Kali ini admin akan mengenalkan alumni Departemen Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia yang dulunya bernama IKIP Bandung angkatan 1995, bernama Rina Matsubara. Atas dasar sempai kouhai, kita panggil Teh Rina supaya lebih akrab. Melalui hasil obrolan per telepon online bulan lalu, admin merangkumnya menjadi 3 artikel, yaitu ; 1.Teh Rina, Jepang dan Daun Bawang, 2. Pertanian di Jepang dan Pekerja Indonesia di Mata Teh Rina, 3. Teh Rina, Petani dan Mimpinya Keliling Dunia.

Kali ini akan ditampilkan tema pertama yaitu Teh Rina, Jepang dan Daun Bawang.

Teh Rina, orang Garut yang pergi merantau ke Bandung untuk kuliah pendidikan bahasa Jepang di IKIP (Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan) pada tahun 1995. Impian setiap mahasiswa yang belajar saat itu adalah kuliah ke Jepang untuk mengasah kemampuan berbahasa Jepang selama 1 tahun dengan beasiswa Mombukagakusho, yaitu sebuah beasiswa dari Kementrian Pendidikan Jepang. Salah satu program beasiswanya ada yang namanya program Japanese Studies yaitu program beasiswa yang ditujukan untuk mahasiswa yang belajar bahasa Jepang di seluruh dunia termasuk Indonesia. Ketersediaan jumlah penerima beasiswa yang sedikit membuat para mahasiswa jurusan bahasa/sastra Jepang se-Indonesia bersaing ketat mendapatkan beasiswa tersebut. Hanya sekitar 10 orang setiap tahunnya yang bisa berangkat dengan beasiswa tersebut. Teh Rina berhasil mendapatkan beasiswa mombukagakusho ini pada tahun 2000, setelah setiap tahun Teh Rina selalu mengikuti ujian seleksinya tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya saat Teh Rina tingkat 4, kabar baik menghampiri. Teh Rina dinyatakan lulus untuk kuliah di Toyama University mulai bulan Oktober 2000.

Selama 1 tahun kuliah di universitas tersebut, Teh Rina mengikuti semua mata kuliah yang terkait dengan kejepangan dengan tekun. Di sela kesibukannya belajar di kampus, suatu hari Teh Rina menemani temannya yang ikut lomba pidato berbahasa Jepang tingkat Kota Himi, Prefektur Toyama. Saat itu kebetulan ada seorang laki-laki Jepang yang sedang bertugas mendokumentasikan acara tersebut. Dan sepertinya laki-laki Jepang tersebut tertarik dengan Teh Rina, sampai ketika Teh Rina pulang ke Indonesia pada bulan September 2001, orang Jepang tersebut berkunjung ke Indonesia dan melamar Teh Rina. Tidak lama kemudian di bulan Desember di tahun yang sama menikahlah Teh Rina dengan orang Jepang tersebut, sehingga Teh Rina menjadi bermarga Matsubara. Wah begitu kuatnya pesona Teteh ini di mata orang Jepang ya. Hidup memang terkadang banyak hal yang tak terduga.

Suami Teh Rina ini berasal dari keluarga petani daun bawang yang dalam bahasa Jepang disebut negi. Setelah menikah Teh Rina pindah ikut suaminya ke Toyama, Jepang. Membantu keluarga suami bertani, awalnya dikira merupakan hal yang mudah, hanya menjadi mandor, mengawasi pekerja saja. Tapi ternyata melihat suaminya, mertuanya ikut serta bertani, membersihkan rumput di ladang yang cukup luas bersama pekerja lainnya, bahkan lebih giat suami dan mertuanya daripada para pekerjanya, membuat Teh Rina yang awalnya bermalas-malasan menjadi ikut bersemangat bertani. Teh Rina pernah bertanya kepada suaminya “Kenapa kita harus turun tangan ke ladang untuk bertani? Kan kita sudah rekrut orang untuk mengerjakannya. Kita tinggal santai ngamandoran.“ Suaminya menjawab, “Tanaman itu mahluk hidup. Kita berharap kesuksesan dari tanaman tersebut, itu tidak mungkin mereka tumbuh baik kalau kita tidak merawatnya dengan tangan kita sendiri. Jadi kitalah yang harus lebih-lebih giat daripada karyawan kita. Kitalah yang harus tahu dengan tanaman kita.” Demikian begitu bijaknya pemikiran suami Teh Rina. Apakah ini karena dia orang Jepang atau prinsip dia pribadi saja? Yang pasti patut kita tiru ya untuk hal apapun. Tidak menyerahkan pekerjaan pada orang lain dengan mudahnya. Usahakan dengan tangan kita sendiri maka balasan terbaik akan datang.

Sayuran apa sih yang utamanya ditanam oleh Teh Rina dan keluarganya? Daun bawang dengan merek dagang Matsubara Nouen.
Daun bawang ini banyak digunakan dalam masakan Jepang, seperti yakitori (sate ayam dengan selingan batang bawang daun), masakan rebusan, atau masakan tumisan. Yang menarik, berbeda dengan di Indonesia, Daun bawang di sini lebih banyak memakai bagian putih yang dekat dengan akar daripada bagian daunnya. Bahkan ada ketentuan bahwa panjang bagian putihnya daun bawang yang dapat dijual, yaitu 28-30 cm. Untuk daun bawang yang panjangnya kurang dari itu, tidak dapat dijual ke pasaran. Begitu ketatnya pelayanan terhadap konsumen di Jepang. Daun bawang yang rasanya begitu manis menjadi sayur favorit dimanapun, dan berkat kerja keras Teh Rina bertani bersama keluarganya membuat Teh Rina dan keluarga hidup dalam kemakmuran tak jauh berbeda dengan pekerja kantoran. Yang paling penting adalah usaha dan kerja keras yang akan membuat hidup kita makmur, demikian Teh Rina menegaskan ceritanya.

Bagaimana sistem pertanian di Jepang, admin akan tampilkan cerita lebih detailnya pada artikel ke-dua yaitu “Pertanian di Jepang dan Pekerja Indonesia di Mata Teh Rina”

Teh Rina yang selama kuliah di IKIP Bandung / UPI memiliki beberapa dosen favorit seperti ; Bu Neneng, Pak Sugih, Pak Aep dan Bu Popi. Teh Rina menyampaikan salam kepada seluruh dosen yang bekerja saat ini di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang(DPBJ) UPI dan mengucapkan terima kasih atas bimbingannya selama kuliah.

Begitu senangnya admin dapat mendengar cerita yang banyak menginspirasi dari Teh Rina ini. Teh Rina yang selalu ceria menceritakan apapun dengan bersemangat. Ditunggu artikel berikutnya ya.

 

 

Pendidikan Bahasa Jepang
Translate »