperti katak dalam tempurung”, alhamdulillah dengan binaan para pimpinan dan teman teman sejawat saya merasa menjadi “manusia” yang bermanfaat. Mudah mudahan demikian adanya. Yang jelas dan pasti dengan binaan itu saya bisa menjadi manusia yang selangkah maju ke depan untuk “nimbrung” menyumbangkan profesi yang saya miliki yaitu bahasa Jepang demi kecemerlangan UPI di masa kini dan masa yang akan datang. Semoga.
Terus terang, diawali dengan menjadi asisten dosen, yang waktu itu kehidupan saya “gali lubang tutup lubang”, sedikit demi sedikit saya bisa menata hidup ke arah yang lebih baik berkat dorongan dari pimpinan UPI sehingga mengabdi selama 35 tahun merupakan perjalan panjang yang tidak begitu terasa melelahkan, cahaya kehidupan senantiasa berkedip dan menyinari jalan kehidupan saya. Memang, sandungan selalu ada, dan saya temui namun saya selalu berusaha untuk cepat ambil langkah seribu mencermati hikmah hikmah di balik kejadian tersebut. Kalau tidak demikian maka sandungan itu akan menjadi “penyakit” yang akan menggerogoti jiwa dan raga.
Tulisan sederhana ini merupakan rekam jejak saya atau refleksi kegiatan saya selama mengabdi di UPI, terutama kaitannya saya dengan beberapa orang pimpinan UPI sejak saya belajar bahasa Jepang sampai dengan sekarang.
Untuk mengawali tulisan ini akan dimulai dari hubungan saya dengan Prof. Numan Somantri, M.Si. Lalu, pada kesempatan lain, secara berturut turut akan saya tuliskan juga dengan Prof. Kodir (alm), Prof. Fakry, Prof. Sunaryo, Para Wakil Rektor, dan beberapa orang Dekan/Ketua Jurusan di lingkungan UPI. Orang orang yang saya kenal, terutama pimpinan puncak UPI merupakan pimpinan yang sangat “bersahabat”, berwibawa, tegas, dan sikap positif lainnya melekat pada pribadi masing masing, setidaknya itulah yang saya lihat dan saya rasakan.
Saya dan Prof. Numan Somantri, M.Si.
Episode 1
Pertama kali saya tahu bahwa Rektor IKIP Bandung adalah Pak Numan yaitu ketika masa orientasi mahasiswa baru. Lalu bisa mengenal beliau lebih dekat ketika bertemu langsung akibat “keterpaksaan”, yaitu ketika memberanikan diri menghadap langsung Prof. Numan tahun 1982. Ketika itu, saya berbenturan dengan dua pilihan yang dua duanya saya yakin sangat menjanjikan untuk kehidupan saya selanjutnya. Kedua pilihan itu adalah kesempatan studi lanjut menimba ilmu di negeri Sakura dan kesempatan untuk ikut bursa menjadi dosen di IKIP Bandung. Dua pilihan yang saya incar, namun dalam rapat dosen saya harus memilih salah satu di antaranya. Akhirnya saya memilih untuk studi lanjut ke Jepang, yaitu Hiroshima University. Studi lanjut disini dalam rangka memperdalam bahasa Jepang agar lebih mantap lagi. Kesempatan studi ke Hiroshima waktu itu, bukan ujug ujug tapi sebuah rintisan yang memakan waktu yg cukup lama dan berkat jasa baik Bapak S.W. Haryana yang saat itu sedang studi S2 di Hiroshima University. Saya sendiri relatif rajin menulis surat kepada dua orang mahasiswa Jepang didikan profesor saya di Jepang.
