Dear All! (Para Mahasiswaku!)

Kali ini Aku ingin berbagi ceritera dengan para mahasiswaku di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI, dan mudah mudahan  juga ada manfaatnya untuk teman temanku diluar departemen bahasa Jepang. Sengaja kali ini, Aku urat oret ini dibuat dalam bentuk surat dengan harapan supaya lebih familier dan mudah mudahan terjadi “kedekatan batin” antara Aku dan para mahasiswaku.

Urat oretku kali ini, diambil dari bahan diskusi Bapak Nakahashi ketika memberikan kuliah umum di departemen kita beberapa tahun yang lalu. Naskah pidatonya Aku terima dalam bahasa Jepang, tapi sudah Aku coba menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Naskah pidato yang dimaksud adalah pidato seorang mantan presiden Uruguay Hose Mujica ketika beliau menghadiri pertemuan puncak tentang lingkungan di Rio De Janiro.

Sekali kali kita beralih “profesi” memandang masa depan kehidupan dari kacamata lain. Maksudku, meskipun kita bergelut di dunia kebahasajepangan, namun tidak salah dan memang halal juga jika kita melihat jauh ke depan dan melirik ke samping kiri dan kanan untuk mencoba memikirkan masalah lain. Tidak hanya berkutat memikirkan dan asyik dengan kebahasajepangan semata, tapi kita mencoba merenung ke topik yang lebih luas, yaitu buka mata buka hati  ikut memikirkan nasib manusia manusia yang bergentayangan di muka bumi ini. Heee.heeee. Inilah naskah pidato presiden yang dimaksud.

Semoga bermanfaat.

この場所にいらっしゃる全ての政府、そしてその代表の方々に感謝申し上げます。また、リオ会議に招いていただいたブラジルのジルマ・ルセフ大統領にも感謝申し上げます。

これまで素晴らしいお話をされてきたプレゼンテーターの方々にも感謝申し上げます。国を代表する者として、人類にとって必要となる国家同士の話し合いをおこなう素直な志がこの場所で表現されていることと考えています。

しかし、私が抱いている厳しい疑問を述べさせて下さい。

今日の午後から、これまで議題となっていたことは持続可能な発展と世界の貧困を撲滅することでした。我々が真に抱いている問題とは、一体何なのでしょうか?現在の豊かな国々が辿ってきた発展と、その消費モデルを真似することでしょうか?

質問をさせてください:ドイツ人が一世帯で持つ車と同じ数の車をインド人が持てばこの惑星はどうなるのでしょうか?

呼吸をしていくための十分な酸素は残るでしょうか?。同じことを別の質問で言うならば、西洋の富かな社会がおこなっている傲慢な消費を世界の70から80億人もの人々がおこなうための至言は、この地球に存在するのでしょうか?それは本当に可能でしょうか? あるいは、異なる議論が求められるのでしょうか?

なぜ我々は、このような社会をつくってしまったのでしょうか?

市場経済の子どもたち、資本主義の子どもたち、すなわち私たちが間違いなくこの無限ともいえる消費と発展を求める社会をつくり出してきたのです。市場経済が市場社会を生み出し、このグローバリゼーションが世界の果てまで資源を探し求める社会にしたのではないでしょうか。

私たちがグローバリゼーションをコントロールしていますか?あるいはグローバリゼーションが、私たちをコントロールしているのではないでしょうか?

これほどまでに残酷な競争によって成り立っている消費社会の中で、「みんなで世界を良くしていこう」という共存共栄な考え方はできるのでしょうか?どこまでが仲間でどこからがライバルなのですか?

