Rizky Ramadhan, Mahasiswa Penerima UPI Student Achievement Award 2018

Rizky Ramadhan, mahasiswa DBPJ yang selalu rajin dalam mempelajari bahasa Jepang dan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan ini akan bercerita tentang mengapa ia terpilih menjadi salah satu penerima penghargaan UPI Student Achievement Award 2018. Semoga tulisan Rizky-san dapat dijadikan motivasi bagi para kohai-nya untuk mengikuti jejak sempai-nya ini telah mengukir prestasinya. Mari kita simak.

Aktif di Organisasi dan Tetap Berprestasi!

“Bahasa Jepang”一Entah apa yang ada di pikiran saya pada masa SMA dulu, hal ini yang membuat saya melenceng dari apa yang saya inginkan. Sejak SMP, saya memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap kebahasaan, khususnya bahasa Inggris. Tepat ketika saya mengenyam pendidikan di SMA Negeri 10 Bandung, saya berkeinginan untuk memantapkan kemampuan bahasa Inggris saya. Namun, ada mata pelajaran yang sangat menarik bagi saya untuk dipelajari selain bahasa Inggris, yakni Bahasa Jepang. Ketika diperkenalkan mengenai mata pelajaran tersebut maka saya memilih untuk mengambil jurusan Bahasa. Bermodalkan rasa keingintahuan yang tinggi, bahasa yang dikenal rumit itu saya pelajari sedikit demi sedikit bahkan sebelum Kegiatan Belajar-Mengajar  (KBM) secara resmi dilaksanakan pada waktu itu.

Singkat cerita, saya semakin merasa mantap dengan bahasa J

Foto 1. Sertifikat Juara  di masa SMA

epang dibandingkan dengan bahasa Inggris. “It’s my new passion”, begitu yang ada di pikiran saya saat itu. Banyak hal-hal baru yang saya dapat dari pembelajaran di sana, terutama budaya. Sempat juga saya diperkenalkan tentang Shuuji (Kaligrafi Jepang), namun sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk melakukannya. Kemampuan saya yang terbilang cukup memuaskan membawa saya ke berbagai kompetisi kemampuan bahasa Jepang (biasa dikenal “Kana Contest”) yang diselenggarakan di Bandung. Sayangnya, saya terlalu naif dan akhirnya gelar juara tak satu pun saya raih. Ada satu momen yang membuat saya lebih termotivasi untuk belajar lebih, yaitu gelar Juara Harapan 3 Lomba Uji Kemampuan Bahasa Jepang pada Bunkasai ke-16 tingkat SLTA se-Jawa Barat pada dua tahun lalu.

 

Meski tak seberapa, ini merupakan bukti bahwa ternyata saya berhasil meskipun sedikit. Setelah itu, saya memilih untuk rehat dari berbagai kompetisi bahasa Jepang hingga lulus dan memutuskan untuk mengasah lagi kemampuan saya terlebih dahulu.

Alhamdulillah, diterimanya saya sebagai mahasiswa di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI melalui jalur SNMPTN membuka gerbang ilmu yang lebih luas lagi bagi saya dan disitulah awal saya memutuskan untuk tetap menekuni bahasa Jepang. Hingga saat ini saya masih tetap belajar bahasa Jepang dengan giatnya. Saya masih memposisikan diri sebagai seorang pecundang di antara teman-teman saya yang pandai bahasa Jepang. Bukan merendahkan diri saya, melainkan merendahkan hati saya. Ketika seseorang memiliki ilmu, terkadang dia merasa besar padahal ilmu yang dia miliki hanya secuil. Sejatinya ilmu lebih besar daripada apa yang dia punya. Berangkat dari perkataan itu, terciptalah saya yang seperti sekarang ini.

Di samping kegiatan akademik, saya juga merupakan anggota aktif Himpunan Mahasiswa Bahasa Jepang (Himabaja).

Foto 2. Ketika Memberikan Orasi di Acara Makrab 2018.

 

 

 

 

 

 

Pada awal menjadi bagian dari Himabaja, saya memilih untuk masuk di bidang Benkyoukai pada pilihan pertama dan dengan isengnya memilih Shuujikai pada pilihan kedua. Dengan harapan saya akan diterima di Benkyoukai, ternyata kenyataannya saya diterima di Shuujikai. Meski agak kecewa, saya meyakini ada hal yang akan saya hasilkan dari Shuujikai. Bersama dengan kedua teman sekelas saya di SMA dulu, yakni Fajri dan Riski Destari, yang notabene memiliki kemampuan Shuuji yang lebih hebat apabila dibandingkan dengan saya, kami mulai belajar lebih mengenai Shuuji. Saya tidak pernah menyangka ternyata menulis kaligrafi Jepang lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang terlihat. Posisi duduk harus benar, cara memegang kuas pun tak sembarangan, bahkan menulis garis pun ada tekniknya. Tepat setelah secara resmi menjadi anggota Shuujikai, saya bersama teman-teman lebih menekuni Shuuji dan benar saja, kami memborong piala Shuuji Contest tingkat regional di Bunkasai ke-44 di Unpad pada bulan Mei lalu, dengan saya sebagai gelar Juara 2. Siapa sangka, hal yang sama sekali tidak menarik bagi saya pada masa SMA dulu justru merupakan hal yang membawa saya menjadi gelar juara. 

Foto 3. Salah Satu Karya yang Membawa Saya menjadi Gelar Juara

Beberapa bulan setelahnya saya menerima penghargaan dari UPI dalam kegiatan “UPI Student Achievement Award 2018” yang diselenggarakan pada bulan Oktober lalu. Sejauh yang saya tahu, kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan dari universitas atas prestasi-prestasi yang diraih oleh mahasiswa-mahasiswa UPI pada Mei 2018 hingga Oktober 2018 mulai dari tingkat regional sampai internasional. Tentunya ini merupakan motivasi besar umumnya untuk mahasiswa-mahasiswa UPI untuk meraih prestasi dari apa yang kita tekuni dan khususnya untuk saya sebagai penerima penghargaan untuk lebih berprestasi lagi.

 

 

 

Akhir kata, apa yang telah saya raih merupakan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga doa serta dukungan dari orang tua, kerabat, teman-teman, dosen, dan berbagai pihak lainnya. Berbagai ilmu yang telah saya dapat, sebisa mungkin saya bagikan kepada kawan-kawan dan adik-adik saya di Shuujikai. Meskipun saya tahu bahwa mereka memiliki jalan hidup mereka sendiri, setidaknya mereka dapat mengambil manfaat di dalamnya. Karena rezeki datang kepada seseorang dari arah yang tak pernah kita duga. Hal yang mungkin kita anggap remeh, akan membawa kita kepada hal yang besar. Terus belajar!

Biodata Penulis,

Nama Lengkap            : Rizky Ramadhan ([email protected] / [email protected])

Angkatan                    :  2016

Mata Kuliah Favorit   : Hyouki

Cita-cita Pekerjaan     : Guru/Dosen

Foto 4. Pemenang Lomba Shuuji Bunkasai ke-44 beserta Senseigata

Demikian cerita dari Rizky-san. Dapat kita rasakan semangatnya ya. Yang bisa kita ambil pelajaran dari Rizky adalah strategi dalam memfokuskan pembelajaran dan sikapnya yang berambisi namun tidak melupakan sikap rendah hati. Untuk mendapatkan usaha yang maksimal ternyata kita perlu fokus pada satu-satu target yang kita tetapkan. 

Tetap semangat buat semuanya!