Merajut sebuah perjalan ke luar negeri waktu itu adalah yang pertama bagi saya sehingga banyak hal yang saya tidak pahami. Berkat budi baik semua dosen bahasa Jepang dan penjelasan penjelasan tentang kiat studi ke Jepang, terutama langkah awal adalah mengisi formulir yang saya terima dari Hiroshima University, akhirnya tahap awal pengisian bisa tuntas sesuai rencana dan saya kirimkan ke Hiroshima. Sementara menunggu jawaban dari Jepang, saya mempersiapkan diri yaitu membuat paspor. Pembuatan paspor ini sangat tidak lancar sebab imigrasi hanya bisa memberikan paspor kepada mereka yang sudah berstatus pegawai negeri atau dosen negeri perguruan tinggi. Ternyata kebijakan itu merupakan kebijakan pemerintah Indonesia karena setelah saya pelajari pemerintah Jepang (dalam hal ini Monbusho, sekarang disebut monbukagakushou) tidak mengeluarkan peraturan seperti itu. Artinya, bagi pemerintah Jepang kesempatan melamar studi lanjut dengan biaya monbusho tidak harus orang yang berstatus PNS, tapi perorangan juga sangat dimungkinkan. Tampaknya tahun 80an, beasiswa yang satu ini (monbusho) oleh pemerintah Indonesia “digiring” hanya diperuntukkan bagi para PNS saja.
Meskipun demikian, saya tidak patah arang untuk “membujuk” imigrasi Bandung supaya mengeluarkan paspor untuk saya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, sampai detik detik terakhir paspor tidak kelar. Kronologi liku liku kesulitan pembuatan paspor ini saya laporkan kepada pihak Hiroshima dan tentunya dosen saya di jurusan. Langkah terakhir saya memberanikan diri menghadap Ketua Imigrasi Bandung (waktu itu, Kepala Imigrasi bernama Pak BZ; maaf saya samarkan saja) dan saya ceriterakan kronologi saya bisa memperoleh formulir beasiswa monbusho. Akhirnya ada solusi dari beliau yaitu supaya ada surat permohonan langsung dari Rektor IKIP Bandung kepada kepala imigrasi yang isinya menjelaskan perlunya saya berangkat ke Jepang dan sekaligus memohon diterbitkan paspor untuk saya. Bahkan Pak BZ memberikan gambaran redaksional suratnya juga. Saya masih ingat betul saran beliau yang menyatakan bahwa di dalam surat itu sebaiknya ada kalimat “….setelah pulang studi dari Hiroshima University, Ahmad Dahidi harus bersedia mengabdi di IKIP Bandung”. Tentunya, bagi saya kalimat ini sangat berarti dan bermakna, apalagi ketika dihadapkan pada rapat dosen dan diminta memilih antara mengisi formulir atau ikut seleksi menjadi dosen, yang akhirnya saya memilih formulir, maka kalimat itu bagi saya sebuah energi atau kekuatan untuk studi agar serius di Jepang dan insya Allah hasilnya akan saya “sumbangan” untuk IKIP Bandung.
Dengan arahan dari Pak BZ itu, saya langsung ke IKIP Bandung dan menghadap langsung Pak Rektor, lalu saya jelaskan hasil obrolan saya dengan pihak imigrasi Bandung. Alhamdulillah Prof. Numan sangat bijak dan sangat memahami apa yang saya maksud, apalagi waktu itu dengan sigap dan dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, surat yang dimaksud bisa tuntas. Antara percaya dan tidak percaya, tapi kenyataan, saya lari lagi sambil membawa surat dari Pak Rektor ke imigrasi dan saya serahkan kepada Pak BZ. Lalu beliau meminta anak buahnya supaya paspor saya diproses sebagaimana mestinya. Sementara paspor diproses, saya menerima surat ultimatum dari dosen saya (Pak Ml) yang saat itu sedang studi di Hiroshima Univ. Beberapa bagian surat itu saya salin sbb.
“Pak Ahmad! Bagaimana khabarnya… dari negara lain pada berdatangan sejak 1 Oktober. ……kalau tak datang tanggal 1-30 Oktober 1982 masalah shougakukin (besasiswa monbusho) akan sangat sulit sedapat mungkin sudah harus datang pada bulan ini.
Harapan saya semoga segalanya dapat diselesaikan dan segera bisa bertemu, saya menunggu.”
Titik mangsa surat tersebut tanggal 12 Oktober 1982. Dan di bawahnya ada kutipan beberapa kalimat dalam surat dari Prof. Okuda sensei yang berhubungan dengan saya seperti berikut.
K san e! “……Dekirudake hayaku nihon ni kuru you ni shite kudasai. ……”. Ahmad san no tegami ni …. kakimashita. …. shite kudasai. Mata kuwashiku kakimasu (OK).