このようなことを述べるのは、リオ会議の重要性を批判するためではありません。むしろ、その反対です。我々の前に立っている巨大な危機は環境問題ではないのです。それは、政治的な危機なのです。

現代においては、人類がつくりだしたこの大きな勢力をコントロールしきれていません。逆に、この消費社会によって人類はコントロールされているのです。私たちは発展するべく生まれてきたわけではありません。幸せになるため、この地球にやってきたのです。人生は短く、すぐ目の前を過ぎてしまいます。命よりも高価なものは存在しません。

常軌を逸した消費は世界を破壊しており、高価な商品やライフスタイルが人々の仁政を破滅させているのです。社会は消費という歯車によって回っており、我々はひたすらに早く、そして大量の消費を求められています。もしも消費がストップするならば経済が麻痺して、そうすれば不況の魔物が我々の前に現れるのです。

常軌を逸した消費を続けるには、商品の寿命を縮めて出来るかぎり多く売る必要があります。つまり、10万時間持つ電球をつくれるのに、1000時間しか持たない電球しか販売できない社会にいるのです。それほど長く持つ電球は、市場社会に良くないのでつくることはできないのです。人々がより働くため、そしてより販売するために「使い捨ての社会」を続ける必要があるのです。

悪循環にお気づきでしょうか?

これはまぎれも無く政治問題ですし、我々はこの問題を異なる解決方法によって世界を導く必要があるのです。石器時代に戻れとは言っていません。市場を再びコントロールする必要があると言っているのです。私の考えでは、これは政治問題なのです

昔の賢明な方々、エピクロス、セネカやアイマラ民族までこんなことを言っています。

「貧乏な人とは、少ししかモノを持っていない人ではなく、無限の欲があり、いくらあっても満足しない人のことだ」

この言葉は、私たちの議論にとって文化的なキーポイントだと思います。

国の代表者としてリオ会議の決議や会合にそういう気持ちで参加しています。私のスピーチの中には耳が痛くなるような言葉がけっこうあると思いますが、みなさんには水源危機と環境危機が問題源でないことを分かってほしいのです。

根本的な問題は私たちが実行した社会モデルなのです

そして、改めて見直さなければならないのは私たちの生活スタイルだということです。

私は環境資源に恵まれている小さな国の代表です。私の国には300万人ほどの国民しかいません。でも、世界でもっとも美味しい1300万頭の牛が私の国にはあります。ヤギも800万から1000万頭ほどいます。私の国は食べ物の輸出国です。こんな小さい国なのに領土の90%が資源豊富なのです。

私の同志である労働者たちは、8時間労働を成立させるために戦いました。そして今では、6時間労働を獲得した人もいます。しかしながら、6時間労働になった人たちは別の仕事もしており、結局は以前よりも長時間働いています。なぜか?バイク、車、などのリポ払いやローンを支払わないといけないのです。毎月2倍働き、ローンを払って行ったら、いつの間にか私のような老人になっているのです。私と同じく、幸福な人生が目の前を一瞬で過ぎてしまいます。

そして自らにこんな質問を投げかけます。

それが人類の運命なのか?

私の言っていることはとてもシンプルなものです。発展は幸福を阻害するものであってはいけないのです。発展は人類に幸福をもたらすものでなくてはなりません。愛情や人間関係、子どもを育てること、友達を持つこと、そして必要最低限のものを持つこと。これらをもたらすべきなのです。

幸福が私たちのもっとも大切なものだからです。環境のために戦うのであれば、人類の幸福こそが環境の一番大切な要素であるということを覚えておかなくてはなりません。

ありがとうございました。

(terjemahan oleh Ahmad Dahidi)

Saya sampaikan terima kasih kepada para delegasi yang hadir di tempat ini, secara khusus rasa terima kasih ini saya sampaikan kepada yang mulia Presiden Brazil Dilma Roussef yang telah mengundang saya pada pertemuan puncak ini. Juga, saya sampaikan terima kasih kepada para pemakalah yang telah menyampaikan gagasan atau idenya tadi dengan sangat hebat. Kepada para delegasi dari berbagai negara, pada kesempatan yang baik ini izinkalah saya menyampaikan pemikiran sederhana untuk bahan diskusi antar negara peserta yang sangat penting untuk kelangsungan hidup umat manusia.

Pertama ada sebuah pertanyaan yang selalu menjadi pikiran saya dan mungkin pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang harus dipikirkan dengan serius.

Sejak pagi hingga saat ini telah didiskusikan berbagai hal permasalahan dunia, terutama masalah yang berkaitan dengan kemiskinan, lalu upaya upaya untuk mengembangkan dunia yang berkelanjutan. Sebenarnya apa, yang saya maksud dengan pertanyaan sederhana itu?. Pertanyaan yang saya maksud adalah apakah kita perlu meniru model model konsumtif dan mengikuti negara negara yang konon termasuk negara kaya? Sebagai ilustrasi, apa yang terjadi, seandainya setiap keluarga atau setiap orang orang India mempunyai mobil seperti halnya orang Jerman, yg konon di Jerman jumlah penduduknya sama dengan jumlah banyaknya mobil atau setidaknya di Jerman setiap keluarga pasti mempunyai mobil.

Apakah oksigen yang sangat diperlukan untuk kita hidup ini akan mencukupi dan akan tersisa? Dengan pertanyaan lain, seandainya masyarakat Eropa yang sudah disebut merupakan masyarakat yang kaya itu berjumlah pendudukan hingga 7 sd.d. 8 milyar, apakah bumi ini masih ada? Atau manusia itu masih bisa hidup di muka bumi ini? Apakah mungkin terjadi atau itu hal yang mustahil?

Mengapa kita membentuk masyakarat dunia yang demikian? Anak anak kita yang hidup di market ecomomy dunia dan alam liberalisme, yaitu tanpa disadari kita sudah menciptakan dunia yang tidak terbatas dalam petumbuhannya dan dunia yang konsumtif. Ekonomi global telah menciptakan masyarakat berekonomi global pula, globalisasi yang terjadi saat ini, apakah nantinya akan menciptakan masyarakat yang mampu mempertahankan kekayaan bumi untuk kelangsungan bumi ini?

Apakah kita mampu untuk mengontrol globalisasi? Atau sebaliknya justru fenomena globalisasi itulah yang akan mengontrol kehidupan kita?

Di dalam kehidupan masyakarat ekonomi dunia ini, yang tidak jarang mengakibatkan peperangan yang sangat kejam hingga saat ini, namun hampir semuanya selalu menyerukan “ mari kita membangun dunia yang penuh damai atau membangun dunia ini supaya lebih baik”, apakah wacana seperti itu bisa terwujud dengan kondisi dunia yang selalu dilanda peperangan? Sampai kapan kita itu disebut teman atau kawan?

Saya sampaikan pertanyaan ini, bukan bermaksud untuk mengkritik pentingnya pertemuan puncak Rio ini. Justru sebaliknya. Sebenarnya bahaya yang besar yang harus kita pikirkan itu bukan masalah lingkungan yang sedang kita hadapi. Saya kira masalah yang timbul disebabkan adanya masalah politik.

Dewasa ini, Kita tahu sangat sulit mengontrol perubahan yang besar atau kecil yang terjadi saat ini yang ujung ujungnya berpengaruh dalam kehidupan umat manusia. Sebaliknya, justru seharusnya manusia itulah yang harus mampu mengontrol berbagai perubahan masyarakat dunia ini. Kami, kita bukan harus lahir ditengah tengah gemerlapnya pertumbuhan dunia tsb. Kita hidup di bumi ini dalam rangkat mencari kebahagiaan. Kita hidup berupaya untuk mencapai kebahagiaan. Kita hidup tidak lama, kehidupan ini telah tampak di depan mata, suatu saat akan hilang atau berlalu begitu saja. Tidak ada kehidupan yang sangat berharga kecuali nyawa ini.

Apakah kita sadar betul akan keterpurukan lingkungan yang tidak baik ini?

Ini diakibatkan masalah politik sehingga kita perlu mengarahkan dunia ini berdasarkan metode yang beragam sesuai dengan tingkat permasalahan yang terjadi. Saya bukan menuntut harus kembali ke zaman batu. Intinya saya menekankan bahwa kita harus mampu mengontrol perubahan zaman ini. Menurut hemat saya, alat yang mampu mengontrolnya adalah kekuatan politik.

Nenek moyang kita, hingga bangsa…. pernah menyatakan demikian. “ yang disebut orang miskin itu adalah bukan orang yang tidak mempunyai barang atau orang yang memiliki kekayaan yang sedikit, tapi orang miskin itu adalah orang yang tamak, orang yang mempunyai keinginan yang serakah sehingga tidak puas puas atau orang yang tidak merasa puas atas kekayaannya itu”.

Pepatah ini merupakan sebuah wejangan dan merupakan kata kunci (nilai kebudayaan) yang mesti didiskusikan oleh kita.