Informasi tersebut ditulis dalam kertas aerogramme, saya terima pada hari Sabtu tanggal 23 Oktober 1982. Oh, ya! Satu hari sebelumnya, baru ada keputusan dari pihak imigrasi bahwa paspor saya baru bisa diproses dan tuntas hari Senin minggu berikutnya. Dan hari sebelumnya adalah hari Jumat, 22 Oktober, Prof. Numan mengeluarkan surat rekomendasi untuk imigrasi Bandung tersebut. Boleh dikatakan Jumat tanggal 22 Oktober merupakan hari berkah buat saya dan bisa dikatakan hari “penentu” yang telah membuka pintu rajutan hidup saya untuk menerobos sekat sekat kehidupan di Jepang. Ditambah surat dari Pak Mulyana sehingga pada minggu terakhir Oktober yaitu antara tanggal 23 s.d. akhir bulan Oktober merupakan minggu penentuan berhasil atau tidaknya saya bisa ke Jepang.
Berkat usaha yang keras dan keyakinan kepada Allah, alhamdulillah semua persyaratan untuk berangkat ke Jepang terutama paspor, visa, dan tiket bisa tuntas pada tanggal 28 Oktober. Besoknya saya berangkat ke Halim Perdana Kusumah (waktu itu, belum ada bandara Sukarno Hatta), dan tiba di Jepang tanggal 30 Oktober 1982.
Perlu saya jelaskan bahwa Prof. OK adalah dosen pembimbing saya di Universitas Hiroshima.
Terus terang, waktu itu saya ingin menuntaskan persiapan ke Jepang sampai “titik darah yang penghabisan”, kira kira seperti itulah spirit saya. Apalagi saya memperoleh suntikan psikologi dari orangtua, guru saya waktu di SD di kampung sana, dan saya membaca kisah Thomas Alfa Edison ketika Dia berhasil menemukan baterai setelah melalui serangkaian percobaan. Dia menyatakan bahwa kejeniusan merupakan satu persen dari inspirasi, sedangkan sembilan puluh sembilan persen lainnya merupakan kerja keras. Dengan “wirid” seperti itu telah membuat optimalisasi usaha saya untuk meraih cita cita agar saya harus bisa menginjakan kaki di negeri Sakura sesuai rencana. Berkat rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur untuk “mengubah nasib”, lalu adanya kebijakan Rektor IKIP Bandung (Prof. Numan), pencerahan solusi yang sangat bijak dari Pak BZ (imigrasi), serta “wirid” psikologis dalam hati saya seperti saya sebutkan di atas, alhamdulillah membuah hasil yang sangat tak ternilai harganya bagi saya yaitu saya menerima paspor dari imigrasi. Seperti saya kemukakan di muka, dengan paspor inilah saya memproses visa, tiket dan persyaratan lainnya untuk kepentingan keberangkatan.
Tanggal 29 Oktober 1982 adalah hari keberangkatan saya ke Jepang naik JAL dan tiba di Jepang tanggal 30 Oktober 1982. Alhamdulillah ending liku liku perdana studi ke Hiroshima bisa tuntas pada detik detik terakhir. Kenapa detik terakhir? Sebab seperti dijelaskan di surat Pak Ml bahwa agar beasiswa tetap bisa diterima harus sudah di Jepang pada bulan 30 Oktober, dan alhamdulillah saya bisa berada di Jepang tanggal terakhir bulan Oktober 1982 tersebut.
Kelancaran saya bepergian ke luar negeri yang perdana ini salah satunya adalah berkat kebijakan Prof. Numan yang sangat memahami keadaan saya waktu itu. Kesempatan studi ke Hiroshima bisa lancar sehingga sepulangnya dari Jepang sedikit banyaknya spirit untuk hidup layak menjelma mengukir hari demi hari dalam hidup saya. Memang, “berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian” atau dalam bahasa Jepang berbunyi “raku wa kusuri no shu”, atau “kuro areba raku ari”, sangat perlu kita lakukan dalam hidup ini.
Episode 2
Itulah awal saya mengenal Prof. Numan Somantri, dan selanjutnya saya bisa “bergaul” lagi dan relatif sering bertemu dengan beliau yaitu ketika saya dipercaya pimpinan UPI untuk menjadi bagian pengelola UPT Kebudayaan. Salah satu tugas UPT Kebudayaan adalah pembinaan UKM di lingkungan UPI, salah satunya adalah Kabumi.