Saya datang ke sini dan menghadiri pertemuan puncak Rio ini dalam rangka mewakili perasaan negara saya. Mungkin saja intisari pidato saya ini banyak orang yang sakit telinga atau tersinggung, sebenarnya masalah globalisasi itu tidak semata mata masalah lingkungan dan masalah alam. Itulah yang ingin dipahami oleh hadirin semua.

Masalah yang mendasar adalah harus dibuat model yang diwujudkan oleh kita.

Tentunya upaya yang mendasar itu adalah kita harus memperbaharui pola hidup kita. Saya adalah salah seorang perwakilan dari negara kecil yang sangat makmur akan kekayaan alam. Negara saya hanya berpenduduk 3 juta orang. Meskipun kecil, tapi di negara saya hidup sebanyak 13 juta ekor sapi yang sehat. Kambing dan biri biri ada 800 ribu hingga 1 juta ekor. Negara saya banyak ekspor makanan. Meskipun negara kecil, akan tetapi 90% adalah kekayaan alam yang sangat subur.

Para buruh di negara saya, mereka berperang dengan waktu, kira kira 8 jam mereka bekerja. Tapi sekarang ada pula yang bekerja 6 jam. Orang yang bekerja 6 jam itu, karena ada pekerjaan yang lain. Kenyataannya justru mereka mampu bekerja lebih lama. Mengapa demikian? Sebab mereka harus mencari uang tambahan untuk membayar cicilan mobil, cicilan rumah, motor, dll. Setiap bulan harus bekerja dua kali lipat. Kalau kehidupan kita seperti itu, yaitu dituntut harus membayar pinjaman, kemungkinan besar tanpa disadari, tahu tahu kita sudah tua. Sama dengan saya, tahu tahu masa muda atau masa hidup bahagia yang jelas tampak di depan mata kita itu, terlewatkan begitu saja tanpa kita sadari.

Apakah itu nasib umat manusia di muka bumi ini? Ini pertanyaan yang sangat sederhana. Perkembangan atau pertumbuhan dunia yang terjadi, jangan sampai menjadi bumerang bagi kehidupan umat manusia. Perkembangan itu atau pertumbuhan itu harus berorientasi pada kebahagiaan umat manusia. Cinta kasih, hubungan manusia, kita membesarkan anak anak kita, memperbanyak pertemanan, dll., itulah kata kunci yang harus menjadi pondasi kita dalam menata dunia ini dan itu sangatlah penting. Inilah upaya kita yang harus ditumbuhkembangan saat ini dan di masa yang akan datang.

Kebahagiaan adalah aspek maha penting dalam kehidupan kita ini. Kalau memang kita berperang dengan masalah lingkungan, jangan sampai dilupakan bahwa lingkungan yang maha penting itu adalah kebahagiaan umat manusia. (Terima kasih).

Itulah pidato presiden yang sangat bermakna dan perlu direnungkan dan dipikirkan oleh kalian. Mengapa kalian bukan kita?  Sebab perjalan kalian masih jauh dan menjanjikan. Seandainya kalian saat ini berumur antara 18 s.d. 23 tahun, artinya dambaan Indonesia emas di tahun 2045 itu, sudah dipastikan umur kalian 45 tahunan. Umur masa masa produktif untuk membangun negeri ini. Saya yakin diantara kalian, mungkin ada yang berperan sebagai birokrat, sebagai guru, sebagai pengusaha, dan Aku yakin akan merambah ke segala bidang profesi. Terserah apa pun profesinya, ujung ujungnya adalah mencari satu muara yang disebutkan di dalam pidato mantan presiden itu adalah mencari kebahagiaan. Ya, kebahagiaan. Bagi kita – sebagai umat muslim, tentunya tidak hanya kebahagiaan duniawi,tapi mesti berusaha berimbang dengan persiapan  kebahagiaan akhirat. Dengan kata lain, kita sama sama berikhtiar dan berupaya untuk mencapai bahagia lahir dan bathin. Semoga!!!!!

Untuk sementara sekian dulu obrolan pagi ini. Semoga semuanya sehat dan sukses selalu. (Bandung, 11 Nopember 2017)

 

Pendidikan Bahasa Jepang
Translate »