Ketika rombongan Kabumi mengadakan muhibah kesenian ke Jepang atas undangan Min On Tokyo, Saya ditugaskan Rektor UPI (yaitu Prof. FG) untuk mendampingi rombongan, dan rombongan itu dipimpin langsung oleh Prof. Numan sebagai pembinanya. Yang tidak akan terlupakan ketika muhibah kesenian waktu itu yaitu ketika akan performance di suatu tempat, beliau mendadak dadanya sakit dan saya dengar beliau mempunyai riwayat penyakit jantung. Langkah yang saya lakukan waktu itu, saya meminta para mahasiswa dan panitia setempat tetap melaksanakan performance sesuai rencana dan diatur sedemikian rupa, lalu Prof. Numan saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan istirahat. Kejadian ini tidak diketahui oleh rombongan kecuali seorang wartawan Pikiran Rakyat (Pak WA) yang ikut bersama rombongan. Lamanya performance kira kira 2 jam. Selama itu pula saya bersama Prof. Numan berada di rumah sakit. Performance selesai, alhamdulillah kami sudah berada di belakang panggung lagi, jadi sepertinya tidak terjadi apa apa. Padahal terus terang waktu itu saya “senam jantung yang cukup dasyat”. Di satu pihak performance harus sukses, dan di lain pihak Prof. Numan yang terganggu kesehatan harus diatasi dan “diselamatkan” ke rumah sakit. Pikiran lainnya berkecamuk dalam kepala saya yaitu kalau kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Kejadian ini dirahasiakan. Mengapa dirahasiakan? Sebab kalau waktu itu para mahasiswa atau rombongan mengetahui sakit jantung beliau kambuh, sudah bisa dibayangkan khawatir mengganggu semangat dan “mengacaukan” performance para mahasiswa di atas panggung. Kejadian ini dirahasiakan sampai hari terakhir berada di Jepang.
Pada malam terakhir yaitu ketika akan meninggalkan Jepang, kami berkumpul di lobby hotel dan mengevaluasi kegiatan selama di Jepang, dan dibagian akhir sambutan Prof. Numan, beliau menyampaikan kejadian yang sebenarnya bahwa beliau sempat dirawat di rumah sakit. Semua hadirin kaget, bahkan ada yang “bengong” untuk beberapa saat. Ada juga beberapa mahasiswa yang menyalahkan saya, “kenapa saya tidak diberitahu”, demikian ujarnya. Bukan tidak akan diberitahu, tapi momen yang tidak tepat, dan akan lebih baik kalau Prof. Numan sendiri yang langsung menginformasikan kepada rombongan.
Dua episode di atas, saya menyimpulkan bahwa Prof. Numan adalah pimpinan yang sangat bijak, juga bewibawa. Prof. Idrus mengakui bahwa Prof. Numan adalah sosok pimpinan UPI yang tidak sungkan menjatuhi sanksi kepada siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran. Tapi, beliau adalah pimpinan yang baik hati, memberikan penghargaan kepada siapa pun yang berprestasi. Ketika malam hari, sering “bergerilya” (mungkin istilah sekarang ‘blusukan’) mendatangi setiap kos mahasiswa untuk mengontrol kegiatan para mahasiswa yang mereka lakukan, apakah belajar atau melakukan kegiatan yang lain yang bersifat kontraproduktif, Demikian kesan Prof., Idrus Affandi yang saya baca di dalam buku 60 Tahun Idrus Affandi ‘Pendidik Pemimpin Mendidik Pemimpin Memimpin Pendidik. (Cetakan Kedua). Kesan Prof. Idrus tersebut, saya sendiri merasakan langsung kharimastik beliau yaitu ketika saya merintis nasib agar sukses bisa studi ke Jepang tahun 1982 dan ketika bersama rombongan kesenian Kabumi melanglangbuana ke Jepang performance di beberapa tempat di Tokyo –Jepang.
Terakhir, yang berkaitan dengan kegiatan beliau “blusukan” ke tempat kos mahasiswa, secara tidak sengaja saya pernah melihat beliau malam malam di sekitar terminal Ledeng ketika saya sedang “nangkring” menikmati kopi panas dan roti banros sehabis mengerjakan tugas tugas mata kuliah. Saya yakin beliau sedang “blusukan” seperti yang dikemukakan Prof. Idrus.
Bandung, 8 Nopember 2017
]]>